A Night of Hell Hunters
Bangunan bekas rumah sakit itu terbakar. Tampak dua orang berlari di dalamnya, menyusuri lorong yang panas oleh hawa api, menuju pintu keluar. Mereka sedang dikejar oleh sesuatu.
“L’Nax, bersiaplah memanggilku Yang Terhormat Tuan Putri Valleris…”
“Tidak…dan takkan pernah…jangan harap…”
“Ahh…kau hanya takut mengaku kalah pada perempuan…”
“Hei…ini bukan masalah gender…ini hanya…,”
“Nah, benar kan…kau memang meremehkan perempuan…Padahal aku sudah lebih banyak menghancurkan mereka daripada dirimu…”
“Sudahlah…lupakan soal taruhan. Robot iblis yang mengejar kita itu…kau menyisakannya…dan sekarang ia sangat terobsesi membunuh kita…”
“Aku sudah lelah berlari…kita habisi saja dia…”
“Amunisiku habis…kenapa tidak sekalian kau saja yang memusnahkannya ?”
“Oh, akhirnya kau menyerahkannya padaku…hi hi hi…bagaimana kalau kita bermain kembang api…”
“V-Val…jangan…jangan sedikit pun berpikir untuk…”
“Lihat saja…”
“Tungguuu !!!”
Perempuan bernama Valleris itu melempar benda kecil berbentuk tabung yang dimilikinya ke arah belakang. Melayang di udara dan akhirnya jatuh di depan robot berujud banshee yang mengejar mereka berdua.
Nnnn… robot banshee itu mengamati benda yang jatuh di hadapannya. Matanya baru saja menganalisis, ketika tabung kecil itu mengeluarkan cahaya dan…api yang membakar bangunan itu pun bertambah besar.
Kedua orang tadi berhasil keluar sebelum ledakan terjadi. Mereka kini terduduk kelelahan. Mencoba mengatur nafas yang tak beraturan seraya memandangi gedung rumah sakit tua tersebut habis dilalap api.
“Val…sekali lagi, kau hampir membunuh kita berdua…hhhh…hhhh….,” ucap L’Nax.
“Tak ada terima kasih ? Bahkan robot itu hampir menjadikanmu mainannya…,”sahut Valleris, atau biasa dipanggil Val. Ia membersihkan baju seragamnya yang kotor karena serpihan ledakan.
“Tapi…kau memang harus lebih hati-hati…setidaknya jangan sampai kita terluka karena senjata kita sendiri…,” L’ Nax mencoba menasehatinya.
Val hanya mengangguk. Ia bosan diceramahi rekannya itu.
Hell Hunter unit 2…Hell Hunter unit 2…ini Komandan Will…bagaimana kondisi kalian….
L’Nax melihat alat berbentuk segi empat, yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Seperti jam, tapi lebih besar. Alat tersebut adalah sebuah communicator.
Seseorang memanggil mereka melalui communicator. Wajahnya dapat terlihat di monitor alat itu. Seorang laki-laki 50-an tahun, dengan kumis tebal.
“Komandan Will…Hell Hunter unit 2 telah menyelesaikan misi…Tidak ada korban di sini…,” jawab L’Nax.
Bagus…kerja kalian sangat bagus..
“Komandan…. bagaimana Hell Hunter lainnya ?” tanya Val, melalui alat milik rekannya itu. Communicator-nya sendiri rusak dalam pertempuran sebelumnya.
Mereka baik-baik saja, sama seperti kalian…
“Berapa lama kami harus menunggu pesawat penjemput ?” tanya L’Nax pada komandannya.
Pesawat penjemput mengalami sedikit gangguan teknis…kalian harus menunggu sekitar 60 menit…
“Baiklah, Komandan…” L’Nax agak berat hati mengenai waktu 60 menit itu.
L’Nax…Val…. gunakan apa saja yang ada untuk bertahan…keselamatan kalian adalah prioritas…Tunggu kontak selanjutnya dari kami…Semoga berhasil…
Komunikasi dengan komandan berakhir. L’Nax menutup layar monitor kecil itu.
“Kesunyian seperti ini…lama sekali tak kurasakan…,” Val memandangi kota mati tempatnya berada sekarang. Berada di dekat gurun, kota itu tampak semakin sunyi. Apalagi saat itu hari sedang malam.
“Betul…seperti film-film horor, eh ?” L’Nax menghisap cerutunya yang sudah dinyalakannya.
“Huh…masih kurang horor bagiku…” Val ikut duduk di samping rekannya.
“Val, apa yang masih kau miliki ?”
“Amunisi senapanku masih cukup… selain itu ada pisau laser ini…lalu…” Val memeriksa senjata yang masih dimilikinya. “…kurang ajar, aku kehabisan granat…”
“Tampaknya ekspedisi pembersihan cyber hell kali ini paling berat dibanding sebelumnya…,” L’Nax menghembuskan asap cerutunya. Ia melihat senapannya. Amunisi senapan : nol…
Lalu ia melihat rompi seragamnya. Pisauku hilang terjatuh tadi …jadi tinggal tiga buah granat ini…astaga…
“Cy-hell itu…sampai kapan kita harus melawannya ?” tanya Val.
“Entahlah…10, 100, atau mungkin 1000 tahun lagi…,” L’Nax tersenyum kecut. “Saat ini, satu hari pun terasa begitu lama. Kita seolah-olah telah melakukan ini untuk selamanya…”
“Apa yang dipikirkan orang-orang pintar di jaman dulu ?” Val melempar batu di dekat kakinya ke arah bangunan rumah sakit yang terbakar tak jauh di depannya itu. Tidak sampai. “Mereka seenaknya membuat monster-monster itu.. huhh !!”
“Para ilmuwan itu, ya ? Mereka tidak pernah merasakan nikmatnya cerutu…karena itulah mereka menjadi gila…” L’Nax tertawa keras.
“Kau yang gila…”
“Hei…tidak ada yang lebih gila daripada kau, Nona Sok Tangguh…” L’Nax tertawa lagi.
Rumah sakit yang terbakar itu seperti api unggun saja bagi kedua orang itu.
L’Nax menatap jamnya. Masih lama…
“Hei, Kawan…,” Val membuka ikat rambutnya. Membiarkan rambut lurusnya yang hitam legam tergerai hingga ke bahu. “Apa yang akan kau lakukan seandainya kau sudah berhenti dari semua ini ?”
“ Kembali ke tempat asalku dan menjadi penjual cerutu nomor satu…” jawab L’Nax mantap. “Aku tinggal memasok cerutunya dari kenalanku di sana…atau mungkin aku akan membuatnya sendiri…
Val menatap wajah L’Nax. Maniak cerutu…
“Rencanamu sendiri ?” L’Nax ganti bertanya.
“Aku…” Val memikirkan jawabannya.
“Hei…sebaiknya kau mencari pemuda yang mengerti dirimu…dan menikahinya…he he…” wajah L’Nax seperti mencemooh Val.
“Menikah ? Tidak…aku tidak suka dengan ikatan…” Val menggelengkan kepala. “Selain itu…aku benci dengan hal yang berbau cinta…”
“Wohoo…jangan bicara sembarangan tentang itu…” sahut L’Nax.
“Lihatlah dunia saat ini ! Justru wanita seperti aku inilah yang lebih dibutuhkan…” Val bangkit berdiri. Berjalan beberapa langkah lalu berbalik, menghadap L’Nax.
“Daripada menghabiskan waktuku untuk urusan cinta…lebih baik aku membasmi robot-robot iblis itu…dan mengubah wajah dunia…,” Val menatap langit kelam di atasnya. Tak ada bulan maupun bintang.
“Tapi Val…andai semua cy-hell itu telah lenyap…apa yang akan kau lakukan ?” L’Nax menghembuskan asap cerutunya ke atas.
“Kehangatan saat pulang ke orang-orang yang kita sayangi…” L’Nax meneruskan perkataannya. “ …itulah satu-satunya hal yang membuat semua usaha kita selama ini terasa bermakna… setidaknya begitu menurutku…”
Pulang…aku juga ingin pulang…tapi ke mana ? Val merenung mendengar ucapan rekan prianya itu.
L’Nax melihat jamnya lagi. Masih belum juga.
Pipp…pipp !!
Tiba-tiba communicator L’Nax berbunyi. Ia segera melihatnya. Alat tersebut juga bisa berfungsi sebagai radar.
“Ada apa ? ” Val penasaran karena muka rekannya tampak pucat.
“Cy-hell…mereka berada tidak jauh dari tempat kita…dan cukup banyak…,” L’Nax bangkit berdiri. Membuang cerutunya.
“Apa ?! Tidak mungkin !! Kita sudah memusnahkan mereka tadi, sesuai dengan jumlah yang terdeteksi oleh markas !” Val tidak percaya.
L’Nax memposisikan lensa infra merah yang terhubung dengan ear phone di telinga kirinya. Berusaha memperjelas penglihatannya. Val melakukan hal serupa.
“Val, kita harus mencari tempat yang lebih aman…” L’Nax beranjak berjalan.
“Hei…ke mana kita pergi ?” Val mengikutinya. “Yang ada di sini hanya bangunan tua yang sudah rapuh. Tidak ada tempat yang bagus untuk berlindung…”
“Aku punya ide…untuk itu kita harus mencari tempat yang lebih lapang…”kata L’Nax.
Mereka meninggalkan lokasi rumah sakit tadi. Berjalan menyusuri jalan kota itu. Untuk berjaga-jaga, mereka sengaja tidak menghidupkan lampu yang terpasang di bahu rompi.
“L’Nax…di mana posisi cy-hell itu ?” tanya Val. Lewat lensa infra merahnya ia melihat rumah, bar, dan salon tua di sepanjang jalan itu. Ia sempat melihat sesuatu lewat jendela salon itu. Ternyata hanya sebuah manekin.
“Mereka…masih di luar area kota. Tapi mereka terus bergerak ke mari…” L’Nax melihat jamnya juga. Sial…lama sekali…cy-hell itu akan sampai di sini sebelum pesawat tiba…
Akhirnya mereka menemukan tempat yang dicari. Sebuah persimpangan jalan yang cukup besar, dengan bundaran bekas air mancur di tengahnya. Sepertinya area pusat dari kota ini. Cukup lapang sesuai harapan L’Nax.
“Val…aku meminjam senapanmu…” kata L’Nax.
“Harusnya kau lebih menghemat amunisimu,” Val mengulurkan senapannya.
L’Nax menerima senapan itu lalu mengambil dua buah granatnya dan memberikannya pada Val. Menyisakan sebuah di wadah rompinya.
“Hah ? Apa ini ? Kenapa kau memberikan granatmu ?” Val menerima granat-granat itu dengan bingung.
“Aku akan memancing para cy-hell… di dekat bekas air mancur itu. Kau…sembunyi dan lempar mereka dengan granat itu pada waktunya…”jelas L’Nax.
“Aku boleh melemparnya sesukaku kali ini ?” Val tersenyum.
“Terserah…” L’Nax berjalan menuju tengah bundaran.
Val memeriksa sekeliling. Ia menemukan tempat untuk bersembunyi di sebuah lorong kecil.
Ayo…di mana kalian… L’Nax menyalakan lampu di rompinya, agar lokasinya diketahui para cy-hell.
L’Nax menerapkan salah satu aturan yang harus diingat oleh seorang Hell Hunter. Sekali mereka mendeteksi keberadaan cy-hell di radar, berarti keberadaan mereka sendiri juga sudah terdeteksi oleh robot-robot iblis itu. Dan mereka akan masuk ke kondisi yang tidak mengenakkan. Memburu atau diburu.
Baik Val maupun L’Nax sama-sama tegang.
Eaarrghh…eaaarrghh…!!
Terdengar suara para cy-hell. Suara yang lebih menyerupai rintihan itu memecah kesunyian kota dan meningkatkan adrenalin kedua Hell Hunter.
Tipe Banshee…seperti yang kami hadapi sebelumnya… pikir L’Nax. Ia menghadap ke arah barat, ke sumber suara tersebut.
Val, yang bersembunyi tidak terlalu jauh di belakangnya, menyiapkan granat-granatnya.
Eaarrghh…eaarrghh…!!
Dan, dalam kegelapan malam itu, akhirnya muncullah para cy-hell yang telah ditunggu.
Melayang pelan di atas bangunan-bangunan tua di bawahnya, robot-robot berujud banshee – hantu perempuan – itu terus mengeluarkan suara rintihan. Mereka mengincar sumber cahaya di dekat bundaran air mancur.
“Ada 12…tidak terlalu banyak…” L’Nax bersiap-siap.
Para cy-hell itu mengeluarkan suaranya sekali lagi, sebelum akhirnya melayang turun, mengarah ke L’Nax. Kali ini gerakan mereka lebih cepat.
“Vaall !! Sekarang !!” L’Nax berbalik, berlari menuju Val.
Tanpa banyak bicara, Val keluar dari tempat persembunyiannya di lorong kecil itu. Ia berlari ke tengah bundaran.
Dengan kuat, Val melempar sebuah granat ke arah banshee-banshee yangterbang mengejar L’Nax itu.
L’Nax segera menjatuhkan diri ke tanah.
Granat itu mengenai para cy-hell…
…tapi tak terjadi apa-apa…
Para cy-hell berhenti sesaat. Mereka mengalihkan perhatiannya pada Val sekarang.
“Val !!! Lari !!” teriak L’Nax.
Siaall… Val tahu maksudnya. Ia segera berlari ke arah salah satu jalan.
Seluruh cy-hell itu kini mengejar Val.
“Keparat…robot pengeroyok !!” L’Nax segera berdiri. Ia menembakkan senapan mesinnya ke arah cy-hell yang mengejar rekannya.
Dua cy-hell rusak dan terjatuh terkena tembakan L’Nax.
Kesempatan... Val melempar satu lagi granatnya, mumpung gerombolan cy-hell itu tengah kebingungan karena ada dua manusia yang menjadi incaran.
Aneh. Sekali lagi tak terjadi apa-apa. Tapi Val tahu apa penyebabnya kini.
Salah satu dari cy-hell itu dengan cepat menangkap granatnya dan dengan cepat pula mengubahnya menjadi debu.
“Ternyata Brain…” gumam Val. Ia juga langsung mengerti kenapa para cy-hell itu bergerak bersama-sama terus dari tadi. Mereka mengikuti salah satu cy-hell yang memiliki kemampuan dan kepandaian lebih tinggi, yang disebut oleh Val sebagai Brain.
Brain yang menghancurkan granat Val tadi kembali menengok ke arah L’Nax.
Eaarrgghh !! Ia menjerit keras, kemudian dengan cepat terbang menuju lelaki itu. Cy-hell lain segera mengikutinya.
“L’Naax !! Ada Brain di antara mereka !!” Val berteriak ke arah L’Nax.
Namun rekan lelakinya itu tidak memperhatikannya. Ia terus menembakkan senjatanya ke arah cy-hell yang kembali menghampirinya lagi. “Datanglah ke papa !!”
Brain, yang terbang paling depan, entah bagaimana, melindungi cy-hell lain di belakangnya. Peluru-peluru senapan L’Nax hancur seperti debu begitu sampai di dekat tubuh logamnya.
“Arrgh…” tiba-tiba L’Nax sulit bernafas. Senapan itu terjatuh dari tangannya.
“Tidaaakkk !!” Val berlari ke arah L’Nax.
L’Nax mencoba untuk bernafas. Namun sulit. Ia tidak menduga, salah satu cy-hell tersebut bisa mementahkan semua tembakannya…dan kini mencekik lehernya dengan tangannya yang dingin.
Eaarghh !! Brain, yang tengah mencekik leher L’Nax menjerit. Tampaknya semacam perintah, karena setelah itu sembilan cy-hell lainnya terbang mengelilingi Val, seolah-olah mencegahnya untuk bergerak ke arah L’Nax.
Val tidak dapat mendekat. Robot-robot banshee itu melayang mengitari dirinya.
Dengan penuh kecemasan, Val menatap rekannya.
L’Nax menyadari kakinya sudah tak menapak tanah lagi. Cy-hell yang mencekiknya itu kini mengangkat dirinya. Dan cekikannya bertambah kuat. Wajah L’Nax makin memerah karena darah yang mengumpul. Ia berusaha melepas cengkeraman robot itu, tapi tidak bisa. Terlalu kuat.
L’Nax melihat wajah cy-hell di hadapannya. Robot tersebut memiliki wajah seperti perempuan dengan rambut panjangnya yang terbuat dari material sintetis.
Setiap saat, raut wajah cy-hell itu dapat berubah, menjadi mengerikan. Apalagi saat mereka memperlihatkan giginya yang, entah kenapa, berbentuk taring semua. Tubuhnya pun dibuat sedemikian rupa, hingga selintas mirip perempuan yang mengenakan gaun tidur.
Karena ujud keseluruhannya itulah, jenis cy-hell ini dijuluki tipe Banshee atau hantu perempuan dalam dongeng rakyat.
“M-manus-si-a…. m-ma-ti-lah…” cy-hell itu ternyata dapat berbicara.
Brain ? Akhirnya L’Nax sadar juga bahwa cy-hell yang mencekiknya adalah level Brain. Kemampuannya untuk berbicara adalah salah satu hal yang membedakannya dengan cy-hell biasa.
Si-sial… Tangan kiri L’Nax berusaha menggapai wadah di rompinya. Ia mengambil satu-satunya granat yang sengaja tidak ia berikan kepada Val tadi.
Ia menekan dan menahan sebuah tombol di granat tersebut dengan jarinya. Cahaya merah menyala dari tabung granat tersebut.
Val melihat cahaya yang kecil namun terang itu…menyala dari benda di genggaman L’Nax.
Itu…granat ? Val, yang mengerti benar perihal senjata, tahu arti cahaya merah itu. Biasanya untuk penggunaan biasa (dilempar), tabung granat tersebut akan mengeluarkan cahaya hijau. Namun bila yang menyala adalah cahaya merah berarti…kamikaze.
“L’Naax !! Jangan pernah berpikir untuk melakukannya !!” Val berusaha menerobos para cy-hell yang mengitarinya. Namun gagal. Robot-robot itu menghempaskannya jatuh ke tanah. Mereka sepertinya diperintah untuk sekedar menghalang-halangi Val. Tidak membunuhnya.
L’Nax menatap rekannya perempuannya itu dari kejauhan. Val…pesawat akan segera datang untuk menjemputmu…
Tangan kanan L’Nax dengan susah payah mengambil cerutu di kantung dadanya. Ia menahan sakitnya cekikan Brain yang makin kuat. Darah yang terhambat mengalir di otaknya, membuatnya merasa benar-benar pusing, seperti akan pingsan.
“Ma-ti….d-de-ngan…ter-sik-s-sa…” Brain memperkuat cekikannya sedikit demi sedikit. Sesuai dengan ucapannya, ia sepertinya bermaksud membunuh L’Nax dengan perlahan.
Val, menggunakan pisau lasernya, terus berusaha menerobos cy-hell yang menghadangnya. Ia ingin menolong L’Nax. Namun usahanya selalu gagal. Pisau lasernya bukan tandingan robot-robot banshee itu.
“L’Nax…kumohon…jangan…” Val, yang sudah kelelahan melawan cy-hell di sekelilingnya, mencoba untuk berdiri. Ia berbicara dengan L’Nax melalui alat di telinganya.
L’Nax mendengar lewat earphone-nya. Tapi ia sulit berbicara, karena cengkeraman Brain di lehernya.
Dengan susah payah…L’Nax mencoba meletakkan cerutu terakhirnya itu ke dalam mulutnya.
Val… aku ingin membuka toko cerutu…bersamamu…L’Nax menatap ke arah Val, berharap perempuan itu mendengar pikirannya.
Akhirnya L’Nax berhasil mengulum ujung cerutu itu. Sayang ia tidak dapat menyalakan dan menghisap kenikmatannya sekarang.
Eaarrghh !!
Brain menjerit lagi. Kali ini ia benar-benar memperkuat cengkeramannya di leher L’Nax. Sangat kuat. Melebihi batas ketahanan manusia.
“L’Nax !! Bertahanlah !!” suara Val terdengar di earphone L’Nax. Tapi tidak ada lagi yang bisa mendengar suara tersebut.
Cerutu itu terjatuh dari bibir L’Nax. Tangan kirinya melemas. Jari yang digunakan untuk menahan tombol di granatnya pun akhirnya terlepas.
Maniak cerutu… Wajah L’Nax yang sedang menghisap cerutu sambil tersenyum, mendadak terbayang di pikiran Val saat itu.
Semua seperti begitu cepat bagi Val. Ia bahkan tidak sempat memanggil L’Nax sekali lagi.
Cahaya merah itu makin terang, dan dalam sekejap tubuh Val terhempas oleh gelombang ledakan.
Granat di tangan L’Nax meledak. Menghancurkan tubuhnya sendiri, dan mungkin juga Brain beserta cy-hell lainnya.
Val jatuh pingsan.
Beberapa saat kemudian Val merasa sedikit tersadar. Dalam posisi masih terbaring, ia samar-samar melihat asap ledakan di sekitarnya. Kemudian ia kembali tak sadarkan diri.
Tak berapa lama, ia mengalami hal serupa. Kesadarannya sedikit pulih, dan samar-samar ia melihat sesuatu yang aneh di balik asap itu. Beberapa cy-hell ternyata masih hidup…tapi mereka segera berjatuhan…dan ia kembali tak sadarkan diri.
Untuk ketiga kalinya, ia kembali mengalami hal tersebut. Dengan sedikit kesadarannya, ia melihat satu sosok di hadapannya.
Masih samar-samar. Sosok hitam itu mendekat pada dirinya yang masih terbaring lemah. Ia mendengar sosok tersebut berbicara, meski kurang jelas : “Kau…begitu cantik…”
Kesadaran Val kembali hilang. Ia benar-benar tenggelam jauh di alam bawah sadarnya.
Cukup lama….hingga akhirnya sebuah sinar yang terang membangunkannya. Ia membuka matanya, dan melihat sumber sinar itu.
Menyeruak melalui kaca jendela, sinar matahari pagi menerangi kabin pesawat itu. Pesawat penjemput yang akhirnya membawa Val kembali. Meninggalkan kota mati di tengah gurun itu.