Di suatu tempat di galaksi yang jauh dari galaksi bimasakti, sebuah planet kecil seolah-olah menunggu dalam kesendirian. Berputar dan terus berputar pada orbitnya. Planet itu kesepian. Tidak ada kehidupan yang menemani keberadaannya. Yang ada hanyalah sebuah daratan besar dengan lautan luas mengelilinginya. Sunyi. Tak ada sedikitpun tanda-tanda peradaban. Bahkan bentuk kehidupan paling primitif pun tak dijumpai. Planet itu benar-benar sendiri. Menunggu detik-detik di mana ia harusnya berakhir menjadi seperti planet mati lain di sekitarnya.
Hingga suatu ketika datanglah mereka. Dari tempat yang jauh, melewati berbagai galaksi, akhirnya mereka menginjakkan kaki di planet ini. Mereka adalah makhluk-makhluk superior dengan segala kelebihannya. Termasuk ukuran fisiknya yang boleh dibilang raksasa. Pangeran Zellion dan 7 ksatrianya; Gallion, Aezerion, Senterion, DeRozzion, Nesterion, Garderion, dan Unorion. Jati diri mereka yang sebenarnya belum jelas.
Zellion menatap pemandangan di depannya. Daratan yang kering menghampar luas. Lebih menyerupai padang pasir tak bertuan. Ia menghirup nafas panjang. “Oksigen…makhluk dapat hidup di sini…,” Ujarnya. Ia membungkukkan badan, menyentuhkan tangannya ke permukaan tanah di daratan itu. Mencoba merasakan sesuatu.
“Pangeran, kita telah mengamati seluruh bagian planet ini…tapi tak ada satu pun tanda kehidupan…apakah Anda yakin ini tempatnya ?” tanya Gallion di sampingnya.
“ Kita tak pernah tahu…,” Zellion berkonsentrasi. Ia memiliki kemampuan istimewa yang berguna di saat seperti ini. Telapak tangannya yang menyentuh tanah bersinar terang. Demikian juga matanya. Ia mencoba berkomunikasi dengan planet ini.
“ Tolong aku…,” tiba-tiba terdengar suatu suara.
“ Siapa kau ?” tanya Zellion. Ketujuh ksatrianya pun tampak mencari-cari asal suara tersebut.
“ Aku adalah planet ini…Eternia…,” jawab suara tersebut.
“ Oh, jadi namamu Eternia,” usaha Zellion berhasil. “Kami datang dengan damai. Planet ini…kau…apa yang telah terjadi ?” Zellion kembali bertanya.
“Kehidupan datang dan pergi. Lahir dan musnah. Selalu berulang. Aku hanya bisa menyaksikan mereka berbahagia dan berperang di setiap saat. Kini aku sendiri, kesepian…” jawab Eternia dengan penuh kesedihan.
“Mereka ? Siapa maksudmu ?”
“Mereka adalah makhluk yang pernah hidup di sini. Mereka telah mencapai segalanya. Tapi semua tak ada artinya daripada nafsu mereka sendiri. Akhirnya semua yang telah mereka bangun dan ciptakan bersama-sama pun musnah tak tersisa…” Eternia mencoba menjelaskan.
“Oh jadi pernah ada bentuk kehidupan di sini…,”Zellion mencoba untuk mengerti. Sebelumnya ia juga menduga bahwa pasti terdapat sejarah kehidupan di planet ini karena adanya udara yang cukup mengandung oksigen di atmosfer.
“ Termasuk kau sendiri menjadi korban, Eternia…lihatlah, kerusakan yang terjadi pada setiap sisi dirimu. Menurut perhitunganku, tak lama lagi kau akan hancur. Lenyap dari alam semesta.” kata Zellion. Ia telah melihat bagaimana keadaan planet-planet lain sebelum hancur. Hal yang sama ia saksikan pada Eternia.
“Aku belum ingin hancur. Aku masih memiliki impian…” suara Eternia terdengar kembali.
“Apa impianmu, Eternia ?”
“Impianku adalah … menyaksikan kehidupan-kehidupan baru lahir, berkembang dan saling mencintai serta melindungi…,” kata Eternia.
“Eternia, sepertinya kami bisa berbuat sesuatu untuk menolongmu. Kami akan berusaha mewujudkan impianmu…untuk itulah kami ada di sini,” Zellion mengabulkan permohonan Eternia. “Sekarang, izinkan kami menggunakan sedikit kekuatanmu.”
“Terima kasih, Zellion. Gunakan impianku ini sebagai kekuatan sesuai keinginanmu…” suara Eternia kini terdengar penuh harapan baru. Harapan bahwa impiannya akan terwujud.
Zellion menyerap impian Eternia sesuai dengan yang diperlukannya. Ia lalu mengubahnya menjadi kekuatan dan membaginya kepada para ksatrianya.
“Para ksatriaku, kita telah mengetahui apa impian Eternia. Dan kita telah ditakdirkan untuk tiba di planet ini dan mewujudkan impian tersebut. Perjalanan kita selama ini akan berakhir di sini. Karena itu, kita kerahkan seluruh kemampuan kita untuk mewujudkan impian Eternia,” Zellion berbicara pada ketujuh ksatria pengawalnya.
“Pangeran, kami pun akan berusaha sekuat mungkin untuk melakukan hal tersebut,”kata Gallion, ksatria Zellion yang dianggap sebagai pemimpin di antara 6 ksatria yang lain.
“Baiklah, ayo kita mulai !!!”
“Ya !!!”
Dengan demikian dimulailah ’penciptaan’ di Eternia. Menggunakan impian Eternia, mereka mengeluarkan kemampuan yang dimiliki untuk menjadikan Eternia sebagai tempat yang penuh warna kehidupan…sekali lagi…
Senterion memperbaiki seluruh kerusakan yang terjadi di planet. Garderion memperluas daratan tunggal tersebut dan ’mengukir’ berbagai macam bentuk di atasnya. Gunung, perbukitan, dataran tinggi, dataran rendah, gurun, dan sebagainya mulai terbentuk. Kemudian Aezerion membagi secara adil daratan besar tersebut menjadi 6 benua utama beserta ribuan pulau-pulau kecil di sekitarnya, dan menyebarnya ke 6 lokasi yang terpisahkan oleh lautan. DeRozzion mengalirkan air dari lautan ke setiap benua dan membentuk berbagai macam perairan di daratan, sehingga terbentuklah sungai, danau, rawa, telaga, dan sebagainya. Unorion membentuk unsur-unsur yang penting sebagai sumber alam, baik di darat, air, maupun udara. Nesterion membentuk 4 macam musim yang akan muncul bergantian di setiap tempat. Setelah kondisi planet baik, Gallion menciptakan berbagai jenis binatang dan tumbuhan untuk mengisi seluruh tempat di Eternia ini. Dan yang terakhir, Zellion menciptakan ras manusia yang pertama, Celestian. Ia mewariskan kebijaksanaan, pengetahuan, dan kekuatannya pada mereka.
Saat semuanya telah selesai, Zellion dan anak-anaknya memperhatikan maha karya mereka. Kehidupan telah kembali di dunia ini. Di Eternia.
“Eternia, dapatkah kau melihat semuanya ? Maaf, kami hanya bisa berbuat sejauh ini. Kami tidak tahu apakah ini akan berlangsung sesuai impianmu atau malah sebalikya…” kata Zellion pada Eternia.
“Tidak apa-apa. Segala bentuk kehidupan ini akan belajar. Mereka akan menemukan jalannya dan menentukan masa depan mereka sendiri. Aku pun hanya dapat menjadi saksi dari kisah perjalanan mereka,” jawab Eternia. ” Bagaimanapun, aku berterima kasih kepada kalian semua. Kalian bagaikan dewa dan malaikat yang telah mewujudkan impianku…”
Suara Eternia berangsur-angsur menghilang. Tinggallah Zellion dan ketujuh ksatria. Mereka sangat senang karena tugas yang telah selesai. Tak peduli bahwa kekuatan mereka telah habis setelah menggunakan impian Eternia untuk menciptakan kembali kehidupan. Mereka merasa sangat lelah. Dan, mengetahui bahwa sisa waktu mereka tinggal sedikit, Zellion dan ketujuh ksatria mencoba menyaksikan maha karya mereka untuk terakhir kalinya. Sebelum akhirnya mereka jatuh tertidur untuk selamanya. Di atas salah satu benua yang telah mereka ciptakan, Senterial.
Di saat-saat terakhirnya, Zellion kembali mendengarkan suara Eternia di dalam hatinya.
“Aku tidak akan membiarkan kalian mati. Hiduplah bersama impianku. Tinggallah di tempat yang merupakan perwujudan dari semua kenangan indah akan kehidupan yang pernah ada. Sekali lagi, terima kasih..,’ kata Eternia.
Belum. Mereka belum mati. Zellion menemui dirinya di suatu tempat yang sangat indah. Ketujuh ksatrianya juga berada di tempat itu.
“Pangeran, di mana kita sekarang ? Apakah ini surga atau neraka ?” tanya Aezerion.
“Ini adalah tempat tinggal kita yang baru. Kita akan memberinya nama… Gallerial,” jawab Zellion.
Kehidupan bersemi lagi di Eternia. Makhluk hidup semakin berkembang di setiap penjuru dunia. Manusia Celestian membangun kehidupannya, mewarnai Eternia dengan berbagai macam kisah. Mereka menghormati Zellion sebagai Superian. Sedangkan ketujuh ksatria Zellion dihormati sebagai Guardian.