Ultimatum
Pilihan…kenapa kita selalu dihadapkan pada pilihan ? Apakah kita memang hidup untuk itu ? Untuk menemui pilihan-pilihan yang tak kunjung ada habisnya ?
Raja Rainhill menerawang jauh melalui balkon ruang kerjanya. Hari-hari terakhir ini terasa sangat berat baginya. Terlalu banyak masalah yang harus diatasinya. Terlalu banyak pilihan yang harus ia pertimbangkan.
“Salam, Yang Mulia Raja…” seseorang menyapanya dari belakang. Jenderal Zallo.
Raja menganggukkan kepala, menerima kehadirannya. Ia belum beranjak dari tempatnya. Masih memandangi langit yang memayungi negeri yang dipimpinnya.
“Jenderal…aku tak ingin mengulangi kesalahanku…seperti saat tragedi Aire dahulu…,” kata Raja.
“Mmm…apakah Anda memanggil saya untuk membicarakan hal tersebut ?” tanya Jenderal dengan nada suaranya yang arif.
“Kira-kira begitu…,” raja melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia menuju ke rak buku besar di dekat meja kerjanya. Jenderal mengikutinya.
“Ah…ini dia…,” raja mengambil sebuah buku dari rak tersebut. Buku tebal dengan sampul berwarna coklat. Buku tersebut terawat baik, sama seperti buku-buku lain di rak. Tulisan di buku itu berbunyi : Perjalanan Panjang
“Jenderal, Anda pernah membaca buku ini ?” raja memperlihatkan buku itu.
“Buku tentang sejarah kehidupan di Eternia…karangan Sastrawan Klad Belmith…” jenderal Zallo tampak mengenal buku tersebut. “ Tentu saja, Raja…itu salah satu buku yang wajib kami pelajari di akademi…”
Raja menimang-nimang buku itu lalu membuka-buka halamannya. “Setiap kali aku membaca buku ini…aku tersadar akan sesuatu…”
Raja diam sejenak. Ia mengamati salah satu gambar di dalam buku tersebut. “Setiap pilihan yang kita buat…benar atau salah…suatu saat seorang sastrawan juga akan menulisnya dalam buku seperti ini…”
Raja menutup kembali buku tersebut. “…menulisnya dengan begitu mudah…tanpa mengetahui bagaimana sulitnya kita menempuh segala sesuatunya di kehidupan nyata…”
“Memang terkadang para sastrawan itu agak berlebihan…” jenderal menyetujui pernyataan raja.
“Mungkin…,” Raja duduk di kursi kerjanya.
Jenderal Zallo juga duduk setelah raja mempersilahkannya.
“Peristiwa Aire…,” raja kembali kepada topik yang ingin disampaikannya. “…andai aku menyatakan perang sepenuhnya dengan Tantra saat itu…mungkin saja Aire akan selamat…tapi…”
Wajah raja tampak murung, mengingat hal tersebut. “Mereka akan segera membalasnya…menghancurkan negeri yang kucintai ini…”
“Raja…bagaimanapun, Anda telah melakukan yang terbaik…kita harus berkonsentrasi untuk apa yang bisa kita lakukan saat ini,” sahut Jenderal. Mencoba menyemangati rajanya.
“Ya…aku sudah memikirkannya…pilihan yang harus kuambil sekarang…” raja tersenyum. “Aku sadar di mana letak tanggung jawabku sebenarnya…tanggung jawab yang disandang raja Denia sejak masa lampau…”
Raja melihat patung kecil di atas mejanya. Patung naga, lambang kerajaan Denia. “Denia tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri… Ia berdiri untuk semuanya… melindungi kerajaan lain… negeri lain yang lebih lemah…”
Jenderal Zallo menganggukkan kepala. Ia terkesan dengan ucapan raja.
“Jenderal, aku telah membuat keputusan…untuk kuajukan pada pertemuan raja-raja nanti…” Raja kembali berdiri. Menatap keluar, ke arah balkon. “Kita akan menggunakan kekuatan sendiri untuk melawan pihak musuh…tanpa kekuatan Guardian…”
“Anda … benar-benar yakin dengan keputusan tersebut ?” Jenderal Zallo berdiri. Ia adalah orang pertama yang mengetahui keputusan raja tersebut.
Raja malah tertawa kecil. Ia membalikkan badan, menghadap Zallo. “Aku takkan menghabiskan waktu santaiku untuk berpikir tentang ini dan mungkin aku akan mengambil keputusan yang berbeda, andai…”
Raut wajah raja yang tadi tertawa langsung berubah serius. “…andai saja mereka yang tertidur di makam suci itu adalah Guardian yang sebenarnya…”
Zallo tercengang. Apa maksud ucapan raja ?
Tiba-tiba seorang prajurit masuk ke ruangan tersebut.
“Salam, Yang Mulia Raja..dan Jenderal Zallo…,” prajurit itu tampak terburu-buru.
“Ada apa, prajurit ?” tanya Zallo.
“Kami menerima kabar buruk…pasukan Kapten Hanz mengalami kontak dengan musuh…mereka mendapat serangan mendadak…”
“Apa ?! Bagaimana kondisi mereka ?” Jenderal Zallo terkejut, namun tetap berusaha bersikap tenang.
“Satu prajurit terluka…tapi ia dan dua orang yang lainnya sudah aman. Mereka berada di pangkalan naga Azonia sekarang,” jelas si prajurit.
“Bagaimana dengan Kapten Hanz ?” tanya Zallo lagi.
“Beliau tetap pada misinya…seorang diri…”
Gawat. Hanz terlalu mengambil risiko… Zallo menatap raja.
“Tantra ?” tanya raja.
“Saya rasa demikian…Raja,” sahut Zallo.
“Masih ada satu hal lagi…dan ini yang paling buruk…” kata prajurit. Ia menarik nafas dalam-dalam.
“Raja Prazea…telah menyerah pada Tantra…”
Suasana tampak tegang. Itu benar-benar kabar yang sangat buruk.
Baik raja maupun jenderal tidak menyangka bahwa gerakan Tantra akan secepat itu.
“Jenderal !! Segera batalkan misi Kapten Hanz !! ” raja langsung mengambil inisiatif. “Dan segera kumpulkan dewan keamanan…kita rapat sekarang juga !!”
Kembali ke wilayah Prazea. Tampak Perie terbang di atas wyvernnya. Memacu naga tersebut secepat mungkin, menyusul Kapten Hanz.
Ia tidak sendiri. Selain Ed, yang masih bersamanya, tampak sekitar dua puluh wyvern lainnya.
Sial…kami bahkan belum tahu jumlah dan detail musuh sebenarnya. Pikir Perie. Ia dan yang lainnya bertolak dari pangkalan naga di kota Azonia, yang terletak di dekat Sungai Quadra, perbatasan Denia dan Aire.
Perie mengamati prajurit-prajurit Azonia itu. Ia heran. Kenapa mereka semua wanita ?
“Prajurit Perie… Kaptenmu memang terlalu berani. Sifatnya tak berubah dari dulu,” ucap Kapten Jess, pemimpin prajurit wanita dari Azonia tersebut.
“Ya…tapi aku yakin dengan beliau…,” kata Hanz.
Rombongan itu terus menempuh perjalanan menuju Desa Bell. Kali ini mereka terbang melalui hutan yang ada di sekitar wilayah desa itu.
Wyvern mereka bergerak dengan lincah di dalam hutan. Menerobos pepohonan dengan cabang-cabang besarnya. Terus mencari celah yang lapang untuk melaju. Para prajurit wanita itu tampaknya sudah mengenal tempat ini dengan baik.
Harusnya kami menurut saran mereka tadi… Perie teringat saat mereka berempat singgah di pangkalan Azonia sebelumnya. Kapten wanita itu sudah memberi saran agar mereka bergerak melalui hutan. Tapi Kapten Hanz, yang sangat menyukai tantangan, lebih memilih caranya sendiri.
Akhirnya mereka sampai di Desa Bell. Ada yang aneh di desa yang telah hancur itu. Tidak ada serangan yang menyambut mereka seperti pemberitahuan Perie. Suasana pun terasa lebih sunyi.
Yang jelas, mereka melihat Kapten Hanz terkapar di tengah desa itu. Dan… beberapa pasukan Tantra yang berada di sekelilingnya seolah sengaja menunggu kehadiran mereka.
“Kapten !!” Perie segera turun dari wyvernnya, menghampiri Hanz. Ed mengikutinya. Mereka mencoba menyadarkan Hanz. “Kapten…Kapten…bangunlah !!”
Para prajurit wanita dari Azonia melindungi mereka. Berjaga-jaga bila prajurit Tantra melakukan serangan.
Kapten Jess mendekat dan memeriksa tanda vital Hanz. Lemah sekali… Ia segera memerintahkan prajurit medis yang memiliki kemampuan sihir pengobatan untuk memberi pertolongan pertama.
Perie bangkit berdiri, menatap para prajurit Tantra di dekatnya. Sialan… Keempat lengannya mengambil pedang yang disarungkan di punggungnya.
Perie yang terbakar emosi hampir saja bertindak gegabah. Untung Kapten Jess mencegahnya.
“Perie…tunggu !!” Jess merintanginya. “Mereka membiarkan kita datang. Tanpa perlawanan. Aku ingin tahu maksud mereka sebenarnya…”
Kapten Jess memberanikan diri maju ke depan. “Prajurit Tantra…mana pemimpin kalian !” katanya tegas.
“Aku sudah menunggu kalian …” sebuah suara yang berat dan keras terdengar dari arah belakang barisan prajurit Tantra.
Di belakang mereka, dari dalam sebuah tenda besar yang baru saja didirikan, pemilik suara tersebut menunjukkan dirinya.
Seorang Hath (anima banteng), dengan postur tubuh yang begitu besar dan tinggi, melangkah dengan mantap menghampiri para prajurit Denia yang seperti terpukau melihatnya.
”Aku, Deizer…salah satu dari Tetrad Auctorita…,” sosok tersebut memperkenalkan dirinya. Berdiri tepat di hadapan Jess.
Kapten Jess tidak menyahut. Masih tertegun. Ia hampir tidak pernah bertemu langsung dengan kaum Hath selama ini.
Ia bahkan harus mendongak untuk menatap karena tingginya hanya sepinggang dari Hath yang mengaku bernama Deizer tersebut.
Sosok tinggi besar Deizer terlihat lebih menyeramkan lagi dengan zirah perangnya yang kokoh. Perisai besar terpasang di samping lengan kirinya. Sebuah scythe (arit besar), tergendong di punggungnya. Dan jangan lupa sepasang tanduknya yang melengkung tajam.
Deizer…Tetrad Auctorita…aku pernah mendengarnya...Pikir Jess. Ia memberi isyarat pada prajurit lainnya untuk tetap tenang. Ia merasa sosok di depannya bukanlah orang sembarangan.
“Denia…aku atas nama Tantra… akan melepaskan kalian kali ini…,” ucap Deizer.
“Melepaskan kami ?” tanya Jess. Wanita ini berusaha menghapus rasa gentarnya.
“Kembalilah ke Denia…bawalah teman kalian yang terluka itu…,”lanjut Deizer dengan nada bicaranya yang datar namun penuh wibawa.
“Kenapa kau…kalian… melakukan ini ? Kita adalah musuh…,” sahut Jess.
“Giliran Denia pasti segera tiba…bersiaplah hingga saat itu…,” jawab Deizer. Tenang namun terdengar mengerikan.
Mereka terdiam untuk sejenak.
Orang ini serius...Pikir Jess. Ia menengok ke arah Hanz yang masih belum sadar. Para prajurit medis tengah berusaha keras mengobatinya.
“Bagaimana penduduk desa ini ? Dan juga prajurit kami yang ditempatkan di sini ?” tanya Jess.
“Tidak ada yang bisa kalian harapkan lagi…,” Deizer menatap Jess dengan pandangan tajam. Deru nafas dari moncong bantengnya dapat terasa. “Lebih baik kalian segera pergi…sebelum aku berubah pikiran…,”
Mereka pasti telah menghabisi semuanya. Kejam… Jess menatap sekelilingnya.
Sepertinya tak ada pilihan lain… Jumlah prajurit Tantra lebih banyak...
“Prajurit !! Kita kembali ke markas !!” Jess membalikkan badan. Berjalan menuju wyvernnya.
“Tapi, Kapten…,” Perie merasa kurang puas. Ia masih ingin membalas atas apa yang terjadi pada Kapten Hanz.
“Sudahlah, Prajurit Perie…dinginkan kepalamu…kita harus berpikir logis sekarang,” ucap Jess. Ia naik ke punggung wyvernnya.
Para prajurit medis mengangkat Hanz ke wyvern mereka. Prajurit wanita lainnya menyarungkan senjatanya dan kembali ke wyvernnya masing-masing.
“Perie, ayo kita pergi…,” kata Ed.
Cihh…sialan.. Perie dengan bersungut-sungut terpaksa menurut. Ia kembali ke wyvernnya.
“Orang Denia !!” Deizer memanggil Jess, sebelum kapten wanita itu pergi.
“Kau…mengenal seorang Celestian bernama Artea ?!” tanya Deizer.
“Tentu saja…,” jawab Jess. Ia bersiap untuk terbang.
Deizer tidak bertanya lebih lanjut. Ia tampak memikirkan sesuatu.
Jess merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Ia memberi komando pada prajuritnya untuk pergi.
Dua puluh dua wyvern tersebut akhirnya terbang, meninggalkan Desa Bell.
Artea...Deizer masih memikirkan sesuatu.
“Auctor Deizer !!” tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang. “Kenapa Anda melepaskan mereka ?”
“Hmmm…ini adalah Prazea…saat ini tujuan utama kita adalah menaklukkan kerajaan ini…biarkan orang-orang Denia menunggu waktunya…”
“Lalu…mengapa Anda sendiri datang ke tempat ini ? Bukankah…” orang itu kembali bertanya.
“Aku hanya ingin melihat situasi di sini…,” Deizer berjalan kembali menuju tendanya. ”Lagipula kita telah menguasai ibu kota Kerajaan Prazea…biarlah para petinggi Tantra yang mengurusi masalah di sana…”
“Ohh…jadi kita sudah mengambil alih istana, ya…” kata orang tersebut.
Deizer berhenti sejenak. Ia menatap orang yang berbicara dengannya itu. “Tampaknya kau tak perlu kembali ke markas. Kemampuan regenerasimu cukup bisa diandalkan…”
“Anda benar Auctor Deizer….,” orang itu membetulkan posisi kaca mata barunya. ”Phoenix akan selalu terlahir kembali…”
Deizer meneruskan langkahnya menuju tenda. “Lain kali, jangan remehkan lawanmu, Lance…”
Seri 10 mana neh?
Beste Grüße,
Dafferianto