Segel Sekh
Desa Bell. Api itu terus berkobar. Asap yang ditimbulkannya bergabung dengan asap dari benda-benda lain yang juga terbakar.
Hanz tidak mampu menatap api di hadapannya. Bukan pada apinya. Tapi pada makhluk yang terbakar di dalamnya. Terbakar hidup-hidup.
Hanz mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat kehilangan.
“Oh…menyesal ? Putus asa ? ” lelaki berkaca mata itu berbicara pada Hanz. ”Klise… merasa kuat… bertempur seorang diri… dan akhirnya tak berdaya….”
“Kalian orang-orang kerajaan memang bodoh…,” si kaca mata itu mengelus busurnya yang dihiasi ukiran indah berbentuk phoenix.
Kepalan tangan Hanz makin kuat. Ia benar-benar meradang. Aku terpaksa melakukannya…
Hanz bangkit. Ia mencoba berdiri tegak. Meskipun sulit, karena para prajurit terus menarik rantai-rantai yang mengekangnya itu. Leher, pergelangan tangan, dan kakinya, mulai mengucurkan darah karena luka lecet.
“Masih mau melawan ? Kau harusnya sadar dengan kondisimu, singa tua…,” si kaca mata itu mengambil satu lagi anak panahnya.
“Oh ya…aku lupa memperkenalkan diri. Namaku…Lance…dan ini…,” si kaca mata yang menyebut dirinya Lance tersebut menunjukkan anak panahnya pada Hanz. ”…anak panah ini…adalah benda yang paling ku sayangi…”
Hanz tidak menanggapinya. Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu memejamkan matanya untuk sejenak. Mencoba menenangkan batinnya.
Ia larut dalam keheningannya untuk sesaat. Menyelam dalam batinnya yang paling dalam. Hiruk-pikuk para prajurit Tantra yang menyorakinya tak terdengar lagi.
“Ya…ya..ya..berdoalah untuk terakhir kalinya, prajurit Denia…ha ha ha !!” Lance tertawa keras. Ia meletakkan anak panahnya pada posisinya di busur. Sekali lagi senjata tersebut mengobarkan hawa apinya.
Hanz masih menutup matanya. Tak peduli pada Lance yang bersiap melepaskan panah pada dirinya.
Mulut Hanz membisikkan sesuatu : Spire Och ….Spire Pharos … Spire Aratron…
“Mati kau !!,” Lance melepas tali busurnya, membiarkan anak panahnya terbang menyambut mangsanya. Mengincar kepala Hanz dengan seluruh kegarangan api yang menyelimutinya.
Hanya dalam satu kejapan mata. Anak panah itu telah mencapai sasarannya dengan begitu cepatnya.
Tepat saat ujung anak panah itu menyentuh kulit dahi Hanz…sesuatu terjadi.
Seperti dipuntir oleh suatu kekuatan yang tak tampak, anak panah itu hancur, mulai dari bagian ujung depannya, terus hingga ke pangkalnya.
Lance yang baru saja melepas panahnya…tiba-tiba merasakan tubuhnya terhantam oleh suatu kekuatan. Ia terlempar ke belakang. Kaca matanya pecah. Pakaian bangsawannya pun terkoyak-koyak.
Seperti terkena gelombang ledakan, semua yang berada di sekitar Hanz terhempas ke berbagai penjuru. Terutama para prajurit yang memegangi rantai pengekang tubuh Hanz.
Sesaat kemudian… semuanya mereda. Tampak para prajurit-prajurit Tantra itu berusaha bangun dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Kurang ajarrr !!” penampilan Lance kini berantakan. Ia mengambil busur panahnya yang terjatuh di dekatnya.
Dengan nafas tersengal-sengal, ia berdiri dan memandang sumber kekuatan tadi. Ia menatap Hanz dengan penuh amarah. Namun ia segera tertegun. Itu…
Masih berdiri di tempatnya. Dengan rantai yang masih terjuntai dari gelang-gelang yang melukai leher, pergelangan tangan dan kakinya…Hanz menatap jasad wyvernnya.
Wyke…terbanglah ke Gallerial… Hanz kemudian mengarahkan tatapannya kembali pada Lance.
Entah kenapa, pemimpin pasukan Tantra tersebut tidak lagi menunjukkan muka sombongnya. Ia justru seperti melihat sesuatu yang menakutkan.
Tubuh Hanz seperti terbakar. Bukan oleh api dari panah Lance. Tapi dari aura berwarna putih yang keluar dari sekujur tubuhnya. Seputih rambut singanya yang juga berubah warna.
Iris matanya pun menjadi putih. Membuat tatapannya tampak semakin menakutkan
Retakan timbul pada zirah perang Hanz. Sebagian malah pecah. Terdesak oleh kekuatan fisiknya yang bertambah kekar.
“Kau…apa yang terjadi pada dirimu ?” Lance bertanya-tanya. Ia mengurungkan niatnya untuk menyerang lagi.
Hanz mengangkat tangannya. Menunjukkan kepalan tinjunya yang dipenuhi kekuatan.
“Aku terpaksa melepas segel terlarang dalam tubuhku… Segel Sekh…,” suara Hanz terdengar berbeda. “…Untuk menghabisi kalian !!”
Grrooaarrr !!!
Raungan Hanz memekakkan telinga yang mendengarnya. Ia sedang menghimpun tenaga. Aura di tubuhnya terlihat lebih terang.
“Aaahhh….aku tak takut !!!” Lance segera mengarahkan panahnya lagi ke arah Hanz. “Flame Path !!”
Lance menembakkan panah dengan kekuatan api yang sangat besar. Jurus serupa yang dipakainya saat menyerang Hanz beserta wyvernnya tadi. Ia tak peduli kalau serangannya itu dapat mengenai prajurit lain.
Hanz melompat maju. Ia menembus panah api besar itu, tanpa rasa gentar sedikit pun. Rantai-rantai besar yang masih terjuntai di tubuhnya sama sekali tak mempengaruhi kecepatannya. Dalam sekejap, ia telah menyarangkan tinjunya ke wajah Lance.
Darah menyembur dari hidung dan mulut Lance. Ia terpental karena tinju tersebut.
Lance terkapar beberapa kaki dari tempatnya berdiri semula. Ia belum sempat bangun ketika Hanz sudah meloncat di dekatnya dan memegang kakinya, lalu dengan satu gerakan memutar, melempar tubuhnya mengarah ke salah satu catapult yang ada.
Untung saja di dekat catapult tersebut terdapat beberapa prajurit. Mereka menjadi bantalan tubuh Lance yang terhempas.
“Komandan…Anda tak apa-apa ?” tanya seorang prajurit Tantra pada Lance.
“Dasar tolol !!! Jangan hiraukan aku… serang singa sialan itu !!! ” Lance marah-marah. Ia menahan perih di rahangnya.
Para prajurit Tantra segera mengarahkan catapultnya. Mereka menembakkan begitu banyak anak panah pada Hanz.
“Grrooarrr !!” tanpa ragu, Hanz menerjang tembakan catapult yang datang dari lima arah tersebut. Aura putih di tubuhnya seperti perisai yang mementalkan setiap anak panah yang mengenainya.
Hanz meloncat ke salah satu catapult. Setelah memukul jatuh prajurit pengendalinya, ia menghancurkan catapult Tantra itu dengan satu tinjunya.
Beberapa prajurit bermaksud mengeroyoknya. Mereka menghunuskan senjata pedang, tombak, bandul; apa saja yang mereka miliki.
Hanz menggunakan rantai yang mengekang tangannya sebagai senjata. Seperti sebuah cambuk, ia menghantamkan rantai tersebut ke tubuh musuh, menjatuhkan beberapa orang prajurit sekaligus.
Hanz terus menghajar setiap prajurit yang datang menyerangnya, hingga mereka tak berani mendekatinya.
Ia menuju ke arah catapult yang masih ada. Ia mengincar mesin-mesin senjata yang menyebalkan dengan tembakan panahnya itu.
Kedua. Ketiga. Keempat. Kelima. Akhirnya semua catapult itu hancur di tangannya.
Gila…kekuatan apa itu ? Lance terperangah. Ia hampir saja terkena salah satu catapult yang dilempar oleh Hanz. Kalau saja ia tadi memukulku dengan kekuatan seperti itu…kepalaku pasti sudah melayang.
Hanz berdiri di atas salah satu catapult yang telah remuk. Rambutnya berkibar. Ia melihat ke sekelilingnya. Beberapa prajurit Tantra itu telah tumbang. Sebagian lagi hanya berdiri dengan penuh kecemasan, ragu untuk memulai gerakan.
Hanz menatap kondisi desa untuk sekali lagi. Kerusakan…dan terutama orang-orang tak bersalah yang tewas itu… makin memperkuat auranya.
Ia menatap Lance. Dan dalam satu hembusan nafas, ia sudah berada di hadapan orang yang kehilangan kaca matanya itu.
“Ingat namaku… Hanzel Lionnel…,” wajah singa Hanz begitu dekat dengan wajah Lance yang penuh keringat karena takut.
Tangan kiri Hanz mencengkeram leher Lance, lalu melempar orang tersebut ke udara.
“Leoga Rage !!” Hanz menerjang tubuh Lance di udara. Ia menghujani musuhnya itu dengan begitu banyak pukulan. Sangat cepat.
Hanz melepas amarahnya pada setiap tinjunya. Untuk penduduk Desa Bell…untuk prajurit Denia…untuk Wyke…
Lance sama sekali tak berdaya. Ia bahkan sudah tak sadarkan diri.
Seiring dengan itu, rambut Hanz berangsur-angsur kembali ke warnanya semula, coklat tua. Pukulannya melambat. Pandangannya pun mengabur. Tenaganya sudah habis.
Selesai sudah… Aura putih itu menghilang dari tubuh Hanz. Ia pun kehilangan kesadarannya.
Tubuh Lance terlebih dulu jatuh di tanah. Kemudian Hanz. Keduanya terbaring tak bergerak.
Para prajurit tertegun untuk sejenak. Mereka kemudian berjalan mendekati.
Dua orang tersebut sama-sama pingsan. Tapi Lance benar-benar babak belur. Luka di sekujur tubuhnya sangat parah.
“Komandan Lance !!” beberapa prajurit berusaha menyadarkan Lance. “Dia terluka parah…kita harus membawanya ke markas !!”
“Hei..bagaimana dengan Baste yang mengerikan ini ?” Seorang prajurit yang lain menunjuk Hanz.
“Bunuh saja dia !! Selagi ada kesempatan !!”
“Betul !!”
“Bunuh !! Bunuh !!”
Para prajurit kelas teri itu berlagak berani saat ini. Mereka mencari kesempatan dalam kesempitan.
“HENTIKAN !!!”
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat dan keras, menggagalkan usaha mereka untuk menghabisi Hanz.
Para prajurit menoleh ke arah suara itu. Asalnya dari atas bangunan yang digunakan untuk lumbung desa, agak jauh dari tempat mereka berada. Satu-satunya bangunan yang tidak ambruk terbakar. Mungkin karena bahan materialnya yang berbeda dengan rumah-rumah lain di desa itu.
Si pemilik suara tersebut tampaknya berada di situ sejak tadi dan menyaksikan segala sesuatu yang telah terjadi dari kejauhan. Tidak ada yang menyadari kehadirannya. Apa lagi karena aksi Hanz tadi telah menjadi sumber perhatian yang paling utama.
Sosok yang duduk bersila di atas bangunan tersebut akhirnya berdiri, menunjukkan postur fisiknya yang tinggi besar. Tampak sepasang tanduk melengkung di atas kepalanya. Membelakangi Bintang Ashura, wajahnya menjadi kurang jelas terlihat.
Lance…kau tak berguna…