Farewell…
“Kapteeen !!”
Teriakan Perie penuh dengan rasa kekhawatirannya. Kelebat panah api tersebut seakan menelan bulat-bulat sang kapten. Tapi perasaan khawatirnya itu segera berganti dengan lega.
Setelah kekuatan api tersebut reda, ia melihat sosok kaptennya. Masih tegar di atas wyvernnya.
Sesaat sebelum api tersebut menyambarnya, Kapten Hanz membentuk tirai energi dari partikel udara di sekitarnya. Ia dan wyvernnya selamat.
Brengsek…untung saja… Hanz, sedikit terengah-engah, menatap desa itu dari ketinggian. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi…dan siapa yang telah menyerang mereka.
Hanz kemudian terbang lebih tinggi, menuju ke arah Perie dan dua prajurit lainnya. Mereka sepertinya masih terkesima melihat sang kapten yang selamat dari serangan tadi. Setengah tak percaya.
“Prajurit…ini di luar perhitungan….,” ujar Hanz setelah berkumpul lagi dengan para prajuritnya.
“Benar, Kapten…serangan tadi sangat mendadak…,” kata Perie. Kuat sekali Kapten, pantas dia memegang jabatan tersebut.
Hanz memandang para prajuritnya itu. Kami total berempat…tapi satu prajurit dan wyvernnya terluka.
“Baiklah…aku harus segera mengambil keputusan…perhatikan !” ucapan Hanz yang tegas disambut dengan penuh perhatian oleh para prajurit.
“Perie, Ed,… kalian bawa Negi yang terluka, kembali ke Denia. Cari pos pasukan kita yang terdekat, untuk mengobatinya… juga wyvernnya….” Hanz berusaha memberi instruksi seringkas mungkin. ”Mintalah bantuan prajurit dan laporkan pada pusat…isu tentang Tantra yang mulai melebarkan aksinya di Prazea tampaknya benar…”
Hanz memutar wyvernnya. Ia menghadap arah desa itu. “Cepat kerjakan !!”
“Tapi Anda…,” Perie berniat menanggapi.
“Sudahlah, Perie…kita harus segera melaksanakan perintah Kapten…” Ed, rekannya, menyela.
Perie menatap punggung kaptennya sejenak. Ia lalu memandang Ed dan Negi. Ia tahu bahwa mereka pun sebenarnya kurang setuju dengan perintah tadi. Karena itu berarti mereka meninggalkan kapten sendiri.
Sekali lagi Perie menatap sang kapten. “Kapten…kami pergi !!” dengan berat hati, Perie meninggalkan pemimpinnya. Wyvernnya, demikian juga dengan milik Ed, mulai mengepakkan sayap. Membawa serta Negi dan wyvernnya, sesuai perintah yang diberikan.
“Prajurit !!!” tanpa menoleh, Hanz berteriak memanggil mereka.
Ketiga prajurit tersebut berhenti sejenak.
“Katakan pada yang lain…bahwa aku ingin bersenang-senang sebentar…,” Hanz menengokkan wajahnya. Ia tersenyum pada mereka. Sesuatu yang jarang dilakukannya.
Perie pun tersenyum. Ia, dan juga kedua rekannya, sangat bangga dengan kapten mereka. Sampai bertemu lagi, Kapten Hanz.
“Eternia untuk semua !!!” ketiga prajurit itu berteriak bersamaan sambil mengacungkan kepalan tangan mereka.
“Eternia untuk semua !!” Kapten membalas seruan mereka.
Akhirnya para prajurit itu telah pergi. Tinggal Hanz sendiri.
Apa yang harus kulakukan sekarang... Hanz memikirkan langkah selanjutnya. Dalam kepalanya tercetus dua hal. Langsung menuju ke desa itu dengan risiko diserang seperti tadi; atau mencari jalan yang lebih aman melalui hutan di sekitarnya.
Tapi kalau memang Tantra yang berada di sana, berarti aku tidak boleh membuang waktu…keselamatan orang-orang di desa itu dalam bahaya…
Sekali lagi Hanz mengambil kapaknya. Satu tangannya yang lain memegang tali kendali wyvernnya erat-erat. Ia mengamati tujuannya dengan tajam. Desa Bell.
Sekarang…atau tidak sama sekali…
Hanz menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa serangan musuh sudah menunggu bila ia terbang lebih rendah. Tapi tekadnya sudah bulat.
“Wyke…ayo kita bermain !!” Hanz menghentakkan tali kendalinya.
Gwaahhhh !! Wyke, sebutan wyvernnya, menjawab. Dengan kepakan sayapnya yang kuat, ia meluncur deras ke bawah. Seolah memiliki keberanian seperti penunggangnya.
Awan putih tercerai berai seperti kapas-kapas kecil. Rambut singa Hanz tergerai oleh angin yang diterjangnya bersama sang wyvern.
Desa itu sekali lagi terlihat. Dan asap masih terus mengepul darinya.
Dugaan Hanz benar, anak-anak panah dilepaskan lagi dari sana. Sama banyaknya seperti tadi.
“Uwwooooo…. !!” ia semakin bersemangat. “Jangan takut, Wyke !!
Wyke mengatupkan sayapnya di sisi badan. Akibatnya mereka semakin cepat meluncur ke bawah. Menantang semburan anak panah itu.
Air Shield… Sekali lagi Hanz membentuk tirai pelindung di sekeliling tubuhnya dan Wyke.
Mereka terus menerjang ke arah desa. Anak-anak panah itu terus terpental, terkena perisai energi Hanz.
Desa Bell makin jelas. Hanz memicingkan matanya. Ia kini tahu asal panah tersebut. Sekitar 5 catapult besar ada di sana. Menembakkan panahnya terus menerus.
Di antara catapult itu, berdiri seorang Celestian.
Prajurit Denia… hhh…keras kepala… Ia mengambil anak panah di punggungnya. Memasangkannya pada busurnya yang kokoh.
Ia tak peduli kalau catapult-catapult besar di sekitarnya sudah menyerang wyvern tersebut. Ia lebih yakin akan panahnya sendiri.
Tinggal beberapa jarak lagi sebelum Wyke bisa mendarat di desa.
Tiba-tiba, di antara serbuan panah catapult itu, meluncur sesuatu berwarna merah dan berukuran besar. Panah api yang tadi mengenai Hanz kini muncul lagi.
Panah api itu bahkan membakar anak panah catapult di sekitarnya. Seolah ingin mencapai targetnya lebih dulu. Kobaran merahnya terpantul di mata Hanz.
“Ini diaaa !!!” Hanz memperkuat energi pelindungnya. Tanpa memalingkan matanya, ia menantang panah api besar itu. “ Kita bisa, Wyke !!!”
Hanz maju dengan penuh keberanian. Terlalu berani.
Hhhh… menyusahkan saja… Si pemanah tadi tersenyum sinis. Busurnya tampak membara, semerah panah api besar yang baru ditembakkannya.
Kosong. Itulah satu-satunya hal yang dapat dirasakan Hanz. Dan lama-lama ia merasakan sesuatu yang berat di kepalanya.
”Gwaahhh !!!”
Suara itu..teriakan itu…Wyke ? Wyke !!!
Hanz tersadar. Seseorang telah mengguyurkan air ke wajahnya. Ahhh … Kepalanya terasa pening.
Penglihatannya agak kabur. Ia mengedipkan kelopak matanya berkali-kali.
Hingga akhirnya ia dapat melihat sekelilingnya. Orang yang mengguyurnya juga ada di dekatnya. Masih samar-samar. Di mana ini… sepertinya banyak orang mengelilingi aku…
“Gwaahhh !!”
Hanz menoleh ke arah suara itu. Dan ia terkejut. Wyke terkapar tak berdaya, tak jauh darinya. Tubuh naga itu penuh luka. Leher dan kakinya dipasangi gelang logam yang dihubungkan dengan rantai.
Ujung rantai tersebut dipegang oleh beberapa orang…lebih tepatnya prajurit…yang mengenakan zirah berwarna keperakan dengan bentuk tanduk di atas pelindung bahu mereka. Prajurit-prajurit seperti itu pula yang berada di sekeliling Hanz.
“Lepaskan dia !!” Hanz bermaksud berdiri dan beranjak ke arah Wyke. Namun ia segera terjatuh. Ia sadar bahwa ia mengalami hal yang sama. Leher, tangan, dan kakinya dipasangi gelang berantai. Ia tak dapat bergerak.
Hanz melihat lagi ke sekeliling. Desa Bell…apakah aku tadi pingsan ?
Suara langkah kaki itu mendekatinya. Jongkok di hadapannya, orang itu memperlihatkan wajahnya pada Hanz. Seorang Celestian. Kira-kira berusia 20-an tahun. Ia mengenakan kaca mata.
Ia bertepuk tangan. Seakan meledek Hanz. “Bravo, bravo… aksi yang sangat mengagumkan, Tuan prajurit Denia…ha ha ha ha !!”
Telinga Hanz panas mendengar ucapan orang itu. Namun ia berusaha menahan emosinya.
“Kau…kalian…pasukan Tantra ?” tanya Hanz. Ia mencoba untuk berdiri. Serangan panah api tadi lebih kuat dari yang pertama. Terlalu kuat, bahkan. Padahal tenaganya sendiri sudah banyak terkuras akibat membentuk tirai pelindung. Brengsek …
Orang berkaca mata itu pun ikut berdiri. Ia berjalan ke tengah kerumunan prajurit yang mengelilingi mereka.
“Tantra…satu-satunya kekuatan yang akan berkuasa, di Aezerial… dan akhirnya… di seluruh Eternia… ha ha ha !!” Tawa orang itu disambut tawa prajurit lainnya.
Jadi benar… Hanz memutar otak. Ia melihat Wyke. Naga itu kuat. Ia pasti dapat bertahan. Tapi bagaimana aku mengatasi semua ini ? Mungkin sebaiknya aku pergi bersama Perie dan yang lainnya tadi…
Hanz segera menepis rasa menyesal itu. Bukan tabiatnya untuk menarik pilihannya sendiri. Ia sudah berniat menghadapi ini seorang diri. Ia hanya berharap pasukan pendukung segera tiba.
“Apa yang telah kalian lakukan pada desa ini ? Di mana orang-orang ?” tanya Hanz.
“Lihat saja sendiri…,” lelaki berkaca mata itu memperlihatkan kondisi desa. Rumah-rumah rusak. Hangus terbakar. Barang-barang milik penduduk berserakan di mana-mana. Gerobak, tenda pedagang, kolam desa, jembatan, patung penghias jalan, semuanya rusak.
Namun Hanz lebih tersentak dengan pemandangan yang lainnya. Ia melihat tubuh orang-orang bergelimpangan di beberapa tempat. Orang dewasa… bahkan anak-anak … demi Zellion...
Orang-orang itu jelas sudah tak bernyawa. Di antaranya, Hanz juga melihat tubuh prajurit-prajurit dengan kostum seperti dirinya. Prajurit Denia…
Hanz membalikkan badan. Tangannya meraih kerah pakaian orang berkaca mata itu.
“Kalian pembunuh !!”
Prajurit Tantra menarik rantai di tubuh Hanz. Akibatnya Baste tersebut terjerembat. Mereka berusaha menjauhkannya dari si kaca mata.
“Kau…berani sekali mengotori baju mahalku ini…,” orang tersebut membenarkan kerah bajunya. Ia lalu menatap Hanz dengan tajam.
Si pesolek berkaca mata ini pasti pemimpin mereka. Pikir Hanz. Kurang ajar…
“ Orang-orang desa tersebut menerima ganjarannya karena melawan kami. Apalagi rekan-rekan prajuritmu…,” si kaca mata tersenyum sinis. “ Seharusnya Denia tidak menempatkan mereka di sini…karena mereka pasti juga menjadi korban…”
Pandangan Hanz beradu dengan orang itu, saling mengintimidasi.
“Hei aku akan memberimu pertunjukkan, karena kau sudah mengganggu pekerjaan kami di sini…,” si kaca mata itu melangkah beberapa kaki, seraya mengambil senjata di punggungnya. Sebuah busur.
“Ku dengar, Denia terkenal akan pasukan naganya…,” si kaca mata mencabut salah satu anak panah dari kantungnya. “Aku ingin tahu…sekuat apa mereka melihat naganya mati terbakar….”
Busur dan anak panah di tangannya menyala. Mengeluarkan kobaran api yang bahkan hawa panasnya terasa hingga ke muka Hanz.
“Kau…jadi panah api itu kau pelakunya…,” Hanz tertegun.
“Tenang …aku akan menggunakan api yang lebih kecil kali ini…,” si kaca mata mengarahkan panahnya pada tubuh Wyke.
“Hei !! Apa yang akan kau lakukan ?!” teriak Hanz melihat ulah si kaca mata itu.
“Gwaahhh !!” Wyvern milik Hanz tersebut hanya bisa meronta gelisah. Ia seolah tahu apa yang akan terjadi. Tubuhnya yang lemah tidak cukup kuat untuk melawan tarikan gelang-gelang berantai itu.
“Ucapkan selamat tinggal pada naga kecilmu…,” si kaca mata menarik tali busurnya.
“Jangaann !!” teriak Hanz.
Panah api itu terlepas dari busurnya, tanpa basa-basi menuju sasarannya.
Beberapa tahun yang lalu, Hanz yang masih berpangkat prajurit biasa bertemu dengan wyvernnya untuk pertama kali. Wyvern yang selalu menyertainya dalam berbagai misi. Wyvern yang sering dibawanya pulang, dan ditungganginya bersama Clay sewaktu anaknya itu masih kecil.
“Waaa…waa…asyiikk…aku ingin punya naga seperti ini, ayah..”
“Hei hei…jangan kau pukuli lehernya, Clay…nanti Wyke tidak bisa terbang dengan benar..,”
“Gwaaahhh…,” tidak ada yang pernah tahu tampang Wyke saat itu. Tapi…seekor binatang pun kadang bisa tersenyum gembira…
“Gwaahhh !!!” suara wyvern pemberani tersebut terdengar untuk terakhir kalinya di telinga Hanz. Makin tak terdengar beserta kobaran api yang makin besar.
Selamat jalan, Wyke…