Tiga Hari Sebelum Perayaan
Empat wyvern itu terbang menembus gumpalan awan putih. Melewati Sungai Quadra di bawahnya, keempat naga terbang itu akhirnya memasuki wilayah Prazea.
Dari lambang di zirah yang dikenakannya, dapat diketahui bahwa wyvern-wyvern tersebut adalah milik pasukan kerajaan Denia.
Salah satu dari penunggangnya adalah Perie. “Prazea…akhirnya,” gumam Perie. Ia lega karena setelah semalaman terbang di atas wyvernnya, akhirnya ia sampai di wilayah kerajaan tetangga Denia ini.
Ha ha ha… kali ini aku akan menunjukkan bahwa aku pantas menyandang nama Helarius.. Pikir Perie bangga.
Ia teringat saat Jenderal Zallo memberinya perintah beberapa hari yang lalu.
“Perie, kau akan menjadi wakil Kapten Hanz…” kata jenderal Zallo.
“Siap, Jenderal ! Tugas apakah yang harus saya laksanakan bersama Kapten… Hanz ?” tanya Perie.
“Memimpin komando di pos penjagaan kita…di Prazea…”
Perie sangat bersemangat sejak saat itu. Akhirnya ia mendapat tugas yang lebih menantang.
Tapi…kenapa aku harus menjadi wakil kapten yang galak itu ? Perie, dengan wajah cemberut, menatap punggung penunggang wyvern di depannya.
Ia memang jarang bertemu dengannya. Baste ( anima singa ) , yang bernama lengkap Hanzel Lionnel dan berpangkat kapten itulah yang memimpin misi mereka, sesuai instruksi Jenderal Zallo.
Kapten Hanz, begitu ia biasa dipanggil, adalah salah satu kapten yang menangani armada perang III Denia. Ia terkenal akan karakternya yang keras.
“Prajurit Perie !!! Lokasi tujuan !!!” teriak Kapten Hanz membuyarkan lamunan Perie.
“B-baik..Kapten !” Perie yang masih terkejut segera membuka peta yang dibawanya. Hembusan angin agak menyulitkannya membuka lembaran peta tersebut.
“Desa Bell…,” Perie memeriksa petanya. “Sudah dekat !! Kita hampir sampai, Kapten !!”
Kapten Hanz mendadak menghentikan wyvernnya, diikuti prajurit lainnya. Ia melihat kepulan asap dari bawah sana. Sepertinya dari sebuah desa.
Perie tercengang. Tempat asal kepulan asap itu adalah Desa bell, tujuan mereka. Salah satu pos bantuan keamanan Denia terletak di sana.
Tanpa banyak bicara, Kapten Hanz segera mengendalikan lagi wyvernnya dan terbang menuju desa itu.
Perie tak mau ketinggalan. Ia dan prajurit lainnya segera mengikuti sang kapten. Sesuatu tengah terjadi...
Mereka hampir sampai di desa itu, ketika tiba-tiba puluhan anak panah menyeruak ke atas, menyerang naga tunggangan mereka dari berbagai penjuru. Jumlahnya makin bertambah.
“Awass !!” Hanz dan yang lain mencoba untuk menghindar. Namun anak panah itu terlalu banyak. “Terbang lebih tinggi !!”
Perie hampir saja terkena salah satu dari anak panah itu. Untung refleksnya masih bagus. Ia segera menutupi tubuhnya dengan perisai besarnya. Untunglah ia melakukan hal tersebut, karena anak-anak panah lain segera menyusul menerjang dirinya.
Gwwaahhh !!! Wyvern milik Perie mengerang kesakitan. Serbuan panah tersebut mengenai bagian tubuhnya yang tak terlindung zirah.
Siaal… bertahanlah sobat… Perie berusaha mengendalikan wyvernnya, berkelit dari serangan tersebut. Ia menyusul kaptennya, terbang lebih tinggi.
Gwaahhh !! Terdengar lagi suara wyvern yang kesakitan. Kali ini dari arah salah seorang prajurit rekan Perie. Beberapa anak panah menembus sayap wyvern tersebut. Akibatnya naga tersebut kehilangan keseimbangannya dan menukik jatuh.
“Bantu dia !!” sang kapten memberi perintah. Perie dan seorang lagi prajurit segera mengendalikan wyvernnya, menuju rekan mereka yang melayang jatuh. Mereka berusaha berkelit dari anak panah yang terus menyerang seperti tak ada habisnya.
Hanz mengambil kapak besar yang disarungkan di pelananya. Ia lalu melompat dari wyvern. Melayang sesaat di udara, sebelum akhirnya meluncur ke bawah, memanfaatkan gravitasi. Ia menerjang serangan panah itu.
Axel Blow !!
Hanz memutar kapak besarnya, menciptakan pusaran angin yang menghalau anak-anak panah tersebut, sekaligus melindungi Perie dan rekannya yang sedang berusaha menolong prajurit yang terjatuh itu.
Berhasil. Serangan panah itu reda untuk sementara.
Wyvern milik Hanz terbang turun, melakukan manuver untuk menyambut dirinya yang terjun bebas di udara.
Perie dan rekannya dapat menyelamatkan wyvern yang melayang jatuh tadi. Wyvern mereka mencengkeram tubuh wyvern yang terluka itu lalu mengangkatnya terbang lebih tinggi.
“Hei teman…bagaimana keadaanmu ?!” tanya Perie pada prajurit penunggang naga yang terkena panah itu.
“Terima kasih… lenganku terluka… tapi wyvernku lebih parah… ia tak mampu terbang lagi…tolong..,” ujar prajurit itu seraya menahan luka di lengan kirinya. Ia sangat memperhatikan kondisi binatang yang ditungganginya itu.
“Hei !!! Bagaimana kondisi kalian ?!” wyvern Hanz terbang mendekati mereka.
“Terima kasih, Kapten !! Kami semua…,” ucapan Perie belumlah selesai ketika ia melihat sesuatu terjadi pada sang kapten. Ia dan rekannya tidak sempat melakukan apa-apa.
Berasal dari tempat yang sama seperti serangan sebelumnya, api besar berbentuk panah itu melesat dan, tanpa sempat dihindari, menyambar tubuh Kapten Hanz dan wyvernnya.
“Kapteenn !!!”
Sementara itu, di ibukota Denia. Aron, Rein, dan Clay berkumpul di taman istana. Tempat favorit Rein untuk bersantai. Ia biasa mengajak Aron dan Clay ke taman ini. Sekedar berbincang-bincang maupun berlatih bela diri bersama-sama.
“Cantik sekali…,” Clay tersipu. Wajahnya memerah. Kelakuan Baste yang berbadan gendut ini, membuat heran kedua sahabatnya.
“Hei Clay … kau masih memikirkan perempuan itu ya ?” tukas Aron sambil melakukan latihan kuda-kuda untuk mengisi waktu. “Ingat…kau belum cukup besar…”
“Puihh…itu urusanku,” jawab Clay ketus. “Aku berhak menyukai siapa saja yang memang kusukai.”
Hupp…Rein melompat turun dari pohon yang baru saja digelantunginya. Beberapa buah terjatuh dari tangkai pohon itu. “Aron, tak ada gunanya menasehati si keras kepala ini…”
Rein membalikkan tubuh dan berjalan dengan kedua tangannya. Anak ini memang cenderung hiperaktif. Menurutnya dengan banyak bergerak tubuhnya akan terasa semakin bugar. Meskipun kelakuannya terkadang aneh.
Seperti sekarang. Rein berlari dengan kedua tangannya dan tanpa sengaja, ia menabrak beberapa gadis, anak-anak pejabat istana, yang sedang berkumpul tak jauh dari situ.
Kyaaa !! Tentu saja mereka menjerit kaget. Namun keadaan segera berubah karena mengetahui bahwa mereka baru saja bersinggungan dengan seorang pangeran.
Rein meminta maaf dan segera kembali ke tempat Aron dan Clay, setelah memberikan lambaian penuh pesona pada gadis-gadis itu.
“Lihatlah…aku lebih baik ketimbang Rein yang sok tampan itu…,” Clay memungut buah Ore yang terjatuh dari pohon yang dipanjat Rein tadi.
Aron tersenyum. “Clay, aku penasaran… seperti apa sebenarnya perempuan itu ? Kau terus membicarakannya sejak kemarin…”
“ Pokoknya…,” Clay memakan langsung buah Ore yang dipungutnya. “ Dia Celestian yang sangat cantik…rambutnya yang panjang dan berwarna biru sangat indah…”
“Ahhh…dasar pemimpi…,” sahut Rein yang sudah kembali. “ Perempuan itu lebih tua darimu tahu…,”
Sesekali Rein menengok ke arah gadis-gadis tadi. Ternyata mereka juga sedang memperhatikannya. “Seharusnya kau memilih gadis-gadis muda seperti itu…he he..”
“Aku ingin tahu Clay… apakah anima memang bisa memiliki ketertarikan pada lawan jenis selain sesamanya ?” tanya Aron sembari mencoba berbaring di rerumputan.
“Kenapa tidak ? Itu hal yang normal,” Wajah Clay berubah serius. “Hanya perkawinan antar ras yang dilarang…kalian tahu kan sebabnya…,”
“Hmm…aku pernah membaca tentang hal tersebut,” jawab Rein. “Perkawinan seperti itu… tidak akan menghasilkan keturunan. Karena itulah sangat jarang dijumpai pasangan suami-istri yang berlainan ras.”
“Yahh…bagaimana pun, biarkan aku menikmati imajinasiku saat ini…he he he…,” wajah Clay kembali tersipu. Ia membayangkan kembali pertemuannya dengan perempuan yang dimaksudnya itu.
“Imajinasi…,” Aron melihat barisan awan di atasnya. Pikirannya mencoba membentuk awan tersebut sesuai gambarannya.
“Rein…Aron…apa yang akan kalian lakukan saat perayaan nanti ?” Clay mengganti topik.
“Aku harus mendampingi ayahku… menghadiri semacam pertemuan raja-raja di Garderial,” Muka Rein tampak masam.
“ Aku lebih suka merayakan hari itu bersama kalian. Huhh…menyebalkan menjadi anak seorang raja. Semua seperti serba diatur…”
“Bukankah itu menyenangkan Rein ? Melakukan sesuatu secara teratur ?” tanya Aron, kini bangkit duduk. Semut-semut di tanah cukup mengganggunya.
“Aku memang keturunan raja. Tapi aku bukanlah orang yang menyukai keteraturan seperti kau Aron. Aku justru iri dengan Clay yang bisa hidup seenaknya,” Rein menatap Clay yang semakin asyik memunguti dan memakan buah Ore yang berjatuhan tadi.
“Rein benar, Aron. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada makanan….dan perempuan cantik berambut biru itu…,” kata Clay sembari memakan buah-buah itu. Wajahnya yang lebih menyerupai kucing daripada singa ini, tampak lucu dengan rambut yang bergerak-gerak di pipinya, seiring gerakan mulutnya mengunyah.
Aron dan Rein menatapnya dengan geli. Dasar singa gendut... Pikiran mereka sama.
Clay memiringkan wajahnya. Telinganya condong ke depan. Ia curiga dengan pandangan kedua temannya itu. Pasti mereka mengejekku.
“ Hei Aron… bagaimana denganmu ? tanya Rein.
“Aku akan membantu orang tuaku…menjual ternak kami di pekan raya,” jawab Aron. “Kami juga akan menjenguk kakak…”
Rein dan Clay saling menatap. ”Aron, tentang kakakmu… aku minta maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal ayahku raja negeri ini,” ucap Rein, menunjukkan rasa simpatinya.
“Aku juga Aron, yang bisa kulakukan hanya makan dan makan. Aku sama sekali tidak dapat membantumu,” sejenak Clay berhenti memakan buah-buah itu.
Suasana hening sejenak.
“Sudahlah. Keberadaan kalian sudah sangat membantuku melalui hari-hariku,” Aron menepuk bahu kedua sahabatnya itu.
“Rein, di balik status pangeranmu, aku sangat kagum dengan sifatmu yang sangat merakyat…meskipun terkadang kau agak keterlaluan..,” Aron mendapat pandangan sinis dari Rein. Tapi pangeran itu hanya berpura-pura tersinggung. Ia tertawa kemudian.
“Dan Clay…melihatmu yang selalu makan membuatku makin mencintai masakan ibuku…”
“Hahh … aku yang selalu makan ? Makanan adalah kehidupan, teman…” jawab Clay.
Ha-ha-ha…ketiga sahabat itu tertawa bersama.
“Teman-teman…kalian tidak ingin tahu apa rencanaku saat perayaanku nanti ? ” tanya Clay.
“Tidakk !!” jawab Aron dan Clay hampir bersamaan. Mereka tahu apa rencana Clay : memborong banyak makanan di pekan raya, seperti biasanya.
“Oh..hari sudah siang…” Aron melihat Bintang Ashura yang bersinar terik di atas. “Aku harus membeli makan ternak…,”
“Ya, aku juga harus mencicipi makan siangku…hi hi hi,” kata Clay. Tangannya penuh dengan buah Ore yang belum sempat dimakan.
“Baiklah, kita bertemu lagi besok… oh… ada sesuatu yang lupa kukatakan,” Rein teringat sesuatu.
“Clay, aku bertemu ayahmu di pangkalan naga kemarin. Ia tampak gagah dengan jubah perangnya,” kata Rein. “Kalau tidak salah…ia memimpin beberapa prajurit untuk suatu misi di Prazea.”
“Tentang itu…,” Clay menganggukkan kepala. “Ayahku juga sudah bercerita sebelum berangkat. Ibuku sempat melarangnya…tapi itu kan tugas kerajaan…tak ada yang dapat mencegahnya…”
“Prazea ? Bukankah kata guru… kerajaan tersebut sedang mengalami konflik ?” sahut Aron.
“Memang itu misi yang berbahaya…sepertinya,” Rein menatap Clay.
“Wah…kalian belum tahu kehebatan ayahku…,” Clay tersenyum bangga. “Ia adalah prajurit yang sangat kuat dan hebat. Aku ingin menjadi seperti dia..hmm.”
“Baiklah… kita harap ayah Clay dan yang lainnya akan baik-baik saja…teman-teman, aku pergi dulu…,” Aron berpamitan, kemudian beranjak pergi.
Akhirnya ketiga anak tersebut berpisah. Meninggalkan taman istana. Sisa-sisa buah Ore yang dimakan Clay berserakan di bawah pohon asalnya. Pohon Ore, tempat ketiga anak tersebut berkumpul, menjadi saksi bisu persahabatan mereka selama ini. Dan ia akan merindukan canda tawa tiga sahabat itu. Karena hari ini adalah terakhir kalinya mereka dapat berkumpul dan bermain di taman ini.