Perundingan
Hari masih pagi ketika Mira dan Kiel tiba di istana kerajaan Denia. Ternyata mereka bermaksud menemui Raja Rainhill. Para prajurit penjaga sempat cemas melihat kedatangan mereka tadi. Akibat perang dingin yang tengah terjadi tentunya.
Untungnya Mira dan Kiel dapat meyakinkan para penjaga itu, bahwa mereka datang ke Denia, tanpa kawalan pasukan, dengan maksud damai. Untuk urusan diplomatik. Lagipula Naheim, beberapa waktu lalu, telah mengirimkan surat pemberitahuan mengenai kedatangan dua utusannya ini.
Kedua orang ini telah mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas untuk cuaca Denia. Namun syal khas Naheim masih terlilit di leher mereka masing-masing.
Para prajurit mengawal mereka hingga ruang pertemuan istana. Sebuah meja pertemuan berbentuk lingkaran terdapat di dalamnya.
Sang raja telah ada di situ lebih dulu. Hadir besertanya yaitu Jenderal Zallo, Wakil Jenderal Pertama Erica, Penasehat Ben, Guru Besar Pareseus, dan Hakim Agung Saxa.
“Hormat kami, Yang Mulia Raja Rainhill…dan Para Pejabat Tinggi Kerajaan…,” Mira memberi salam hormat, diikuti Kiel. Para prajurit berjaga-jaga di pintu.
“Selamat datang, Kapten Mira Lastania…dan Kapten Kielheim Helarius…,” Raja membalas salam mereka dan mempersilakan duduk.
“Panglima Naheim… mengingat hubungan antara kedua kerajaan kita saat ini… kuharap kalian datang dengan alasan yang baik pula,” kata Raja, sambil duduk lagi di kursinya.
“Yang Mulia, kedatangan kami ini berhubungan dengan pertemuan Raja-raja Eternia yang akan berlangsung 6 hari lagi,” Mira tidak dapat mengubah nada bicaranya yang agak keras itu.
“Oh ya ? ” kata raja.
“Jika Naheim ingin membicarakan sesuatu, kenapa tidak di pertemuan itu saja ?” Jenderal Zallo menimpali.
“Menurut raja kami, hal ini harus dibicarakan sebelum pertemuan tersebut. Ini demi nama baik kita bersama,” ujar Mira.
“Ya, kami ingin berunding. Lebih tepatnya…menawarkan perdamaian,” lanjut Kiel.
Perkataan Kiel memancing reaksi para pejabat.
“Perdamaian ? Kalian serius ?” tanya Wakil Jenderal Erica, wanita kedua di ruang itu, selain Mira.
Raja Rainhill berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati tempat duduk Mira. “Nama baik….perdamaian…apa maksud kalian sebenarnya ?”
“Yang Mulia Raja, akan tidak baik bila kita, yang akan berbicara bersama di forum pertemuan se-Eternia, tetap berada dalam kondisi bermusuhan seperti saat ini,” Mira tetap bicara tegas, meski raja ada begitu dekat dengannya.
“Hmmmm….,” raja berputar, kembali ke tempatnya. Ia tidak duduk, hanya memegangi sandaran kursinya.
“Ijinkan saya berbicara, Yang Mulia,” Ben, sang penasehat mencoba menanggapi. Raja mengangguk.
“Kapten dari Naheim, maafkan bila saya lancang. Tapi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan di sini. Jika kalian ingin menghentikan perang dingin, kenapa tidak melalui raja kalian sendiri ? Atau, ia mungkin bisa membicarakan hal ini di pertemuan raja-raja beberapa hari lagi. Langsung, di hadapan semua raja,” Ben mencoba menganalisis permasalahan.
“Lalu… masalah nama baik yang kalian singgung tadi. Coba kutebak, kalian hanya menginginkan persetujuan dan dukungan langsung dari kami, agar gagasan kalian untuk menggunakan Guardian diterima oleh raja-raja lain…apakah begitu ?” Ben membenarkan posisi duduknya. Mengatupkan kedua tangannya di depan dagu.
Tanpa menunggu lama, Mira langsung menjawab. “Pertanyaan Anda sangat bagus, Tuan. Memang Raja kami sendiri amat sangat berhalangan untuk saat ini. Beliau sedang melakukan sesuatu yang sangat penting,”
Sesuatu yang penting ? Lebih penting dari masalah perang dingin ini ? Pikir Zallo.
“Dan…tebakan Anda sepertinya benar, Tuan. Kami sangat memerlukan dukungan kalian….mengenai Guardian” lanjut Mira.
“JAWABNYA TIDAK !!!” tiba-tiba raja berkata dengan lantang. Suasana ruang pertemuan menjadi hening untuk sejenak. “Kerajaan Denia TIDAK AKAN PERNAH menyetujui atau memberi dukungan atas gagasan itu…,”
“Extrema…Extrema…,” sahut Pareseus. Pejabat tinggi yang merupakan salah satu dari bangsa Thota – anima dengan kepala menyerupai burung hantu – ini memang sering mengucapkan kata Extrema … semacam kebiasaan.
” Kalau Guardian sampai terbangun..,” Pareseus mendongak ke atas dan mengangkat kedua tangannya yang bersayap. Berlagak seperti mengangkat sesuatu. “Maka pondasi Eternia akan goyah…Extrema…itu tidak boleh !”
“Yang Mulia Raja.,” Kiel memberanikan diri untuk berbicara. “Maaf…tapi sepertinya Denia tak punya pilihan lagi. Dan ada beberapa hal yang sangat mendukung gagasan kami ini.”
“Dengarkan ! Raja-raja Denia telah memegang prinsip ini semenjak dahulu. Menjaga makam Aezerion adalah bagian dari tugas kami sebagai raja,” ucap raja tegas. ” Jika kalian memiliki alasan masuk akal untuk melakukan keinginan kalian…tolong katakan !!”
“Ini mengenai pergerakan tiga besar organisasi kejahatan…saya harap anda semua sudah mengerti tentang ini,” lanjut Kiel.
“Hhhh…itu pekerjaanku sehari-hari,” kata Erica, yang memang bertugas memantau pergerakan-pergerakan yang mengancam Denia ini.
“Jangan meremehkan sistem informasi kami. Meskipun tak semaju Naheim, kamipun selalu mengetahui perkembangan terbaru di Eternia saat ini,” Jenderal Zallo berdiri dan mendekati peta besar Eternia yang terpampang di dinding ruang pertemuan itu. Ia bermaksud menerangkan sesuatu.
“Di benua Aezerial ini, Armada Tantra telah menguasai wilayah Aire, yang terletak di semenanjung barat, dan sebagian kecil Prazea di utara. Sedangkan perairan di sekitar benua Garderial dan benua DeRozzial, dikuasai oleh Para Penakluk Ardall. Akibatnya jalur transportasi dan perdagangan antar dua benua tersebut menjadi kacau. Kemudian, benua Unorial…,” Zallo berhenti sejenak sambil memperhatikan benua yang digambar di sisi paling timur peta itu.
“Hampir setengah wilayah timur benua ini dikuasai oleh Pasukan iblis Evillian…,” Zallo kembali ke tempat duduknya. ”Itu semua belum termasuk para ekstrimis… pemberontak…dengan jumlah yang lebih kecil dan wilayah aksi yang lebih sporadis…,”
“Extrema … Extrema …,” Pareseus merasa takjub dengan penjelasan Zallo.
“Gila. Benar-benar gila… apa sebenarnya keinginan mereka ? Tujuan mereka ?” tanya Raja, menanggapi Zallo.
“Entahlah, Raja…kekuasaan, kekayaan atau mungkin dendam masa lalu..kita belum yakin apa motif mereka sebenarnya,” jawab Zallo.
“Impian Eternia…,” Mira mengucapkan sesuatu yang begitu mengejutkan semua orang. Hakim Saxa yang hampir tertidur karena mengantuk, langsung terjaga mendengar kata-kata itu. Impian…
“Kami tidak tahu dengan organisasi lainnya; tapi Armada Tantra berambisi menguasai benda tersebut.” lanjut Mira. “Kami mengetahuinya beberapa saat yang lalu, dari pasukan mereka yang kami kalahkan di sekitar Pulau Krha, sebelah barat Nesterial.”
“Guru…apa yang Anda ketahui tentang Impian Eternia ini ?” tanya Raja pada Pareseus.
“Bagaimana kita bisa ada… bagaimana kita bisa hidup… bagaimana akhir eksistensi semua makhluk….,” Pareseus melontarkan pertanyaan retoris. “Bahkan seorang anak pun akan memahami semua itu…bila ia memiliki sesuatu yang disebut Impian Eternia…Extrema…Extrema .
“Oh…jadi itu semacam pengetahuan yang paling agung….,” sela Erica.
“Bukan !! Hmmm….lebih tepatnya…tidak tahu…,” Pareseus menggeleng-gelengkan kepala. “ Apapun ujudnya, beberapa sumber-sumber kuno menyatakan keberadaannya…Extrema...”
“Untuk sementara kita tunda dulu membahas hal tersebut,” raja Rainhill berusaha kembali pada topik utama. “Apa hubungan pergerakan organisasi-organisasi kejahatan tersebut dengan Guardian ?”
Orang-orang kembali memusatkan perhatian pada topik ini.
“Yang Mulia Raja…Anda, dan juga pejabat lainnya, pasti takkan menyangka dengan apa yang telah terjadi saat kami menghadapi Tantra di Pulau Khra tersebut,” Kiel mulai menjawab.
“Meskipun mengerahkan Armada Siluman kebanggaan Naheim, saat itu kami hampir saja kewalahan. Padahal pasukan Tantra lebih sedikit jumlahnya. Anda semua tahu apa sebabnya ?” Mira melanjutkan. Ia menatap wajah Raja dan semua pejabatnya. Tampaknya mereka tidak tahu. “Tantra menggunakan kekuatan Titan. Dan bukan main-main, mereka menggunakan jenis Heraldic Titan…”
Semua orang lagi-lagi terkejut. Tadi mereka menyinggung tentang Impian Eternia. Sekarang tentang Titan. Ini benar-benar di luar penalaran….
“Titan ?” Raja terheran-heran. Tidak seperti perihal Impian Eternia sebelumnya, tampaknya ia cukup mengerti tentang yang satu ini.
“Itulah alasannya kenapa kita harus menggunakan kekuatan Guardian. Dan, sesuai keyakinan kuno, hal itu harus dimulai dari sini. Kita harus membangkitkan Aezerion.” Mira menyelesaikan penjelasannya.
Seharusnya Titan tidak ada lagi di masa kini. Kenapa ini bisa terjadi ? Ahh… Satu lagi masalah memenuhi pikiran raja.
“Hoho…Extrema…Extrema…tampaknya semakin menarik. Satu lagi poin penting dalam sejarah muncul lagi di sini,” Pareseus menunjukkan rasa antusiasnya mendengar hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Karena inilah makanan-nya sehari-hari
“Hai…orang Naheim, kenapa kalian mengemukakan hal-hal yang serba aneh ini .. uhuk..uhuk…,” Hakim tua Saxa akhirnya berbicara. Ia memang kurang sehat hari ini. Semalaman ia tidak tidur mengerjakan banyak hal di Mahkamah Kerajaan.
“Ini kenyataan, Tuan-tuan…,” Mira menatap semua orang di hadapannya. ” Raja…kami mohon pertimbangkanlah…demi mengakhiri perang dingin ini…”
“Keras kepala juga wanita Naheim itu…,” gumam Erica.
“Ya…sama seperti kau, Nyonya Besar…,” sahut Zallo, yang duduk di sebelahnya, dengan nada pelan.
Keadaan ini sungguh membingungkan. Apa yang harus kulakukan ? Pikiran raja terasa semakin kalut.
Perundingan pun terus berlangsung. Berbagai pertanyaan maupun komentar terlontar; mendesak Mira dan Kiel untuk menjawab se- masuk akal mungkin.
Tak terasa waktu telah berjalan lama. Merasa cukup, raja bermaksud mengakhiri perundingan ini.
“Saudara-saudara… masih adakah yang ingin kalian sampaikan ?” Raja bertanya pada para pejabatnya. Mencoba menutupi kekalutannya.
Tampaknya tidak ada lagi yang ingin berkomentar.
“Para perwira Naheim…kami..berterima kasih atas semua informasi yang kalian berikan…,” ujar Raja. ”Kami perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Kita akan memberikan jawaban pada pertemuan raja-raja nanti.”
Mira menatap sang raja, yang akan mengakhiri perundingan ini. Ia sebenarnya tidak puas dengan jawaban tadi.
“Baiklah kalau begitu. Tapi…ada satu hal lagi yang ingin kami sampaikan…,” Mira mengajukan satu hal lagi. “Kami telah mendengar tentang Panglima Artea…tolong bebaskan dia.”
Raja hanya diam. Ia memandang Hakim Saxa. Sang Hakim mengangguk, mengerti apa maksud raja meskipun tanpa berbicara.
“Hingga saat ini..uhukk…status Artea masih sebagai pengkhianat. Tiga tahun lalu, dirinya sendiri yang dengan jelas mengatakan keberpihakannya pada Naheim. Uhukk…uhukk…Dan, ia sendiri juga yang melepas statusnya sebagai seorang Denia. Itu sudah cukup untuk memberinya hukuman.” ucap Saxa, mencoba mempertahankan kebijakan hukuman yang dijatuhkan pada Artea.
“Artea bukan pengkhianat !!” Mira berdiri dan berkata dengan lantang. Kiel di sampingnya saja terkejut. Kenapa perempuan ini ? Ia menarik lengan Mira.
“Artea hanya memilih jalan yang dianggapnya benar !!! Ia sama sekali bukan…”
“DIAMM !!!!” Raja berbicara keras, memotong ucapan Mira. “ Jangan ikut campur urusan dalam negeri kami !!”
Mira bersungut-sungut. Kiel mencoba menenangkannya. Bisa gawat kalau emosi perempuan ini sampai meledak…
Penasehat Ben juga mencoba menenangkan sang raja.
“Kapten Mira dan Kapten Kiel… tampaknya perundingan ini CUKUP sampai di sini. Kembalilah ke negeri kalian. Dan katakan pada raja kalian tentang jawaban kami tadi. Selamat jalan. Pengawal ! Antarkan tamu-tamu kita ini…” Raja beranjak dari tempat duduknya. Menyimpan berbagai permasalahan yang harus dibahas lebih lanjut lagi.
Ia meninggalkan ruang pertemuan, diikuti pejabat lainnya.
Mira dan Kiel pun meninggalkan ruangan tersebut. Mereka kurang senang dengan hasil perundingan ini. Bagaimana pun tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka harus kembali ke Naheim, apapun hasilnya.
“Mira, apa-apaan kau tadi ? Untuk apa kau membicarakan soal Artea ?” Tanya Kiel saat mereka berada di jalanan kota.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya… Artea seperti menjadi kambing hitam dalam permasalahan ini.” Mira berjalan pelan. Ia menatap jalanan di bawahnya. Sesekali menyibak rambut panjangnya yang berwarna biru, yang sering menutupi wajahnya yang sebenarnya lumayan cantik.
“Artea…hmm…kerajaan kita memang membutuhkan orang seperti dia. Selalu yakin pada keputusannya dan tak pernah takut pada apa yang dihadapinya,” Kiel tersenyum sendiri. “Sayang, tampaknya aku takkan pernah bertemu lagi dengannya…atau berlatih tanding lagi dengannya…,”
Artea, harapan kita untuk kedamaian Eternia akan terwujud. Aku pasti akan membebaskanmu… Mira mengepalkan telapak tangannya erat-erat. Jauh di dalam hatinya, Mira merasakan sesuatu tentang Artea. Ia benar-benar menyukai lelaki itu.
“Ahhh… ! ” badan Mira terhuyun. Ia terkejut. Mendadak ada sesuatu yang menabraknya dari belakang. Ia bisa saja terjatuh bila Kiel tidak memeganginya.
“Aduhh….apa yang…,” ia melihat sesuatu yang menabraknya itu.
Ternyata seorang Baste muda. “Ma-maafkan aku…nona..,” ujarnya sambil cengar-cengir dan menggoyangkan ekornya.
“Aku tidak sengaja…permisi…,” Baste tersebut segera berdiri dan berlari meninggalkan dua orang Naheim tersebut. Tampaknya buru-buru sekali.
“Hei…bocah..!!” Kiel berusaha memanggilnya, sebelum sosok anak itu hilang bersama kerumunan orang di jalan.
“Sudahlah, Kiel…biarkan bocah nakal itu…,” Mira membenarkan pakaiannya yang kusut, lalu melanjutkan perjalanannya.
“Kiel…kita pulang…,”
Sementara itu di pegunungan San, jauh di belahan utara Eternia, di benua Senterial. Seorang kakek pendeta berjubah putih sedang menyalakan lilin di dalam kuil.
Di belakang barisan lilin itu terdapat patung yang menggambarkan Sang Superian, Zellion Agung. Patung Zellion dibuat menyerupai manusia Celestian dengan pakaian seperti seorang raja dengan sebuah telur dalam pelukannya. Para pendeta yakin bahwa telur itulah yang melahirkan ras manusia Celestian yang pertama.
Di depan kaki patung Zellion terdapat 7 patung kecil. Mereka adalah patung para Guardian yang diutus sebagai roh penjaga benua. Aezerion, DeRozzion, Garderion, Nesterion, Senterion, dan Unorion. Terletak di tengah 6 patung tersebut adalah patung Guardian yang dianggap paling tinggi tingkatnya, yaitu Gallion.
Lilin terakhir baru saja dinyalakan ketika angin kencang, yang entah dari mana datangnya, berhembus dan memadamkan lilin-lilin tersebut. Ruangan tersebut menjadi gelap.
“Jangan berbuat usil, angin. Biarlah aku menerangi patung-patung ini,” pendeta tua itu bicara dengan nada arif, seolah-olah ia dapat berbicara dengan angin.
Ia bermaksud menyalakan lilin-lilin itu kembali saat sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi. Telur yang dipeluk patung Zellion tiba-tiba bersinar putih terang. Makin lama membuatnya silau. Ia jatuh terduduk.
Sinar itu makin memenuhi ruangan dalam kuil. Dalam sekejap pendeta itu seperti merasa tidak di dunia lagi. Sekelilingnya adalah sinar putih. Samar-samar ia mendengar sesuatu : Ia datang….ia datang…