Anak, Ayah, dan Raja
Hari sudah menjelang senja di bukit padang rumput itu. Karena tempatnya yang lebih tinggi dari daerah sekitar, maka udara di sini cenderung lebih sejuk. Pohon Dodo, yang tinggi menjulang dengan daun hijaunya yang sekilas seperti kapas, tampak di beberapa tempat. Cockatrice liar sering bertengger di cabang-cabang pohon besar ini. Di antara rerumputan juga tampak beberapa tumbuhan, seperti bunga Scarlet. Bunga ungu yang mirip mawar ini hanya tumbuh di beberapa dataran tinggi di Aezerial. Tak terlalu jauh dari situ, di sebelah timur, dapat dilihat kebun buah Fu-Fu yang dimiliki beberapa penduduk di sekitar.
Dari atas bukit hijau ini dapat terlihat ibu kota Kerajaan Denia. Kota besar yang masih mempertahankan artistik kunonya, bersanding selaras dengan hal-hal baru yang mulai tampak di berbagai aspek kehidupan. Kota tempat raja berada ini menjadi pusat roda kehidupan Denia secara keseluruhan, seperti halnya ibu kota kerajaan yang lain.
Secara geografis, Denia memang berada di lokasi yang strategis sekaligus indah. Berada tepat di tengah benua Aezerial, dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Total ada enam kerajaan di Aezerial, termasuk Denia. Alam di Denia didominasi oleh perbukitan, hutan, dan padang rumput. Tempat yang baik untuk membesarkan anak. Demikian kata orang-orang tua.
Tampak pasangan ayah-anak sedang berlatih bela diri di atas bukit itu. Tak peduli pada hari yang mulai gelap dan hawa yang makin dingin. Pepohonan dan binatang- binatang kecil seperti menjadi penonton dari semangat mereka.
Rumput beterbangan. Si anak, yang ternyata Aron, berlari di atasnya, kemudian melompat. Menerjang ke arah ayahnya.
Hiaattt !!! Aron melancarkan pukulan tangan kanannya dengan sekuat tenaga ke wajah ayahnya.
“Lambat..,” Alcon dengan elegan memutar badan 90 derajat, menghindari pukulan itu.
Masih melayang di udara, Aron mengincar bagian belakang kepala ayahnya. Kali ini dengan tendangan. Wuuttt !!!
“Lebih lambat….,” Alcon dengan cepat membungkukkan badan. Kaki Aron hanya mengenai sedikit rambutnya yang sudah memutih.
Dua kali serangan Aron gagal. Baru sesaat ia melihat ayahnya jongkok menghindari tendangannya tadi, tiba-tiba tubuh orang tua itu sudah melayang jauh di atasnya. Cepat sekali.
Dari ketinggian, Alcon meluncur turun. Bermaksud menyerang balik.
Kesempatan. Aron berpikir ia memiliki keuntungan: karena ayahnya yang ada di udara pasti tidak dapat mengubah posisinya bila diserang.
Aron bertumpu pada kedua kakinya, lalu meloncat sekuat tenaga, menyambut sang ayah. Penuh keyakinan.
Gerakan kedua orang itu membentuk siluet yang seolah-olah membelah vertikal Bintang Ashura – matahari Eternia – yang mulai tenggelam di ufuk barat.
Tubuh keduanya pun bertemu di udara. Aron melancarkan pukulannya. Kena !!!
“Terlalu lambat…,” suara itu datang dari belakang Aron. Entah sejak kapan, tubuh sang ayah yang harusnya berada di atasnya menghilang. Dan kini tiba-tiba berada di sebelah belakangnya.
Aron baru saja akan menoleh ke belakang, ketika ayahnya menendang punggungnya dengan keras.
Duakkkk !!!!
“Arrghhh !!!!!” Aron melayang jatuh. Tendangan ayahnya cukup kuat.
Bruukk !!! Tubuhnya mendarat di bantalan tanah berumput hijau itu. Yang tentunya tidak memberikan kenyamanan seperti kasur tidurnya di rumah. Seekor kelinci menghindar, hampir saja tertimpa tubuhnya. Kelinci itu berlari menjauh dan bersembunyi di balik tumbuhan.
Alcon pun mendarat. Tersenyum menyaksikan anaknya yang terkapar di tanah. “Ashura akan lebih dulu tenggelam ketimbang gerakanmu, anak muda…,”
Aron hanya meringis. Ia bangkit berdiri. Menahan nyeri di punggungnya. Pakaiannya kotor terkena rerumputan. Hari yang buruk, tak ada satu pun seranganku yang mengenai ayah sejak tadi…sial….
“Bagaimana ? Menyerah ?” sindir Alcon.
“Takkan pernah !!” dengan sisa kekuatannya, Aron kembali menyerang. Kali ini ia bergerak dengan cepat, kesana kemari, mengelilingi ayahnya. Mencoba mencari titik lemah.
Hmm anak keras kepala. Aku kerjai saja...Pikir Alcon.
Hiaattt !!! Aron beraksi. Ia mencoba menyarangkan pukulannya ke tengkuk Alcon. Ia merasa sang ayah tidak dapat menghindari gerakannya yang acak dan cepat ini.
Berhasil !!! Eh…., Aron tidak jadi senang. Ia justru bingung. Menengok ke sana kemari. Depan-belakang, kanan-kiri, atas-bawah. Ke mana Ayah ?
Tubuh Alcon tidak ada di situ lagi. Hanya tinggal Aron sendiri. Kweekkk kweekkk. Terdengar suara cockatrice liar terbang di atasnya. Angin berhembus menerpa rambut pirangnya. Kelinci yang tadi, keluar dari tempat persembunyiannya. Melompat-lompat ke arah Aron. Kelinci itu sempat menengok dan menatapnya. Ia menggerak-gerakkan hidung kecilnya, seakan mencemooh Aron, lalu melompat pergi entah ke mana. Lho ?
“Hei, Aron !!! Coba rasakan bekal buatan ibumu…lezat sekaliiii !!!” suara yang menyebalkan itu terdengar dari kejauhan. Aron menatap asal suara itu. Seorang lelaki tua, dengan mulut penuh makanan dan wajah yang ceria, melambaikan tangan padanya. Sejak kapan ayah ada di sana ? Aron merasa dibodohi.
Sudahlah… Aron mendesah. Ia sendiri sudah merasa lelah. Saatnya istirahat. Ia berjalan dengan gontai, menuju ayahnya. Jangan sampai bekal itu habis sebelum ia sempat mencicipinya.
Tiap hari, sepulang dari akademi kerajaan, Aron selalu meminta ayahnya untuk melatihnya bela diri. Ia tidak mau berlatih dengan ahli bela diri kerajaan. Ya. Ayahnya sendiri, Alcon Vincellion, adalah mantan Kapten armada perang III Kerajaan Denia. Ia meninggalkan kerajaan pada usia yang belum terlalu tua. Alasannya sangat sederhana. Ia ingin lebih dekat dengan keluarganya. Selain itu, impiannya untuk memiliki peternakan sendiri ternyata lebih kuat daripada posisi penting di kerajaan. Konyol ? Tidak baginya.
“Ayah…kenapa aku tidak bisa memiliki kekuatan Celestian seperti ayah dan kakak…?” tanya Aron pada ayahnya saat mereka beristirahat dan memakan bekal dari rumah.
“Kekuatan Celestian… apakah kau tahu kekuatan apa itu sebenarnya ?” Alcon balik bertanya.
“Dulu, Tuan Harden, guru bela diri di akademi, pernah bercerita tentang hal ini,” Aron memotong roti buatan ibunya dan memberikan potongan yang lain kepada ayahnya.
“Pada dasarnya dunia kita, Eternia, bukanlah sekedar kumpulan tanah, air, dan udara. Eternia adalah suatu bentuk kehidupan sendiri. Ia layaknya individu seperti kita. Eternia adalah ibu untuk semua bentuk kehidupan yang ada. Dan Eternia pun memiliki impian seperti kita. Impian Eternia adalah kehidupan yang damai dan selaras untuk semua makhluk,” Aron menghentikan ucapannya sejenak. Ia menatap bintik-bintik cahaya lampu yang mulai menyala di ibu kota Denia yang tampak di seberang sana.
“Impian Eternia tersebut akan lahir dalam diri kaum Celestian yang terpilih… dan akan menjelma sebagai kekuatan istimewa, apabila mereka mampu mengendalikannya.” Aron mengambil lagi roti di keranjang. “ Seperti Ayah dan kakak yang memiliki kekuatan Celestian tipe Hyper.”
“Waow. Tak kukira si Tua Harden itu sudah mengajarkan hal ini padamu. Memang benar bahwa impian Eternia akan menjelma sebagai kekuatan Celestian, tapi…,” Alcon menepuk kepala Aron. “Meski kita tidak memiliki kekuatan Celestian, kita masih memiliki impian kita sendiri. Dan itulah yang akan menjadi sumber kekuatan kita.”
“Contohnya ?”
“Andaikan aku tidak memiliki kekuatan ini, aku masih memiliki impian yang jauh lebih penting. Dan aku hampir saja meraihnya…. hidup di peternakan di atas bukit ini, bersama istri yang baik dan anak-anak yang menyebalkan,” Alcon memasang wajah penuh bangga.
“Hei … siapa yang menyebalkan ?” Aron memukul lengan ayahnya. Dalam hati ia mengerti maksud kata hampir tadi. Ini berhubungan dengan kakaknya.
“Aduhh… Ha-ha-ha… Sudahlah… Kita harus pulang sekarang. Ibumu sudah menunggu. Siapa yang sampai lebih lambat di rumah maka ia harus memberi makan ternak besok pagi,” dalam sekejap Alcon sudah berlari jauh di depan Aron.
“Heeiiiiii….Ayah curang !! Jangan menggunakan kekuatan Celestian !! Sial…,” Aron kesal karena ia pasti lebih lambat sampai di rumah. Dan ia harus memberi makan ternak besok.
“Impian Eternia…kekuatan Celestian…,” sekali lagi Aron menatap langit yang makin terlihat memerah bersama tenggelamnya Bintang Ashura. “Kakak, bagaimana kabarmu…,”
Penjara Kerajaan. Sel khusus no.2. Tampak seorang lelaki terduduk lesu. Ia adalah Artea Vincellion. Hukuman seumur hidup ? Baik. Aku akan tua dan mati di penjara ini. Dan negeri ini akan hancur. Semua akan hancur.
Ia melihat keluar melalui jeruji jendela. Ayah, Ibu, Aron…aku adalah pengkhianat, aib keluarga. Lebih baik kalian meninggalkan negeri ini. Sebelum kehancuran datang.
“Artea !! Ada yang ingin menemuimu !” suara sipir penjara itu membuyarkan lamunannya. Siapa ? Artea beranjak keluar dari sel penjaranya. Dua orang pengawal elit mengawalnya. Mereka menuju ke ruangan khusus yang disediakan bagi pengunjung yang ingin menjenguk para tahanan.
Ruangan itu seperti bilik kecil. Tempat untuk pengunjung dan tahanan dibatasi oleh kaca. Artea duduk di kursi yang disediakan. Dan ia tidak terlalu terkejut dengan sosok orang yang ingin menemuinya malam itu. Sang Raja, Rainhill Denia Malhorn, duduk di hadapannya. Mengenakan jubah ungu panjang. Kumis tebal di atas bibirnya ikut menunjukkan wibawanya.
“Oh, yang mulia raja. Ada apa hingga orang tertinggi di Denia ingin menemuiku malam-malam begini ? Bukankah ini jam makan malam kerajaan ? ” Artea bertanya dengan senyum sinis terpampang di bibirnya.
“Yahh…aku hanya sedikit bosan dengan rutinitas istana. Kau tahu…belakangan ini aku lebih sering makan malam sendiri. Anakku, Rein, jarang sekali makan bersama. Tampaknya ia benar-benar akrab dengan adikmu. Sepertinya malam inipun ia bermain ke rumahmu. Padahal aku sudah melarangnya tadi…,” kata Raja Rainhill.
“Hmmm…itulah anak-anak. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Sebelum mereka tidak memiliki kesempatan seperti itu lagi…,” paras Artea yang semula ramah berubah. Dua orang itu saling menatap dengan tajam. Tampaknya usai sudah pembicaraan basa-basi.
“Artea, aku memberimu kesempatan kedua…,” Raja membuka pembicaraan yang sekarang lebih serius.
“Kesempatan kedua…aku tak percaya Anda akan melakukannya. Adalah tabu bagi raja untuk menarik setiap kebijakannya….,”Artea menanggapi tawaran tersebut.
“Dengarkan dulu. Hukuman yang dijatuhkan padamu, hampir sebagian besar adalah keputusan mahkamah kerajaan. Aku sendiri kurang begitu setuju dengan hukuman seumur hidupmu…,” kata Raja, berusaha meyakinkan Artea.
“Huh..apa maksud Anda sebenarnya ? ” Artea masih saja tak percaya pada raja.
“Artea, bersumpahlah di hadapan mahkamah bahwa kau telah melupakan ambisimu 3 tahun lalu, dan bersumpahlah juga bahwa kau bukan mata-mata Naheim….,”
Braakkk !!! Artea menggebrak dinding di sampingnya. Ia marah. “Jika itu yang ingin kau tawarkan…lupakan !!! Lupakan ide keringanan hukuman itu !!!”
Raja diam sejenak. Menunggu hingga Artea tampak tenang kembali. “Artea, sebenarnya apa yang menjadi obsesimu ? Aku terus memikirkannya selama ini. Namun aku masih belum menemukan jawabannya,”
Artea berusaha mendinginkan kepalanya yang penuh emosi. “Raja, harus berapa kali saya katakan…sebentar lagi kejadian yang lebih menakutkan daripada Perang Merah akan terjadi. Takdir akan diputarbalikkan. Eternia akan menghadapi saat-saat kehancurannya. Tiga kekuatan besar dunia kejahatan akan bangkit dan menguasai dunia kita. Termasuk juga Denia !!”
Nada bicara Artea meninggi. Ia benar-benar serius. ”Satu-satunya harapan adalah Guardian. Kau mengerti kan maksudku ?”
“Dan kau pernah mengatakan … bahwa semua itu kau ketahui dari mimpimu ?” Raja balik bertanya.
“Mimpi…ramalan…insting…Apapun itu, aku telah memperoleh penglihatan akan semua itu. Dan itu nyata…” Artea berusaha mempertahankan ucapannya.
“Hhhh…Saat ini seluruh kerajaan di dunia memang sedang menghadapi ancaman dari ketiga kekuatan tersebut. Dan juga segala bentuk organisasi kejahatan lainnya. Namun menggunakan kekuatan Guardian adalah hal terlarang. Lagi pula aku takut bahwa Naheim yang ada di belakangmu akan menggunakan kesempatan ini untuk kepentingan mereka sendiri. ” kata Raja sembari mengelus kumisnya.
“Dengarkan aku !!!” Artea kembali marah. Matanya tampak membara.
“Sudah banyak yang menjadi korban. Lupakah kau akan pertempuran di Aire ?! Kau mengirimkan pasukan ke negeri-negeri lain. Tapi kenapa kau tidak mengirimkan lebih banyak bantuan ke Aire saat itu ?! ”
“Kita sudah pernah membahas hal itu, bukan..” Raja menjawab dengan sedikit ragu. “ Kerajaan Aire di barat tidak mungkin lagi dipertahankan. Untung saja kita mampu mengungsikan sebagian besar rakyatnya, termasuk orang-orang penting di kerajaannya.”
“Bohong !!! Kau hanya terlalu takut akan kekuatan Armada Tantra,” Artea menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. “ Aire memang kerajaan kecil. Tapi di sana juga hidup manusia seperti kita yang menginginkan kedamaian. Setidaknya kita bisa menahan serangan Tantra saat itu jika kau mau mengirimkan bala bantuan. Dan orang-orangku tidak akan mati begitu saja…”
“Oh…aku memang mendengar bahwa hampir seluruh pasukanmu tewas dalam perang itu. Aku turut berduka akan …,”
“Diam !!! Aku tak butuh simpatimu. Selama ini kalian para raja selalu bicara dan bicara. Apa yang telah kalian perbuat ? Mana rasa peduli yang kalian miliki ?!! ” Artea benar-benar di puncak emosinya. Kenangan pahit masa lalunya kembali terbayang.
Raja tertunduk lesu. Sebenarnya ia sadar bahwa keputusannya bersama dewan kerajaan pada saat itu sangat riskan. Namun semuanya telah diperhitungkan. Aire memang harus jatuh ke tangan Tantra, atau perang akan terus berlanjut, dan memakan korban lebih banyak lagi.
Bagaimanapun, Raja tidak tahu sikap Tantra yang sebenarnya. Hanya Artea dan pasukannya yang menjadi saksi kekejaman mereka. Armada Tantra tidak mengenal istilah menang karena lawan menyerah. Mereka selalu berperang demi kemenangan mutlak. Bendera putih tidak ada artinya bagi mereka.
“Artea, tampaknya pembicaraan kita sia-sia,” Raja berdiri, lalu beranjak pergi. Sebelum keluar dari bilik, ia berbalik menatap Artea.
“Baru saja aku menerima undangan untuk menghadiri pertemuan raja-raja Eternia. Tampaknya aku tidak bisa mengikuti perayaan tahun ini,” Raja menghela nafas panjang.
“Di pertemuan itu, kami akan membicarakan rencana untuk menghadapi ketiga organisasi kejahatan yang kau sebutkan tadi. Dan aku pastikan…TIDAK AKAN ADA gagasan untuk menggunakan Guardian,” Raja menyelesaikan perkataannya dan keluar dari bilik.
Artea pun segera bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali ke sel bersama pengawalnya tadi. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia tidak dapat berpikir dengan baik sekarang. Ia hanya ingin tidur dan melupakan pembicaraan malam ini.