Hidup Helarius !!!
Gedung dewan keamanan Kerajaan Denia. Tampak orang-orang lalu lalang. Mereka adalah para pejabat dan juga prajurit dari berbagai tingkat. Sibuk dengan tugasnya masing-masing. Bangunan terbesar kedua di Denia setelah Istana Raja ini tak pernah sepi memang. Bahkan terlihat paling sibuk dibandingkan tempat-tempat pemerintahan lain.
Berbentuk segi empat jika dilihat dari atas, secara keseluruhan bangunan gedung ini bisa dibilang sederhana. Hal ini berlaku juga pada bangunan-bangunan kerajaan lain. Denia, meskipun menduduki posisi sebagai sentra kerajaan di Aezerial, terkenal sebagai negeri yang ’sederhana’. Kerajaan tidak akan membuang-buang anggaran hanya untuk membangun gedung-gedung yang megah. Dana yang dimiliki lebih diutamakan untuk membangun tempat-tempat yang berguna untuk rakyat, seperti sekolah, pasar, pusat kesehatan, dsb.
Isu tentang ancaman organisasi kejahatan yang mengancam keberadaan Denia menjadi topik panas, terutama di kalangan dewan keamanan. Padahal mereka masih harus membantu mengatasi konflik di kerajaan tetangga. Boleh dibilang saat ini jumlah personel keamanan di Denia sangat minim. Beberapa ditugaskan ke kerajaan kecil lain di Aezerial. Beberapa Panglima juga ikut dalam misi tersebut. Memang sudah tanggung jawab Denia untuk membantu menegakkan keamanan di seluruh Aezerial ini.
Belum selesai masalah tersebut, muncul lagi masalah baru. Artea. Kasus yang menyebabkan perang dingin antara Denia dengan Naheim saat ini. Raja beserta semua kalangan kerajaan berusaha mencari cara agar tidak terjadi hal yang diinginkan, seperti perang. Tentu saja dewan keamananlah yang paling repot di sini. Mereka terus bekerja, menyusun rencana maupun kebijakan untuk mengkoordinir kekuatan pasukan yang tersisa. Kondisi keamanan yang serba minim ini memang sangat riskan.
Seorang Emerzian tengah berjalan menaiki tangga masuk ke gedung keamanan tersebut. Wajahnya tampak cemberut. Seribu pikiran berkecamuk di kepala prajurit Perie. Ia sedang kesal. Kesal karena tugas yang diembannya. Menjadi prajurit memang impiannya. Namun yang ia harapkan adalah perjuangan… pertempuran… semangat lelaki … keringat dan darah. Bukan hal sepele seperti mengantar pesan. Sepele…setidaknya begitu pikirnya. Sementara prajurit lain sibuk di urusan militer yang lebih bergengsi, Perie justru menjadi kurir untuk kerajaan. Perie Helarius, Emerzian, cucu dari mantan jenderal, adalah seorang kurir. Ini jelas-jelas lelucon. Perie menggerutu dalam hatinya.
Tugas kurir yang dijalani Perie pun selalu disertai bumbu sentimentil yang dibencinya. Seminggu lalu seorang ayah menangis di kakinya. Kemarin seorang ibu dan 3 orang anaknya, menangis di hadapannya, setelah mendapat berita bahwa si ayah yang prajurit, meninggal dalam tugas. Hanya hari ini saja yang agak berbeda. Seorang nenek yang sudah pikun justru tertawa saat diberitahu bahwa cucunya, yang juga prajurit, hilang dalam misi kerajaan. Nenek moyang Helarius pasti akan menertawaiku jika tahu aku menjadi kurir…hiks…Pikir Perie.
Ia terus berjalan, menuju ruang kerjanya yang membosankan. Pandangannya sempat tertuju pada sebuah patung besar yang dipajang di dalam gedung itu. Patung Ksatria Helarius. Cihh. Ia kembali merasa kesal.
“ Prajurit Perie !” suara yang keras dan penuh wibawa terdengar dari dalam ruangan yang baru saja dilewati Perie.
“Siap, Jenderal Zallo !” Perie segera memberi hormat begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Perie, kebetulan sekali…aku punya tugas untukmu,” kata sang Jenderal. Laki-laki umur 50-an yang berkepala gundul namun berjenggot lebat ini sekilas memang tampak bengis. Padahal ia dikenal sebagai salah satu petinggi kerajaan yang paling ramah dan arif pada orang-orang di bawahnya. “Perie, persiapkan dirimu. Mulai sekarang kau bergabung dalam pasukan khusus pengamanan peringatan 500 tahun Perang Merah.”
“Hah..oh..Siap laksanakan, Jenderal ! ” Dada Perie serasa bergejolak menerima tugas yang sepertinya penting ini.
“Sudahlah, jangan terlalu tegang. Tugas ini akan cocok untukmu. Kau tahu… perayaan kali ini tidak akan sama. Begitu juga di kerajaan-kerajaan lain. Kejahatan mulai menebarkan kekacauan di mana-mana. Negeri kita termasuk beruntung karena berada dalam situasi yang damai.”
“Kalau boleh saya tahu mengapa kita tidak menarik pasukan kita yang bertugas di negeri lain ?” tanya Perie.
“Itu sulit dilakukan, Perie. Kerajaan kita adalah yang terbesar di Aezerial sekaligus pelindung dari kerajaan-kerajaan lainnya di benua ini. Saat ini kekuatan kita diperlukan untuk membantu pertahanan mereka,” Jenderal beranjak masuk ke ruangannya.
“Detail tugasmu akan kujelaskan. Ayo masuk,” Jenderal Zallo mengajak Perie ke dalam ruangannya. Penjelasan tugas berlangsung cukup lama. Dan entah kenapa Perie menjadi bersemangat lagi setelah penjelasan selesai. Nenek moyang…kau tidak akan pernah menertawaiku lagi…
Pada saat yang sama di daerah pusat perdagangan ibukota Kerajaan Denia. Di tengah hiruk-pikuk pedagang dan pembeli. Seorang wanita Celestian berjalan dengan lelaki Emerzian. Cara berpakaian mereka agak aneh. Mantel tebal dengan syal musim dingin di leher mereka; padahal saat ini sedang musim panas di Denia. Bukan hal yang terlalu aneh sebenarnya. Banyak pendatang lain yang berpakaian seperti itu pula. Ya, mereka berasal dari Kerajaan Naheim di benua Nesterial yang terkenal dengan musim dinginnya yang sangat lama. Sehingga penduduk benua tersebut sudah terbiasa mengenakan pakaian musim dingin ke manapun mereka pergi.
“Denia, kerajaan terbesar di Aezerial. Ternyata hanya seperti ini. Yang kulihat hanyalah…ketidak majuan. Lihat kendaraan kuno itu. Bahkan leluhur kita pun hanya bisa melihat benda itu di museum…,” si wanita mulai berbicara. Kendaraan yang dimaksud adalah kereta kuda, yang banyak digunakan untuk perdagangan maupun transportasi.
Memang kendaraan berupa kereta tersebut termasuk kuno di Denia, bahkan di seluruh dunia. Toh, masih banyak yang menggunakannya karena lebih murah. Mungkin juga karena tradisi. Kereta ini tidak hanya menggunakan kuda biasa. Beberapa juga menggunakan sleipnir (kuda kaki 8). Untuk angkutan terbang biasa digunakan kereta cockatrice. Sedangkan untuk perairan biasa digunakan hipocampus atau kuda laut
“Kau terlalu naif, Mira. Di tempat inilah lahir banyak ksatria sejati yang sering diceritakan dalam sejarah,” balas si lelaki Emerzian itu.
“Ahh.., jangan mencampuradukkan kenyataan dengan insting petarung ala Emerzian-mu itu. Mungkin kau juga benar-benar terpengaruh oleh darah Helarius yang mengalir dalam dirimu itu,” ucap perempuan bernama Mira itu seraya mengamati buah yang ditawarkan oleh seorang pedagang kepadanya. Buah Fu-Fu yang selalu dipanen sepanjang tahun. Biasa digunakan sebagai bahan untuk membuat puding atau bisa juga dimakan langsung.
“ Dengar Kiel, sesuatu yang kuno hanya pantas masuk museum. Atau tempat lainnya yang sepadan dengan itu,” jawab Mira sambil mengembalikan buah kuning bulat itu. Ia lebih tertarik untuk membeli pakaian yang lebih nyaman saat ini.
“Tempat lainnya ? Bagaimana kalau hilang saja sekalian ? ”
“Hilang ? Ide yang bagus. Atau lebih tepatnya…musnah…”