Pahlawan itu Lahir di Sini…
“…yang disebut pahlawan. Sekian.”
“ Wow..!! Cerita yang sangat bagus, Rein. Ayo anak-anak, mana tepuk tangan kalian ?! “
Plok-plok-plok !!! Terdengar tepukan dari seluruh kelas setelah Rein menyelesaikan pembacaan hasil karya tulisnya. Hari ini ibu guru Molly meminta seluruh anak didiknya membacakan pekerjaan rumahnya. Dan Rein, yang mendapat giliran terakhir, sangat bangga karena ia yakin bahwa karya tulisnya akan mendapat nilai yang bagus. Ia kembali ke tempat duduknya dengan senyum lebar.
“ Yah…namanya juga anak penguasa. Pasti hanya tahu cerita seperti itu. Tidak menarik…”, celetuk anak yang duduk di belakangnya.
“Apa katamu ?!!”, Rein membalikkan badan dan berusaha mencengkeram kerah baju anak itu. “Dasar badan bola lemak..!!”.
“Hei !! Ini badanku sendiri !! Apa pedulimu ?!”, anak itu balik menyerang Rein.
Tanpa pikir panjang, bu Molly langsung menghentikan pertengkaran bodoh tersebut. “Hentikan anak-anak !! Jangan bertengkar !”, ia menjewer telinga kedua anak tersebut.
“ Clay, seharusnya kau lebih menghargai hasil karya orang lain. Dan Rein, tidak sepantasnya kau menghina kondisi fisik orang lain. Ayo saling minta maaf…”.
“ Huh…baiklah. Maafkan aku Clay. Nanti kau boleh makan sepuasnya di rumahku.”
“ Bagaimana ya…? Sudahlah…aku minta maaf juga. Apa tadi kau bilang ? Makan sepuasnya ? Asyiiikkk !! “, Clay memeluk Rein erat-erat. “ Akupun akan membiarkanmu makan daging panggang buatan ibuku sepuasmu.”
“ Aarrgh !! Jangan memelukku !! Tulang-tulangku bisa hancur…”.
Hahahaha !! Seisi kelas tertawa melihat ulah kedua anak tersebut. Bu Molly tampak senang. Namun matanya yang jeli segera menemukan sesuatu yang tidak beres di kelasnya. Ya. Matanya tertuju pada anak yang duduk murung di sudut belakang kelas. Aron, 13 tahun, anak yang cukup cerdas dan tidak pernah berbuat onar seperti kedua sahabatnya, Rein dan Clay. Ia justru agak pendiam. Tugas sebagai ketua kelaspun ia jalani dengan baik.
Hari sudah siang. Waktu belajar di akademi kerajaan kelas menengah ini telah selesai. Semua murid dapat pulang ke rumah. Tentu saja ada beberapa yang harus melanjutkan pendidikan lainnya di akademi ini. Ada yang mengikuti kegiatan di bidang bela diri, seni, penelitian, pengobatan, maupun politik kerajaan. Tergantung dengan minat masing-masing.
Selesai juga tugas mengajarku. Akhirnya aku bisa menikmati liburan juga…Begitu pikiran Bu Molly. Memang mulai esok hari Kerajaan Denia mengharuskan semua penduduknya libur selama 1 minggu untuk merayakan peringatan 500 tahun Perang Merah.
“Aron, adakah yang bisa Ibu bantu ?”, Bu Molly menegur Aron yang berjalan keluar kelas.
“ Oh, tidak apa-apa Bu. Aku hanya terlalu lelah setelah berlatih bela diri kemarin.”, jawab Aron dengan sedikit senyum di wajahnya.
“Jangan terlalu memaksakan diri. Ibu selalu bersedia membantu jika kau memiliki masalah. Baiklah…selamat menikmati liburan besok.”
“Terima kasih, Bu Molly. Sampai bertemu lagi…”, Aron beranjak pergi. Bu Molly merasa prihatin akan anak tersebut. Ia tahu bahwa Aron sedang bersedih. Ya tiap perayaan Perang Merah, tepatnya sejak 3 tahun yang lalu, Aron memang selalu seperti ini.
Tiga tahun yang lalu, Artea – kakak Aron – masuk ke penjara kerajaan karena dianggap sebagai mata-mata kerajaan lain yang bermaksud merusak kedamaian negeri Denia. Selama ini Aron sangat mengagumi dan membanggakan kakaknya yang menjadi Panglima Perang termuda di Kerajaan Denia berkat jasanya dalam pertempuran melawan pemberontakan kaum Anube. Ia bahkan bercita-cita mengikuti jejak kakaknya itu. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Artea akan terlibat kejahatan sedemikian beratnya. Namun sampai sekarang ia tetap yakin bahwa kakak yang dibanggakannya tidak bersalah. Ia tidak perduli dengan pendapat orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan pernah berkelahi dengan sekelompok anak yang menghina kakaknya. Satu hal yang sebenarnya sangat membuat Aron tertekan saat ini sebenarnya adalah pengumuman dari prajurit kerajaan kepada keluarganya sekitar seminggu yang lalu.
Hukuman bagi Mantan Panglima Artea adalah hukuman penjara seumur hidup…
Pengumuman itu sangat mengejutkan keluarga Aron. Ayahnya yang terkenal tegarpun bahkan sempat berlutut di kaki prajurit kerajaan sambil menangis memohon keringanan hukuman. Aron sendiri mogok makan selama 3 hari setelah pengumuman tersebut. Hukuman Artea dimulai saat itu juga. Aron berharap agar kakaknya memperoleh keringanan.
“Ayo Aron…kau tidak akan pernah menjadi panglima kerajaan jika pukulanmu selemah itu.”
“Hhaah…hhaahhh…aku lelah kak…tapi aku pasti bisa lebih kuat lagi…hhiaattt..!!”
Kenangan akan masa-masa bahagia bersama kakaknya seperti saat berlatih bela diri itu mungkin akan benar-benar tinggal kenangan saja. Namun Aron sadar bahwa ia dan keluarganya tidak boleh putus harapan karena kejadian ini. Ia harus meneruskan semangat kakaknya. Seperti kalimat mutiara yang pernah diucapkan seorang pejuang Denia di masa silam :
Jangan pernah menyerah. Masih banyak pahlawan hebat yang kita miliki. Pahlawan itu lahir di sini…pahlawan itu adalah kita sendiri…semua yang lahir, hidup, dan mati di tanah Denia yang mulia ini…