Satu Hari Sebelum Perayaan
Hutan lebat di sebelah timur benteng ibukota Denia ini dijuluki Hutan Naga. Bukan hanya karena berbagai jenis naga yang menghuni di dalamnya. Tapi karena hutan ini menjadi salah satu tempat untuk melatih setiap calon prajurit naga Denia.
Di salah satu bagian hutan tersebut tampak 3 naga kecil yang sedang mengejar seekor babi hutan.
Binatang-binatang tersebut berlarian di sela-sela pepohonan, menerobos semak belukar yang tumbuh lebat.
Ketika sampai di tempat yang cukup lapang di bagian tengah hutan ini, si babi menghentikan larinya. Ia menengok ke belakangnya.
Naga-naga kecil yang mengejarnya itu berhenti. Untuk sesaat mereka saling berpandangan.
Babi hutan tersebut mendengus. Ia geram karena lelah berlari dari kejaran ketiga naga tersebut. Sebenarnya ia tidak takut pada mereka. Anak-anak naga tersebut benar-benar masih kecil. Sayap mereka belum berkembang dan tubuhnya pun bahkan tidak lebih tinggi dari si babi.
Mata si babi membara. Sekali lagi ia mendengus, menggertak ketiga naga kecil di depannya.
Ketiga anak naga itu merasa takut. Mereka berjalan mundur sedikit demi sedikit, menjauh dari babi yang tadinya mereka kejar itu.
Kondisi berbalik. Kini babi hutan itulah yang mengejar ketiga naga kecil yang lari terbirit-birit itu. Mereka masuk kembali ke dalam rimbunnya pepohonan hutan.
Saat itulah muncul hembusan angin dari arah yang berlawanan. Si babi berhenti mengejar. Ia melihat ada sesuatu yang terlontar, melintas di atasnya. Menerjang dahan-dahan pohon, dan terjatuh di tempat lapang tadi.
Babi hutan tersebut bermaksud kembali ke urusannya semula. Ia terkejut. Naga-naga kecil tadi sudah melarikan diri. Padahal ia hanya mengalihkan perhatiannya sebentar. Dengan sedikit kesal, babi tersebut meneruskan perjalanannya ke dalam hutan.
Sesuatu, lebih tepatnya seseorang, yang terjatuh di tanah berumput itu tampak terbaring. Sesaat kemudian ia bangkit berdiri. Memegangi bahunya yang mungkin sakit karena benturan saat tejatuh tadi.
Orang tersebut adalah Alcon. Entah apa yang sedang dilakukannya di Hutan Naga ini. “Sial. Sudah lama aku tak bertarung seperti ini.”
Alcon memasang kuda-kuda dan mengawasi pepohonan di depannya. Ia menanti sesuatu.
Terdengar suatu suara. Daun-daun kering di atas tanah berhamburan seperti tertiup angin. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari balik hutan itu, terbang ke arah Alcon.
“Terimalah ini !!” teriak orang tersebut. Ia melayangkan tinjunya pada Alcon.
“Hoooo…,” Alcon menahan tinju tersebut dengan satu tangannya. Kemudian, dengan memanfaatkan kekuatan lawan, Alcon berputar, memegang lengan lawannya, dan melemparkannya ke arah batuan besar.
Orang yang menyerang Alcon tersebut terhempas karena kekuatannya sendiri. Sebelum membentur batuan, ia melakukan salto di udara, dan menjejakkan kakinya pada batuan tersebut. Menggunakannya sebagai pijakan dan meluncur ke arah Alcon lagi.
“Lightning Dragon !!” sekujur tubuh orang tersebut seperti diselimuti energi listrik. Dengan kecepatan tinggi, ia menghantam Alcon.
Pohon-pohon pun tumbang karena tak kuat menahan Alcon yang terhempas oleh serangan tersebut. Ia jatuh dan tertimpa patahan pohon.
“Gila…sudah dua kali aku terkena jurus ini,” Alcon berusaha keluar dari timbunan batang dan dahan pohon tersebut. Ia tampak lelah.
“ Kau belum serius, Alcon,” kata sang lawan yang berdiri dengan aliran listrik di tubuhnya itu.
“Ha ha ha… kaulah yang terlalu kuat bagiku, Urgura ! ” Alcon berjalan mendekati orang yang bernama Urgura tersebut.
“Baiklah. Kali ini kau harus lebih serius,” kata Urgura yang termasuk kaum Dragona atau anima naga itu.
“Hei…ayo kita lihat. Mana yang lebih kuat, angin atau kilat !” tubuh Alcon mendadak berubah, hampir transparan. Ia mengambang di udara, tampak begitu ringan.
“Wah wah wah…akhirnya kau menggunakan kekuatan Celestianmu,” sahut Urgura.
Kedua orang itu sama-sama menanti saat yang tepat untuk mulai menyerang.
“ Hyper Aerona !!” Alcon menerjang maju dengan sangat cepat.
Urgura segera melompat menghindarinya. Ia tidak mau bersinggungan sedikitpun dengan tubuh lawannya yang telah berubah bagaikan angin itu.
Alcon melesat terlalu cepat dan menabrak salah satu batuan besar. Tidak terjadi benturan. Tubuh Alcon yang transparan justru menembus batuan itu begitu saja. Sesaat kemudian batu besar tersebut pecah berkeping-keping.
“Sial. Aku sudah lama tak menggunakan kekuatan ini,” ujar Alcon. Ia menatap batuan yang hancur itu.
Kekuatan Celestian Alcon membuat tubuhnya seperti angin penyayat. Ia mampu menembus sekaligus menghancurkan benda padat apapun yang dilaluinya.
“Jangan lari kau, Urgura !” Alcon kembali melesat, berusaha menyerang Urgura.
Anima naga yang mampu terbang tersebut berkelit dari terjangan Alcon.
Namun Alcon tak menyerah. Ia terus mengincar Urgura. Beberapa pohon teriris-iris menjadi potongan-potongan kecil karena sambaran tubuh anginnya.
Serangan fisik takkan mempan pada tubuh Alcon. Tapi aku dapat menyerangnya dengan tembakan energi. Urgura memikirkan cara untuk melawan sembari menghindari serangan Alcon yang terus berdatangan.
Energi listrik terhimpun di kedua tangan Urgura yang berkuku panjang layaknya cakar naga itu.
“ Thunder Pearls !!” dari udara, Urgura menembakkan bola-bola listrik ke arah Alcon.
Dengan sigap, Alcon menghindarinya. Tembakan Urgura hanya mengenai tanah dan pepohonan.
Bum…bum…bum… Terdengar bunyi ledakan.
Alcon melesat ke atas, menghampiri Urgura. Tak satu pun bola-bola listrik itu yang mengenai dirinya. Gerakannya begitu lincah. “Urgura, menghindarlah ! Atau kau akan hancur !! ”
Urgura tak menyadari bahwa Alcon sudah berada di hadapannya. Ia tak sempat menghindar.
Bagaikan angin membelah awan, tubuh Alcon berkelebat menembus Urgura.
Aarrgh…aku terkena kekuatannya… Urgura seperti kesakitan. Ia pun terjatuh ke tanah.
Alcon melayang turun. Tubuhnya kembali seperti biasanya. Ia berjalan menghampiri Urgura yang masih tergeletak.
“Jangan berpura-pura kalah, Wakil Jenderal…” ujar Alcon.
“Ha ha ha…ketahuan ya,” Urgura tertawa. Ia bangkit. Seperti tak merasakan apa-apa. “Tapi kau masih hebat seperti dulu, Kapten Alcon…”
Alcon tersenyum kecut. “ Tidak juga. Kalau kau menggunakan kekuatan naga yang sesungguhnya, kekuatan Celestianku akan tampak seperti mainan anak kecil. ”
Pada saat itu muncul tiga wyvern dari balik pepohonan, terbang menghampiri mereka. Hanya satu yang ditunggangi.
“Wakil Jenderal Urgura, Kapten Alcon… Tak kuduga Anda berdua bertarung hingga sejauh ini. Aku harus mencari-cari kalian,” kata si prajurit yang menaiki salah satu wyvern itu.
“Oh, Prajurit Perie…sudah kubilang sebaiknya kau ikut berlatih saja bersama kami,” Wakil Jenderal II Denia, yang bernama lengkap Urgura Urazon ini, menyambut wyvern miliknya yang datang bersama Perie.
“Jangan bercanda, Tuan Urgura. Latih tanding tadi terlalu mengerikan untuk prajurit biasa. Lebih baik saya menjagakan wyvern kalian,” Perie tersenyum.
“Urgura, tampaknya latihan ini sudah cukup. Aku sudah lebih siap sekarang,” ujar Alcon. Memang ia tadi tidak benar-benar bertarung dengan Urgura. Ia hanya meminta rekan lamanya itu untuk menemaninya berlatih, setelah sekian lama ia absen dari dunia militer.
“Baiklah. Kita juga harus membicarakan persiapan terakhir sebelum pemberangkatan pasukan ke Prazea esok hari,” kata Urgura. “Tapi Alcon, kau sungguh-sungguh serius untuk bergabung dalam pasukan lagi ? ”
“Tentu saja. Aku ingin menghajar orang-orang Tantra itu dan membalas apa yang terjadi pada Hanz,” jawab Alcon.
“Hanz…luka yang dialaminya benar-benar parah. Aku tak menduga kalau ia sampai menggunakan kekuatan terlarang milik kaumnya,” Urgura menaiki wyvernnya.
“Kekuatan terlarang ? Kapten Hanz memilikinya ?” celetuk Perie yang merasa penasaran. “Aku tidak menyaksikannya bertarung saat itu.”
“Kau tidak mengetahuinya ? Begini… beberapa kaum Baste terlahir dengan kekuatan terlarang yang disebut Kekuatan Sekh. Tapi tidak semua dari mereka mampu menggunakannya. Kekuatan tersebut seperti dikekang oleh suatu segel magis. Hanz adalah salah satu kaum Baste yang mampu melepas segel tersebut dan menggunakan Kekuatan Sekh,” jelas Urgura.
“Jadi begitu, ya…” Perie puas dengan penjelasan Urgura. Ia semakin merasa kagum pada Kapten Hanz.
“Kudengar Kekuatan Sekh termasuk yang terkuat di antara kekuatan istimewa bangsa anima,” Alcon membenarkan pelana wyvernnya. Ia lalu naik ke atas binatang tersebut.
“Ya. Mungkin seimbang dengan kekuatan naga. Tapi…tidak ada anima yang memiliki kekuatan sehebat kaum Hath,” kata Urgura.
“Kaum Hath ? Anima banteng itu ya… saya bertemu dengan salah satu dari mereka. Saat misi bersama Kapten Hanz kemarin,” kata Perie.
“Benarkah ? Siapa dia ?” tanya Urgura.
“Sepertinya ia orang penting di antara pasukan Tantra. Kalau tidak salah…ia menyebut dirinya sebagai Deizer…salah satu dari Tetrad Auctorita,” jawab Perie sambil berusaha mengingat-ingat pengalamannya saat itu.
“Seorang Hath tergabung dalam Armada Tantra ? Sial… Aku jadi makin penasaran. Sekuat apa sebenarnya organisasi tersebut ?” Urgura bersiap untuk terbang.
“Yapp. Mungkin kita akan segera mengetahuinya,” Alcon pun bersiap. Ia menghela tali kendali wyvernnya.
Akhirnya ketiga orang tersebut terbang, meninggalkan Hutan Naga. Mereka kembali ke ibukota.
—————————————————————————————————————————
Rumah Sakit, Ibukota Denia
Lima tabib berkumpul di dalam salah satu ruangan. Mereka tengah berusaha keras mengobati seseorang.
Orang yang dimaksud, tengah terbaring di dalam sebuah kapsul besar yang berdinding transparan. Tubuhnya diselimuti cahaya berwarna pelangi.
Altar yang menyangga kapsul tersebut dihubungkan dengan lima buah pasak di sekitarnya melalui semacam kabel.
Di atas masing-masing pasak tersebut terdapat bola kristal yang memancarkan cahaya seperti pelangi, persis cahaya pada orang di dalam kapsul tadi.
Kelima tabib tadi berdiri di belakang tiap pasak. Mereka meletakkan telapak tangannya di permukaan bola kristal tersebut.
Mereka adalah para wizard, atau sebutan untuk tabib yang menggunakan sihir dalam melakukan pengobatan. Dan mereka adalah lima wizard tertinggi di Kerajaan Denia.
“Kondisinya tetap buruk sejak kemarin…” kata Lavius, pemimpin para wizard tersebut. “…ia digerogoti oleh kekuatan dari dalam dirinya sendiri… “
“Dugaan anda sebelumnya benar, Master Lavius…. sepertinya orang ini memiliki salah satu kekuatan terlarang itu…,” kata salah seorang wizard lainnya.
“Kekuatan Sekh…,” Lavius menatap orang di dalam tabung tersebut. “Kita harus bersyukur…setidaknya kekuatan tersebut dimiliki oleh seseorang yang mengabdikan dirinya bagi Denia…”
Lavius mengerahkan segenap kekuatan sihirnya pada bola kristal di depannya. Keempat wizard lain melakukan hal serupa.
Cahaya pelangi di dalam kapsul itu makin terang menyelimuti tubuh Hanz yang masih terbujur kaku di dalamnya.
Sementara itu, di bagian lain dari rumah sakit tersebut, di ruang tunggu. Clara, istri Hanz, tengah menanti penuh harap. Hatinya gundah dengan segala ketidakpastian ini. Ia berkali-kali berniat masuk ke ruang khusus pengobatan. Namun para petugas selalu melarangnya.
“Tenanglah, Clara…suamimu ada di tangan wizard tertinggi…ia pasti akan selamat…,” seorang Celestian wanita menggapai lengannya dan mengajaknya duduk kembali.
Clara menurut. Ia kembali duduk di bangku panjang di ruang tersebut.
“Seren, terima kasih…,”katanya pada Celestian yang ikut duduk di sebelahnya itu.
“Clara…kau harus tetap tenang…,” Seren, nama Celestian wanita itu, memegang tangan Clara yang terasa dingin, mencoba menghangatkannya.
“A-aku takut…,” mata Clara yang sembab memandang Seren. “…Hanz mungkin saja…”
“Ssstt…jangan pernah memikirkan itu…” Seren meletakkan kedua jemari tangannya di mulut Clara. Mencegahnya mengucapkan sesuatu yang buruk tentang keadaan Hanz. “Kuatkan hatimu dan berdoalah untuk yang terbaik…”
Air mata kembali berlinang di mata Clara. “Aku tahu…Hanz pasti telah melakukan hal itu…”
“Hal itu ? Apa maksudmu ?” tanya Seren dengan lembut.
“Menurut tabib yang pertama kali menanganinya…ia tidak menderita luka yang serius…” Clara menghapus air matanya dengan sapu tangan. ”…tapi organ dalamnya mengalami kerusakan yang berat…”
“Demi Zellion…” Seren turut simpati.
“Hanz…mungkin ia telah melepas seg…” perkataan Clara terputus. Air matanya terus mengalir. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi.
“Menangislah…Clara…menangislah…” Seren mendekap bahu Clara dengan erat.
—————————————————————————————————————————
Sebelah barat Ibukota Denia…
Aron terbang dengan cockatrice-nya. Menuju Padang Seribu Embun, sebelah barat benteng ibu kota Denia.
Ia sedang mencari Clay. Anak itu menghilang sejak kemarin. Ia sudah mencarinya di tempat-tempat biasa di ibu kota, namun tetap tidak ada. Tinggal satu tempat lagi yang mungkin.
“Ternyata kau di situ,” gumam Aron. Ia melihat seorang anak Baste tengah berdiri di pinggir danau yang ada di padang rumput tersebut. Pasti Clay.
Aron mendaratkan cockatricenya. Lalu menambatkannya di sebuah pohon.
Ia melihat burung besar yang serupa, di pohon yang lain, tak jauh dari situ. Cockatrice milik Clay..
Aron berjalan ke tepian danau. Ia mencari batu yang cocok untuk duduk. Dan ia menemukan satu, di dekat Clay berada.
“Aneh sekali, kita hanya berdua…”kata Aron. Ia melihat danau di hadapannya.
Clay tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Aron. Ia asyik bermain lempar batu ke permukaan air danau. “Ya, biasanya kita selalu bertiga, bersama Rein.”
“Aku hendak mengajak Rein. Tapi jalan masuk ke kompleks pemerintahan dijaga ketat. Sepertinya sesuatu yang penting tengah terjadi,” kata Aron.
Batu yang dilempar Clay memantul 3 kali di atas air sebelum akhirnya tenggelam.
“Clay, Ibumu memintaku untuk mencarimu…,” lanjut Aron.
“Ibu…,” Clay menimang-nimang batu di tangannya.
“Ya, dia masih di rumah sakit tadi. Ibuku menemaninya,” Aron ikut mengambil batu, lalu melemparnya. Memantul 4 kali di atas air.
Clay menggenggam batu di tangannya dengan erat.
Aron menatap wajah Clay. Baru kali ini ia melihat ada yang lain pada diri sahabatnya itu. Clay tidak pernah seserius ini.
“Selama ini aku hanya bermain-main…,” tangan Clay lunglai. Batu di genggamannya terjatuh.
“Ayahku terbaring tak berdaya karena tugasnya dan aku tidak bisa berbuat apa-apa…,” Clay terduduk lemas.
Aron tahu bagaimana perasaan Clay. Ia pernah mengalami hal serupa.
Clay menoleh pada Aron. “Apa yang harus kulakukan sekarang ?”
Aron berdiri. Ia berjalan lebih dekat ke danau. Membiarkan air membasahi kakinya. “Saat ini, para wizard sedang berjuang menyembuhkan ayahmu.”
Ia membalik dan menghadap Clay. “ Kau pun juga harus berjuang. Dengan seluruh rasa hormat dan kebanggaanmu kepadanya, tetaplah berharap untuk yang terbaik.”
Clay berpikir sejenak. Ia lalu mengambil sebuah batu dan berjalan beberapa langkah. Sedikit berancang-ancang, kemudian melempar batu tersebut. Lima kali pantulan. Paling banyak sejak tadi.
Wajah Clay mulai cerah. “Kau benar. Ayahku orang yang hebat. Ia pasti dapat melalui semua ini. Berarti aku juga harus tetap tegar.”
“Tampaknya Clay yang kukenal sudah kembali,” Aron tersenyum.
“Terima kasih, Aron. Kau memang yang terbaik,” Clay juga tersenyum. Ia memukul bahu sahabatnya.
“Ha ha…benarkah ?”
“Ya. Kau lebih pandai menasehati daripada Rein,” kata Clay. “Darimana kau memperoleh kata-kata hebat seperti itu tadi ?”
“Entahlah. Kata-kata bodoh itu tercetus begitu saja di kepalaku,” Aron tertawa. Ia senang karena berhasil mengembalikan semangat sahabatnya.
“Hei, ayo kita pulang. Aku ingin menjenguk ayahku…” ajak Clay.
Kedua anak tersebut menaiki cockatricenya masing-masing. Mereka lalu terbang meninggalkan Padang Seribu Embun dengan danaunya yang indah itu.
Setelah melintasi Desa Bukit Dodo, tempat rumah Aron berada, akhirnya kedua anak itu sampai di Gerbang Barat, salah satu dari 4 gerbang utama yang terdapat di rangkaian dinding besar, yang melindungi ibukota Denia.
Mereka harus berhenti sejenak di gerbang yang penuh penjagaan prajurit tersebut, untuk menjalani pemeriksaan rutin. Seperti halnya gerbang serupa yang terletak di bagian utara, timur, dan selatan dinding ibukota, Gerbang Barat ini merupakan satu-satunya jalan keluar masuk bagi orang-orang. Siapapun, termasuk yang menggunakan kendaraan udara harus menjalani pemeriksaan oleh penjaga gerbang.
Selesai diperiksa, mereka meneruskan perjalanannya ke dalam ibukota. Cockatrice, burung besar yang berbadan mirip wyvern namun berkepala mirip ayam itu, membawa mereka terbang di antara keramaian, melintasi bangunan-bangunan di bawahnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Clay, setelah menambatkan cockatricenya, segera berlari masuk ke dalam. Ia mencari ibunya.
Di ruang tunggu, Clara menyambut kedatangannya. Baste wanita tersebut langsung memeluk Clay dengan erat sambil menangis. “Clay, mereka berhasil. Ayahmu selamat…”
Clay pun tak dapat menahan air matanya. Ia sangat bahagia. Syukurlah… Clay memeluk ibunya lebih erat lagi.
Aron merasa terharu. Ia melirik pada ibunya, Seren, yang masih ada di situ.
Seren membalas lirikannya dengan penuh senyum.
Aron menarik nafas lega. Sepertinya semua berakhir dengan baik hari ini…