Emerald Hegemony
Tujuh tahun yang lalu, di Pulau Shuzen…
“Ayah, aku tak mau pergi ! Aku akan tetap di sini bersama Ayah ! Aku…aku akan meminta Isenra untuk meninggalkan diriku agar semua penduduk kampung bisa terselamatkan…termasuk Ayah !” Shin yang masih kecil memohon sambil menangis di samping ranjang tempat ayahnya terbaring lemah.
“Shin…ini semua memang harus terjadi. Ini adalah takdir yang tak mungkin dihindari. Tak ada yang mampu menghentikan wabah ini meski kau membebaskan arwah langitmu sekalipun. Lagipula…uhuk-uhuk…itu adalah hal yang tak mungkin kita lakukan,” Shiel, ayah Shin yang tengah menderita karena wabah penyakit, terbatuk-batuk. Darah keluar dari mulutnya.
Dengan tangan gemetar, Shin menyeka darah di sekitar wajah ayahnya dengan sehelai sapu tangan.
“Tapi, semua orang…terutama penyihir jahat itu, mengatakan bahwa akulah penyebab semua ini. Kemunculan makhluk-makhluk gaib dan juga wabah penyakit ini…semua karena diriku yang terlahir sebagai Sacra. Jangan-jangan, inilah pengorbanan yang harus kutempuh…,” ujar Shin dengan wajah sembab.
“Sudahlah, Shin. Kau tak perlu berpikir seperti itu. Percayalah dengan Ayahmu. Kau sama sekali tak ada hubungannya dengan semua tragedi ini,” tukas orang ketiga yang berada di ruang tersebut. Seorang kakek, bernama Sheido, dengan perawakan yang masih terlihat kuat dan segar. Lengan kanannya bertatoo gambar naga.
“Lalu, apa yang bisa kulakukan ?” tanya Shin.
“Uhuk…kau harus segera meninggalkan kampung ini. Bahkan pulau ini. Ikutlah bersama Tuan Sheido…uhuk…” jawab Shiel lirih.
“Benar, Shin. Aku pasti menjagamu. Bersama kita akan menuju Desa Shezai di daratan selatan…” Sheido menambahkan.
“Ayah ! Aku kesal ! Kenapa tak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan orang-orang ? Apa gunanya aku terlahir sebagai Sacra ?!” Shin tak mampu menahan amarahnya yang terasa menyesakkan dada.
Shiel tersenyum sembari mengelus rambut anak lelakinya itu. Ia berusaha menenangkan Shin. “Satu hal yang harus kau ingat, Shin. Menjadi Sacra bukanlah kutukan atau sesuatu yang sia-sia. Itu adalah berkah sekaligus tanggung jawab. Kelak, bila kau telah bersatu dengan Isenra, kau harus menggunakan kekuatanmu untuk membela apapun yang kau anggap benar. Jagalah orang-orang yang berarti bagimu…”
Shin sangat terharu mendengar pesan ayahnya. Ia menangis sambil membenamkan wajahnya di atas dada sang ayah.
“Selain itu, kau harus tetap hidup, nak. Sebab hanya kau yang bisa menemukan saudara kembarmu…” ucap Shiel.
—————————-
Kembali ke masa kini…
Sepotong kenangan tersebut terlintas untuk sesaat di benak Shin. Apa yang sedang dialaminya sekarang, entah mengapa mengingatkannya pada masa lalu yang menyedihkan itu. Masa lalu yang menjadi awal dari langkah kehidupannya hingga saat ini.
Semburat amarah terlihat dari kedua mata Shin. Tak sedetik pun ia melepas pandangannya dari Zeonith, yang telah menghancurkan desanya.
Shin mengumpulkan kekuatan di tangan kristalnya yang berwarna hitam. Sejurus kemudian, ia menghantam tanah di bawahnya.
Bwoosh !!
Hawa energi berbentuk vorteks hitam muncul di tempat Shin berpijak.
Vorteks tersebut meluas hingga mencakup tanah di sekitar Zeonith berdiri. Arwah langit, yang dalam sejarah dijuluki sebagai ksatria halilintar itu, tak terkejut sedikitpun. Sepertinya ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Shin.
Setelah vorteks itu cukup besar, Shin mengangkat tangannya di atas kepala dan mengayunkannya secara vertikal ke bawah dengan gerakan menebas.
“Mystic Realm !” himpunan energi berbentuk pedang seukuran manusia jatuh dari langit dan menancap tepat di tengah vorteks. Pusaran itu pun berputar semakin kencang.
Sesaat kemudian, Shin dan juga Zeonith tersedot masuk dalam pusaran. Lalu, vorteks itu pun segera menghilang. Demikian juga dengan Shin dan Zeonith. Mereka berdua lenyap dari tempatnya semula.
Beberapa penduduk Desa Shezai yang tadinya melihat pertarungan Shin melawan Zeonith dari kejauhan, memberanikan diri untuk keluar dari tempat-tempat persembunyiannya dan segera berkumpul di lokasi hilangnya kedua sosok itu.
Para penduduk itu dibuat keheranan dengan apa yang terjadi. Beberapa orang berteriak-teriak mencari Shin yang lenyap entah ke mana.
Tampak dua orang penduduk menghampiri Sharay yang terduduk pingsan di sebuah sandaran batu. Mereka segera memapah salah satu sahabat Shin tersebut dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
Tak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya Shin dan Zeonith. Karena, vorteks tadi telah membawa mereka ke suatu tempat mistis. Tempat yang tak mungkin terjamah oleh makhluk biasa.
Mystic Realm, adalah suatu dimensi ruang dan waktu yang terpisah dari dunia nyata. Ada yang mengatakan bahwa tempat ini adalah suatu alam khayal, serpihan dari alam para arwah itu sendiri. Konon, Sacra- Sacra di masa lampau menggunakan tempat ini sebagai arena pertarungan mereka. Tujuannya untuk menghindarkan manusia dan juga lingkunan sekitar dari dampak kerusakan yang mungkin terjadi.
Hanya Sacra dengan kemampuan tinggi yang mampu membuka gerbang menuju Mystic Realm. Ujud dari tempat ini pun berbeda-beda, tergantung dari kemampuan Sacra yang bersangkutan.
Seperti yang terjadi pada saat ini. Shin dan Zeonith berada di atas daratan yang terbentuk dari kristal aneka warna. Kekuatan Isenra dalam diri Shin telah membuka gerbang menuju Mystic Realm yang bernuansa kristal.
Di mana-mana terdapat patung-patung abstrak berukuran raksasa yang juga tersusun dari kristal. Langit yang memayungi daratan ini terlihat memerah layaknya senja. Udara terasa tak bergerak sedikit pun. Secara keseluruhan, Mystic Realm ini benar-benar sunyi.
“Sacra, ternyata kau mampu membuka gerbang menuju Mystic Realm. Kau pantas memiliki arwah langit sekuat Isenra,” kata Zeonith. Kekuatan listrik menyelimuti seluruh tubuhnya yang terlindung zirah kokoh. Berkilatan, menyambar patung-patung di sekitarnya.
“Makhluk jahat…aku membawamu ke sini untuk satu alasan. Aku akan melenyapkanmu !!” teriak Shin. Ia mengayunkan kedua lengannya ke atas.
Daratan yang mereka pijak pun bergetar. Kemudian, dengan kekuatannya, Shin memunculkan pedang-pedang besar dari tanah kristal di sekitarnya.
Puluhan, bahkan mungkin ratusan pedang tersebut melayang-layang di udara.
Shin mengibaskan lengannya sekali lagi. Kali ini, pedang-pedang tersebut melesat ke langit, dan menyatu menjadi sebuah pedang kristal berwarna hitam legam yang berukuran raksasa, siap untuk dihujamkan ke sasaran.
“ Aku akan membalas semua yang telah kau lakukan pada orang-orang desa !” emosi Shin begitu meluap. Aura berwarna kehitaman menyelubungi seluruh tubuhnya. Lengan kristalnya pun terlihat semakin menghitam.
“Aku tak mengerti. Apa artinya orang-orang itu bagimu ? Sacra terlahir untuk bertarung dan menjadi yang terkuat. Bukan untuk … mempedulikan makhluk lain yang lebih rendah,” cakram melayang di belakang punggung Zeonith berubah menjadi empat buah. Semuanya bergerak sendiri mengitari tubuh arwah langit berujud ksatria tersebut.
“Hancurlah kau dengan satu serangan ini … Emerald Hegemony !!!” Shin melayang tinggi ke atas. Ia mengibaskan lengannya dan saat itu pula pedang raksasanya yang berada di langit langsung meluncur turun ke arah Zeonith.
Duarr !!
Gelombang ledakan timbul ketika pedang raksasa itu menghantam kubah energi yang dibentuk Zeonith untuk membendung kekuatannya.
“Heaaah !!” Shin, yang masih melayang di udara, mengerahkan energinya dari kejauhan untuk mendorong pedangnya agar mampu menembus pertahanan Zeonith.
Sementara itu, Zeonith tak gentar sedikitpun menghadapi pedang yang hampir seratus kali lebih besar daripada ukuran tubuhnya itu. Keempat cakram yang bergerak di sekeliling tubuhnya telah menciptakan kubah pelindung yang demikian kuat. Bahkan ujung pedang raksasa itu tak mampu menembus lebih dalam.
“Siaaal !” Shin begitu marah. Ia meningkatkan kekuatannya. Akibatnya, pedang raksasa itu sedikit demi sedikit mulai menekan kubah Zeonith.
Tanpa terasa, lengan kristal Shin mulai retak di beberapa bagian. Meski demikian, ia tak mempedulikannya. Jurus yang dikerahkannya saat ini memberikan tekanan yang begitu hebat pada tubuhnya. Kalau hal ini diteruskan, akibatnya bisa fatal untuk Shin sendiri.
Pedang raksasa itu bergerak semakin dalam menembus kubah energi yang melindungi Zeonith.
“Kau memang hebat, Sacra. Tapi ini belum cukup untuk mengalahkan arwah langit,” Zeonith menyentuh dahinya sendiri dengan jari telunjuknya.
“Cakram halilintarku akan mengakhiri semua ini… Zeon Quadra !!” seolah memahami perintah dari pemiliknya, keempat cakram yang mengitari Zeonith itu bergerak terbang keluar dari kubah pelindungnya.
Cakram-cakram yang diliputi energi listrik itu beterbangan di udara dan menghantamkan diri pada pedang raksasa Shin.
Awalnya, keempat cakram Zeonith terus terpental karena kuatnya kristal yang membentuk pedang raksasa itu.
Namun, setiap kali hal itu terjadi, cakram-cakram tersebut terlihat semakin membesar dan semakin kuat menghantam pedang raksasa Shin.
Akhirnya, keempat lempengan berputar tersebut memiliki ukuran yang tak kalah besarnya dengan pedang Shin. Seiring dengan itu, kekuatan hantamannya pun semakin kuat. Akibatnya bisa terduga. Pedang raksasa Shin tak mampu menahan benturan yang terjadi dan…
Druaash ! Druash !
Pedang raksasa itu hancur, menjadi serpihan-serpihan kristal kecil yang berhamburan di udara.
Shin tak percaya melihat hal tersebut. “Kenapa…”
Tubuh Shin terasa begitu lemas. Ia melayang jatuh dari udara, dan terhempas di tanah kristal.
“Sebatas inikah…” Shin terbaring tak berdaya. Ia menatap langit di atasnya. Lambat laun, rambut hitamnya kembali ke warna semula, yaitu merah. Lengan kristalnya pun berangsur-angsur berubah menjadi lengan manusia biasa.
Shin tak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya. Luka parah yang dialami kedua lengannya akibat jurus Emerald Hegemony tadi juga tak terasa olehnya. Shin berada di ambang bawah kesadarannya.
Zeonith melangkah menghampiri. Keempat cakramnya telah kembali ke ukuran semula dan menyatu lagi. “Seorang Sacra yang kalah bertarung di Mystic Realm akan terpenjara selamanya di alam khayal ini. Takkan pernah kembali ke dunia nyata…”
“Belum. Aku…belum kalah. Aku akan bangun dan…” Shin tak kuat meneruskan ucapannya. Nafasnya terlihat berat.
“Sacra, mungkin sebaiknya kau mati sekarang juga. Tapi…,” Zeonith berdiri di samping Shin yang tergeletak di tanah. “Aku ingin melihat kekuatan Isenra yang sesungguhnya. Karena itu, aku akan mengembalikanmu ke dunia.”
Pandangan Shin pada Zeonith mulai berkabut. Kesadarannya semakin menjauh. Namun, ia masih bisa mendengarkan perkataan Zeonith yang terakhir.
“Kita akan bertemu lagi. Saat itu, salah satu akan musnah…” ucap Zeonith dengan suara paraunya.
Kemudian, semuanya berubah gelap. Shin seperti hanyut di ketiadaan.
Hingga akhirnya suara-suara itu terdengar. Suara orang-orang yang telah dikenalnya selama ini.
“Shin, kau sudah sadar ?!”
“Hei anak muda, kau benar-benar membuat kami cemas.”
“Dasar ! Sudah kubilang untuk tidak menggunakan kekuatan itu !”
Shin sedikit membuka matanya. Masih silau. Tapi ia mampu melihat wajah orang-orang yang terus memanggil-manggilnya tersebut. Pandangannya memang masih samar-samar. Tapi ia mengenal siapa mereka.
Semuanya…maafkan aku…