Takdir yang Bersinggungan
Rombongan prajurit berkuda itu bergegas melintasi padang gurun. Sebuah kereta kuda tampak di belakangnya.
“Ayo, kuda-kuda pemalas ! Waktu kita tak banyak lagi !” seru si pengendali kereta kuda tersebut. Ia menghela tali kendali kedua kudanya agar lebih cepat lagi berlari.
Lelaki tua dengan kumis dan jenggot yang sama-sama lebatnya tersebut bernama Shezam. Ia adalah pemimpin desa Shezai. Ia dalam perjalanan pulang dari kota raja, Shalniar.
“Guru Mahamar, bagaimana kondisi desa ?!” ia bertanya pada salah satu penumpang yang duduk di dalam keretanya.
“Gawat ! Kita terlambat ! begitu banyak korban yang berjatuhan !” jawab seorang nenek yang tengah membelai sebuah bola kristal di pangkuannya. Ia adalah Guru Mahamar, penyihir dari istana raja.
“Cepatlah, Ayah ! Kita sudah tertinggal oleh kuda-kuda milik prajurit kerajaan itu !” teriak Shere, yang juga ada di dalam kereta.
“Ya, ya…aku tahu ! Siaal ! Kenapa semua ini harus terjadi ?!” Shezam memecut punggung kedua kuda penarik keretanya.
Sementara itu, beberapa jarak di depannya. Di antara rombongan prajurit berkuda, terlihat dua orang panglima.
“Zeonith ? Ini benar-benar mimpi buruk !” ucap Ligor, lelaki dengan rambut yang hanya tumbuh memanjang di bagian tengah kepalanya. Hampir semua giginya berbentuk taring.
“Cih ! Zeonith atau bukan, aku akan menghajarnya,” kata Celinar, panglima wanita yang hampir seluruh wajah cantiknya dipenuhi tindikan.
Rombongan prajurit dan kereta kuda Shelzam tersebut semakin melaju dengan cepat. Mereka berpacu dengan waktu.
———–
Di Desa Shezai…
“Bedebah kau, keparat !!” Shin lompat tinggi sambil menekuk kedua lengannya di depan dada.
“Emerald Execution !” dengan gerakan tak kasat mata, ia menebaskan kedua lengannya ke samping. Menciptakan sebuah energi kemerahan berbentuk pedang raksasa. Menghujam ke arah makhluk yang telah menyerang desanya.
“Namaku…bukan keparat,” dengan mudahnya, makhluk tersebut menahan pedang energi itu dan meledakkannya dalam sekejap. Hanya dengan jari telunjuk tangan kirinya.
“Namaku…Zeonith !!” makhluk itu mengarahkan telapak tangannya yang lain ke dada Shin yang terbuka. Ia menembakkan energi listrik.
Bwoosh !
Energi listrik yang dipadatkan itu menembus dada kiri Shin. Pemuda tersebut langsung terpental.
“Shin !” Sharay datang dari belakang dan menangkap tubuh Shin.
“Aahh…brengsek. Aku lengah,” Shin memegangi dada kirinya yang mengalami luka bakar. Untung tenaga dalamnya mampu meredam tembakan listrik tadi, meskipun hanya sedikit.
“Jangan paksakan dirimu ! Lebih baik kita segera pergi !” ujar Sharay yang mengkhawatirkan kondisi Shin.
“Tidak ada…yang pergi !” tiba-tiba makhluk yang menyebut dirinya Zeonith itu berteriak pada mereka berdua. Ia seolah-olah mendengar ucapan Sharay barusan.
“Jadi namamu Zeonith, ya…” ucap Shin. Ia bangkit berdiri. Sekejap kemudian, sosoknya menghilang.
Zeonith tampak tenang. Ia tahu bahwa Shin hanya bergerak dengan kecepatan yang begitu cepat sehingga tubuhnya seolah-olah menghilang.
“Shin ! Di mana, kau ? Dasar keras kepala !” teriak Sharay sambil melihat ke segala arah. Matanya tak mampu mengikuti kecepatan gerak Shin.
“Emerald Shadow !” dengan gerakan yang demikian cepat, Shin menebaskan lengan kristalnya dari segala arah. Untuk sesaat, tubuhnya terlihat seperti menjadi banyak. Semuanya menyerang ke arah Zeonith.
Dalam waktu yang tak kalah cepatnya, cakram besar yang melayang di belakang punggung Zeonith berputar dengan kencang dan melepaskan sambaran listrik ke segala arah.
Blaar ! Blaar !
Petir-petir tersebut menggagalkan serangan Shin. Seluruh bayangan tubuhnya hancur. Termasuk tubuh aslinya pun terlontar pada sebuah rumah yang tengah terbakar.
Druaash !!
Rumah kayu yang memang sudah ringkih itu langsung hancur begitu tubuh Shin menerjangnya.
“Shin ! Arrgh…” Sharay bermaksud menghampiri Shin. Namun mendadak ia merasakan sengatan listrik menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dengan energi yang terpancar dari telunjuknya, Zeonith membungkus tubuh Sharay dengan lapisan listrik dan membuatnya terangkat ke udara.
“Aarrghh !!” Sharay meronta-ronta kesakitan. Lapisan listrik itu terasa semakin menyengat. Kulit tubuhnya pun semakin memerah saking panasnya.
Zeonith memalingkan mukanya ke arah rumah yang tadi menjadi tempat jatuhnya tubuh Shin.
“Sacra ! Lawan aku…dengan sungguh-sungguh. Atau…orang ini akan mati,” ancam Zeonith.
Tak terdengar jawaban dari puing-puing rumah itu. Shin tidak menunjukkan dirinya. Sepertinya serangan balik dari Zeonith tadi mengenainya dengan telak.
Drrk…drrkk…
Papan-papan kayu yang terbakar itu sedikit bergerak. Lama-lama terangkat. Perlahan tapi pasti, Shin bangkit. Ia menyingkirkan sisa-sisa rumah yang menimpa tubuhnya itu.
“Kaulah yang akan mati,” dengan gagah, Shin melangkah di antara kobaran api.
“Akhirnya…kau bangun juga,” Zeonith puas karena lawannya belum menyerah. Ia menggerakkan jemarinya dan melempar tubuh Sharay semaunya.
Wuush…
Shin langsung melesat dan menangkap Sharay, sebelum temannya itu membentur sebuah batuan besar.
Sharay terlihat lemah. Tubuhnya yang kekar dipenuhi luka bakar.
“Beristirahatlah di sini, Teman,” Shin menyandarkan Sharay di batuan.
“S-Shin…lenganmu. J-jangan…,” ucap Sharay sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Tenanglah. Aku adalah Shin. Orang terkuat di desa ini. Itu benar kan,” Shin tersenyum kecil. Ia meninggalkan Sharay dan melangkah menghampiri Zeonith.
Pandangan Sharay semakin kabur. Shin, jangan gunakan…kekuatan berbahaya itu… Akhirnya Sharay tak sadarkan diri. Ia tak mampu lagi menyaksikan pertarungan hebat yang akan berlangsung di depannya.
Perubahan terjadi pada lengan kristal Shin. Warnanya yang semula merah, kini berubah menjadi hitam.
“Hmm…aku merasakan kekuatan yang hebat dari dirimu, Sacra,” Zeonith menjadi bersemangat. Ia memancarkan hawa listrik di sekujur zirah perangnya.
Saat itu, sesuatu yang aneh terlihat pada tatapan Shin. Tampak bengis dan penuh nafsu.
“He he he…pertarungan ini takkan mudah,” Shin tertawa sendiri.
“Sacra…aku akan mengambil nyawamu,” ucap Zeonith.
“Ha ha ha !!” Shin malah tertawa keras. Ia seperti orang gila. “Kau…makhluk tak jelas yang seenaknya menyerang orang-orang dan tempat tinggal yang kusayangi ini…berani bicara seperti itu ? Ha ha ha !!”
Rambut merah Shin berubah menjadi hitam kelam. Aura gelap terpancar dari tubuhnya dan membentuk suatu gambaran di belakang dirinya. Gambaran berupa sesosok ksatria yang membawa pedang raksasa di kedua tangannya.
Zeonith menyaksikan gambaran aura itu. Sosok itu…Isenra ?
————–
Sementara itu…
Seseorang dengan jubah hitam yang dihiasi lukisan elang berwarna putih, berjalan di pinggiran sungai Shezai yang mengering.
Lelaki tersebut melangkah dengan kedua mata terpejam. Meski demikian , ia dapat melalui segala rintangan di atas tanah.
Ia bahkan berhenti sejenak karena hampir saja menginjak serangga tanah yang melintas di depannya.
Saat itu, seekor elang terbang turun dari langit dan hinggap di bahu kanannya.
“Kabar baru, Oroa. Zeonith telah bangkit,” kata elang tersebut.
“Benarkah itu ?” tanya Oroa.
“Ya. Kini, ia tengah bertarung dengan Lengan Isenra. Kau harus bergegas, Oroa,” jawab elang itu.
“Tak usah terburu-buru, Haka. Kalau pun Lengan Isenra tewas, aku akan menemukan lawan baru yang jauh lebih kuat. Melawan Zeonith akan lebih menarik,” ucap Oroa dengan tenang.
“Kau orang yang aneh, Oroa,” kata Haka.