Halilintar
Menarilah mentari
Bernyanyilah rembulan
Penuhi hati ini dengan terangmu…
Meski jauh kau pergi
Meski lama tak bersua
Senyum ini selalu menantimu…
Penggalan lagu merdu itu terlantun dari bibir tipis seorang gadis yang tengah memetik jamur di tepian sungai.
Sebuah lagu yang bercerita tentang seorang perempuan yang setia menanti kekasihnya yang pergi berjuang sebagai seorang ksatria.
“Wah, banyak sekali jamur batu yang tumbuh di sini. Sepertinya aku bisa memasak banyak untuk kakek dan Shin…”gumam gadis tersebut, yang tak lain adalah Sheilla.
Sambil terus bersenandung, ia memetiki jamur yang tumbuh di sela-sela batuan di tepi sungai.
“Sepertinya sudah cukup banyak,” Sheilla memandang keranjangnya yang sudah penuh oleh tumbuhan berbentuk seperti payung itu.
Sungai Shezai tetap saja kering… Ia menatap sungai yang melintas di hadapannya. Musim kemarau panjang membuat sungai itu tak ubahnya seperti parit kecil.
Padahal beberapa hari yang lalu turun hujan. Aneh juga, menurut perhitungan, harusnya musim kemarau ini masih berlangsung hingga satu sampai dua bulan lagi… pikir Sheilla
“Wooii !! Nona besar !!” terdengar teriakan dari arah belakang.
Itu kan suara… Sheilla menoleh. Ia melihat seorang pemuda berlari ke arahnya.
“Ternyata kau di sini,” pemuda itu begitu senang bertemu dengan Sheilla.
“Shin ? Ada urusan apa ?” tanya Sheilla.
“Mmm…anu…eee…,” Shin mengusap-usap rambutnya sendiri. Ia bingung mengutarakan maksudnya.
Beberapa detik berlalu. Shin tetap saja belum menjelaskan keperluannya. Ia terlihat kikuk.
“Sudahlah. Kalau tidak penting, sebaiknya katakan saja sembari kita pulang. Ada yang harus kukerjakan,”Sheilla mulai beranjak pergi.
“Tunggu,” Shin memegangi tangan Sheilla. “Aku…aku…”
“Apa ?” Sheilla heran dengan tingkah Shin.
Eh ? Perasaan apa ini ? Tiba-tiba, Shin merasakan sesuatu. Bulu kuduknya seolah merinding. Ia melihat ke sekelilingnya. Tidak ada apa-apa. Tetapi...
“Shin, lepaskan tanganku ! Ada apa sebenarnya ?” Sheilla berusaha melepaskan genggaman Shin.
“Oh…maaf,” Shin lupa bahwa ia masih memegangi tangan Sheilla. Ia segera melepasnya.
“Kau merasakannya ?” tanya Shin.
Wajah Sheilla kebingungan. “Merasakan apa ? Tanganmu ? Dasar…jangan macam-macam, ya. Mentang-mentang tidak ada orang lain di sini,” gadis berambut panjang bergelombang itu kesal pada Shin.
“Bukan, bukan itu. Maksudku…baru saja aku merasakan sesuatu yang aneh di sekitar kita…,” ujar Shin.
“Masa bodoh…” Sheilla yang tak peduli akhirnya melangkahkan kakinya untuk pulang ke desa.
Namun, baru beberapa langkah, gadis tersebut berhenti. Apa ini ? Rasanya aneh sekali…
“Ini dia ! Sheilla, apakah kau juga merasakannya ?!” teriak Shin.
Sheilla pun menengok ke arah Shin. Dengan ragu ia menganggukkan kepalanya.
“Aku benar, kan. Ada hawa yang aneh di sekitar kita,” ucap Shin.
Raut Sheilla menjadi serius. “Shin, perasaanku tak tenang. Sebaiknya kita segera pulang ke desa.”
Kedua orang itu pun segera berjalan pulang ke desa.
Jantung Shin berdebar kencang. Kenapa ini ? Aku tidak pernah mengalami sensasi ini…
Mendadak, saat itu juga, sesuatu melintas di langit. Meluncur dengan cepat dari arah timur.
Ziiing…
Pasir dan kerikil di tanah ikut berderik ketika benda bercahaya itu berlalu, tepat di atas Shin dan Sheilla.
Shin langsung mendongakkan kepalanya. “Sheilla, benda apa itu tadi ?!”
Sheilla tertegun. Ia mengamati benda itu meluncur dengan cepat di antara awan dan… jauh di depannya, benda bercahaya itu menukik turun. Tepat di lokasi yang sedang ditujunya bersama Shin.
Buumm !! Terdengar ledakan keras.
“Tidak ! Itu desa kita, Shin !” keranjang berisi jamur itu terjatuh dari genggaman Sheilla. Dengan menjinjing rok gaunnya, ia segera berlari ke arah desa.
Sial ! Ledakan itu bisa melukai orang-orang… Tak kalah cemasnya, Shin pun langsung bergegas. Larinya yang cepat mendahului Sheilla.
Perasaan aneh tadi terasa semakin kuat. Ada apa sebenarnya ? Dengan kemampuan ringan tubuhnya, Shin melalui padang semak belukar itu dengan cepat.
Tanpa sadar, Shin telah meninggalkan Sheilla, jauh di belakangnya. Gadis tersebut terlihat kesulitan berlari karena pakaiannya. Padahal ia sudah menanggalkan sepatunya dan membiarkan telapak kakinya terpapar batuan yang keras dan panas di tanah.
“Ahh !” sebuah lubang di tanah lolos dari perhatian Sheilla. Gadis itu pun jatuh terjerembat. Tanpa membuang waktu, ia segera bangkit.
Shin…cepatlah… Ia berharap agar Shin segera tiba di desa. Punggung lelaki itu sudah tak tampak lagi. Larinya benar-benar cepat.
Sheilla kembali berlari. Tapi, entah bagaimana, tiba-tiba tubuhnya terhenti. Seperti ada yang menahannya.
“Kenapa ini ?!” Sheilla mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun tak bisa. Ia tak dapat bergerak sedikitpun.
“Akhirnya aku menemukanmu, Putri Elvarath…” terdengar suara dari belakang punggung Sheilla.
Baru saja ucapan tersebut terdengar di telinganya, Sheilla merasakan pening di kepalanya. Tak sampai tiga detik kemudian, gadis berkulit kuning langsat itu terjatuh di antara semak. Ia pingsan.
Orang yang tiba-tiba muncul di belakang Sheilla itu berjalan mendekat. Ia menghampiri tubuh Sheilla yang tengah terbaring.
“Hmm…tak salah lagi. Akhirnya pencarianku berakhir di sini,” orang itu memegangi liontin kalung yang dikenakan Sheilla. Berlian di liontin itu menyala biru. Seperti halnya berlian yang ada di gelang orang tersebut.
Orang itu menengok kepulan asap yang terlihat dari arah desa Shezai, jauh di depannya.
Maafkan aku, Putri…sepertinya desa tempat tinggalmu akan menjadi kenangan semata. Demikian juga dengan negeri Shandabia ini. Hmm, waktunya pulang…
Orang yang sudah tampak tua itu mengambil tongkat sihir di pinggangnya.
“Occulium Aves,” gumamnya seraya mengibaskan tongkat sihirnya di udara.
Muncullah sesosok makhluk aneh di hadapannya. Sebuah bola mata besar dengan sepasang sayap kelelawar.
“Antar kami pulang, ” kata orang tua itu.
Bola mata seukuran manusia itu mengeluarkan sinar yang melingkupi tubuh si orang tua dan juga Sheilla, kemudian menghisap mereka ke dalam dirinya.
Sepasang sayap kelelawar itu mulai mengepak dan bola mata tersebut terbang membawa serta kedua orang itu. Melayang jauh ke suatu tempat yang tak seorang pun tahu.
——-
Sementara itu, di desa Shezai. Kobaran api yang membakar rumah-rumah kayu semakin mewarnai hiruk-pikuk yang terjadi di mana-mana. Orang-orang berlarian ke segala arah. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu.
“Tidaak ! Toloong !” jerit seorang perempuan. Ia berlari terseok-seok dengan wajah ketakutan.
Bzzzt !!
Malang nasib perempuan tersebut. Dalam sekejap, tubuhnya hangus terbakar karena sengatan listrik.
Bzzt…bzzzt… Buum ! Buum !
Kilatan listrik itu menyambar ke mana-mana. Menghancurkan semua yang dikenainya.
Benda yang jatuh dari langit tadi ternyata sesosok makhluk. Dalam sekejap, ia menghapus ketenangan di desa Shezai dan menciptakan teror penuh kengerian. Tanpa basa-basi dan alasan, ia membuat desa kecil itu porak-poranda. Tak peduli akan korban tak berdosa yang berjatuhan akibatnya.
“Wooo !!” makhluk tersebut seperti meraung. Wujudnya hanya terlihat samar-samar dari balik tirai energi listrik yang membentengi sekujur tubuhnya.
“Semuanya ! Segara selamatkan diri kalian !” teriak Sharay. Ia dan beberapa lelaki penduduk desa lainnya berusaha melindungi orang-orang yang kocar-kacir itu.
“Sharay ! Awas !” seseorang mendorong tubuh Sharay hingga terjatuh.
Bzzzt…
Sharay selamat dari sengatan listrik. Tapi orang yang menyelamatkannya justru menjadi korban.
“Shaz ! Tidak !” Sharay tak dapat berbuat apa-apa melihat rekannya tewas seketika.
Demi Penguasa Langit…makhluk apa itu sebenarnya ? Sharay seperti terpaku. Ia menyaksikan makhluk bercahaya kuning itu berjalan mendekatinya.
“Kurang ajar !” Sharay segera berdiri. Ia menggenggam erat-erat tombaknya.
“Monster terkutuk ! Rasakan ini ! Hiaatt !!” ia menancapkan tombaknya ke tanah. Kemudian, timbul barisan ledakan yang menuju ke arah makhluk itu.
Namun, ledakan kekuatan dari dalam tanah itu tidak ada apa-apanya saat mengenai tirai pelindung sang makhluk.
Beberapa penduduk desa lainnya melakukan hal serupa. Mereka mencoba menyerang makhluk itu dengan senjata apa saja. Sia-sia. Semua serangan tersebut kandas oleh energi listrik yang bahkan menewaskan mereka dengan sekali sambar. Korban kembali bertambah.
Kilatan listrik semakin banyak terlontar dari tirai pelindung makhluk itu. Ia sama sekali tak tersentuh.
“ Kita tak dapat melawannya ! Cepat lari !” Sharay memberi aba-aba. Ia pun berlari menjauhi makhluk tersebut. Orang-orang di sekitarnya segera mengikuti. Mereka sadar senjata biasa takkan mampu melawan sang makhluk.
“Hei, Nak ! Ayo lari !” Sharay berpas-pasan dengan seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya. Ia menggendong si anak dan kembali berlari. Tanpa memperhatikan bahwa dirinya tengah menjadi target.
Makhluk tersebut mengarahkan telapak tangannya pada Sharay yang berlari menjauhinya.
Zrrrtt… Seberkas energi ditembakkan dari tangan makhluk itu. Deras ke arah Sharay.
Sharay merasakan hawa panas mendekatinya dari belakang. Tiba-tiba…
Buumm !! Terjadi ledakan. Sharay dan anak yang digendongnya terpental. Juga orang-orang lain yang tengah menyelamatkan diri. Mereka tersungkur di tanah untuk beberapa saat. Debu mengepul di mana-mana.
Apa yang terjadi ? Pikir Sharay.
“Wooo !!” makhluk itu meraung kesal mengetahui serangannya gagal.
Kemudian, dari balik gumpalan kabut sisa ledakan itu, terdengarlah satu suara.
“Emerald Shot !”
Sebuah himpunan energi berbentuk pedang raksasa menyeruak ke arah sang makhluk.
Crassh…Duaarr !! Hamburan cahaya mendahului ledakan yang terjadi, ketika pedang energi itu menghantam tirai pelindung sang makhluk.
Serangan tersebut mengenai sasarannya dengan telak. Makhluk itu terdorong beberapa langkah ke belakang oleh gelombang ledakan yang terjadi.
Meski demikian, makhluk tersebut masih terlalu kuat. Tak tampak perubahan apapun pada dirinya. Tirai pelindung masih melingkupinya dengan pijaran listrik yang seolah-olah ingin menerkam segala sesuatu di dekatnya.
“Brengsek ! Apa yang telah kau perbuat, monster !” orang yang baru saja melindungi Sharay itu, ternyata Shin. Meski terlambat datang, namun ia berhasil menyelamatkan nyawa temannya. Setidaknya mencegah korban jatuh lebih banyak lagi.
“Jangan pedulikan makhluk itu ! Ayo lari, Shin !” ajak Sharay.
Shin, yang sedang menggunakan kekuatan Sacra-nya, tak menggubris ucapan Sharay. Ia tengah syok, menyaksikan kondisi desa. Rumahnya, rumah Sheilla dan kakeknya, rumah Sharay, tempat perkumpulan para pengawal bayaran, semua yang dibangun di atas tanah desa ini seperti tak dikenalinya lagi. Hancur oleh makhluk tersebut.
Lebih dari itu…benak Shin terasa teriris-iris melihat tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergelimpangan di sekitarnya. Kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu.
“Shin ! Ayolah !” sekali lagi terdengar teriakan Sharay. Tak kunjung memperoleh tanggapan, Sharay menitipkan anak yang digendongnya pada orang lain dan segera menghampiri Shin.
“Cepat, Shin ! Nyawa lebih penting saat ini,” Sharay memegangi bahu pemuda Sacra tersebut.
Shin tetap tak bergeming. Seluruh perhatiannya tertuju pada sang makhluk yang telah membuat onar itu.
“Siapa…kau ?” mendadak makhluk itu berbicara. Dan, dengan perlahan, tirai pelindungnya mulai menghilang. Ia mulai memperlihatkan wujud aslinya.
“Kenapa kau melakukan semua ini ?” tanya Shin dengan geram. Lengan kristalnya mulai berubah menjadi berwarna merah.
“Kau…seorang Sacra ?” makhluk itu malah balik bertanya. Wujud aslinya terlihat jelas. Ksatria dengan zirah perang lengkap berwarna putih dengan guratan-guratan warna kuning. Wajahnya tersembunyi di balik masker helm.
Beberapa bentuk halilintar mencuat di pemukaan zirah perang yang rapat dan kokoh itu. Terakhir, sebuah benda semacam cakram besar tampak berputar-putar, melayang di belakang punggung makhluk ksatria yang tingginya dua kali orang dewasa itu.
“Seorang Sacra…ingin melawanku ?” tanya makhluk itu sekali lagi.
“Kau tidak mendengar, ya… KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA INI !!!” amarah memuncak dalam diri Shin. Dengan seluruh kekuatan yang terkumpul di kedua lengan kristalnya, ia menerjang ke arah makhluk berwujud ksatria itu.