Konspirasi
Entah berapa lama aku pingsan setelah melawan Fururu. Saat tersadar, ternyata aku sudah berada di desa tempat tinggalku. Setelah itu aku baru tahu kalau ternyata Sharay dan Shere telah menyusulku di gurun.
Kedua orang itu tinggal di desa yang sama denganku. Mereka juga bekerja sebagai pengawal perjalanan seperti aku.
Bicara soal luka…sebetulnya kondisiku tidak terlalu parah. Tapi…
“Aahhh !!!” teriakan itu keluar dari mulut Shin yang tengah terbaring di atas ranjang. Ia menahan sakit di kedua lengannya yang sepertinya tampak tidak apa-apa dari luar.
“Dasar manja…Sini !” seorang gadis yang duduk di sebelah ranjang berusaha menggapai lengan Shin. “Cairan obat ini akan membuatmu lekas sembuh. Tahanlah sedikit !”
Sambil meringis menahan nyeri, Shin menurut saja pada gadis yang sedang mengoleskan semacam cairan bening pada kedua lengannya itu.
Shin menatap wajah gadis yang mengenakan gaun panjang dengan bagian perut yang terbuka itu.
“Sh-Sheilla…kau baik sekali…” kata Shin lirih.
Gadis bernama Sheilla itu selesai mengobati lengan Shin. Ia menatap Shin dengan serius. Tiba-tiba ia melayangkan tamparannya pada pipi kiri lelaki berambut merah semrawut itu.
“Auh ! Apa-apaan ini ?! Kenapa kau malah menamparku ?!”
“Berapa kali kukatakan untuk tidak menggunakan kekuatan level dua ? Tubuhmu mungkin tak kuat menahannya, Shin !” Sheilla terlihat sedikit marah.
Shin berpikir sejenak. “Oh, itu ya…Tapi aku menggunakannya karena terdesak. Lagipula Fururu itu…,”
“Arwah langit,” sahut seorang pria yang baru saja masuk ke kamar berdinding kayu tersebut.
“Sharay…kau mengagetkanku saja,” kata Sheilla.
“Shin, kau pasti akan mengatakan bahwa Fururu itu kuat. Tidak hanya itu. Amphista tersebut juga merupakan Arwah Langit,” lanjut Sharay, pria kekar dengan tatoo di sekujur tubuhnya.
Shin tercenung. “Apa ? Fururu adalah Arwah Langit ?! Benarkah itu ?”
“Tepat sekali,” jawab Sharay pendek.
Sheilla beranjak dari ranjang Shin sambil menenteng mangkok berisi cairan obat itu. “Bagaimana pun, kau adalah pengawal pertama yang menyaksikan penghuni Altar Suci secara langsung.”
“Hah ? Hei, Sheilla apa maksudmu ? Aku bertambah bingung,” Shin mencoba berdiri dari ranjangnya dan menyusul Sheilla yang masuk ke dalam ruang utama di rumah kecil tersebut.
“Selama ini, para pengawal bayaran lainnya hanya mampu menemukan altar kosong. Tidak satu pun yang berjumpa dengan makhluk seperti itu,” kata Sharay.
“Aku kurang mengerti tentang hal tersebut. Selama ini aku mengira bahwa orang-orang yang menyewa pengawal bermaksud mencari harta karun atau semacamnya di altar-altar tersebut,” Shin duduk di atas alas kain yang digelar di lantai ruang tersebut. Di sana, Sheilla sedang mempersiapkan beberapa piring makanan.
“Aku sendiri sebagai pemimpin perkumpulan pengawal di desa ini juga baru mengetahui hal tersebut. Sharay yang memberitahuku,” ucap Sheilla sambil menyodorkan sepiring nasi pada Shin.
“Eh, aku jadi teringat mengenai Tuan Muda Bibo dan Biff. Mereka hilang begitu saja. Bagaimana kabar mereka, ya ?” tanya Shin pada dirinya sendiri.
“Sampai sekarang aku sendiri masih bingung. Memang aneh. Tapi waktu itu aku dan Shere benar-benar hanya menemukan dirimu seorang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kedua orang itu,” timpal Sharay. Ia ikut duduk bersila di lantai.
“ Kurang ajar kalau mereka memang sengaja meninggalkanmu seorang diri di gurun seperti itu, Shin…” muka Sheilla menjadi cemberut.
“Mmm…mungkin saja Tuan Bibo ingin segera mengobati Tuan Biff. Karena itulah mereka pergi meninggalkanku. Mungkin saja,” Shin mencoba berpikir positif.
Beberapa menit berlalu. Setelah selesai makan, Sheilla berniat untuk pergi.
“Shin, beristirahatlah dulu untuk sementara. Kau harus memulihkan lenganmu sebelum kembali bekerja. Aku pergi dulu,” ucap Sheilla.
“Terima kasih untuk semuanya, Sheilla. Omong-omong kau akan memasak untuk makan malamku nanti, kan. Hi hi hi…” Shin tertawa meringis.
“Dasar. Memangnya siapa lagi yang bisa mengurusmu selain aku, bodoh. Sudahlah. Kakek pasti menungguku di rumah. Sampai nanti,” pamit Sheilla sembari menuruni tangga di depan rumah kecil tersebut dan berjalan menuju rumah lain yang berada tak jauh dari situ.
Shin pun ikut keluar. Ia berdiri di depan rumahnya dan menghirup nafas dalam-dalam. “Sharay, teruskan ceritamu mengenai Altar Suci tadi.”
“Tentang itu…beberapa waktu yang lalu seseorang yang menyewaku sebagai pengawalnya bercerita banyak mengenai hal tersebut,” ujar Sharay yang masih tinggal di rumah Shin. “Kau tahu kan, cerita tentang teror monster yang melanda negeri Shandabia ini ratusan tahun yang lalu,” lanjutnya.
“Tentu. Semua yang lahir di Shandabia pasti tahu sejarah penting itu. Bagaimana Kekaisaran Asvarath mencoba merebut kedaulatan kita dengan cara kejam seperti itu,” kata Shin dengan mata menerawang.
“Ternyata monster tersebut adalah Arwah Langit,” kata Sharay.
“Eh ? Bagaimana bisa ? Bukankah mereka makhluk yang dipanggil penyihir Asvarath dari dunia kegelapan ?”
“Itulah kenyataan sebenarnya. Konon, penyihir Asvarath berhasil menemukan cara untuk mengendalikan Arwah Langit sebelum mereka bersatu dengan anak yang menjadi pasangannya.”
Raut muka Shin menunjukkan keheranan. “Rasanya mustahil. Sungguhkah hal seperti itu bisa dilakukan ? Lalu, apa hubungannya dengan Altar Suci ? Bukankah sejarah menyebutkan bahwa Raja Shandabia dan para ksatria berhasil melenyapkan monster-monster itu ?”
“Sebenarnya monster-monster itu tidak benar-benar lenyap. Mereka disegel dengan kekuatan magis. Dan Altar-altar Suci itulah yang menjadi penjara abadi mereka. Sejak saat itu, orang-orang berdatangan di altar untuk memberikan harta benda mereka sebagai persembahan agar dewa-dewa tidak membiarkan para monster itu terlepas lagi ke dunia. Namun, seiring waktu, tradisi tersebut mulai pudar. Seperti halnya rakyat Shandabia yang mulai menjalani kehidupan barunya dan melupakan tragedi masa lalu. Karena itulah banyak generasi sekarang yang tidak mengetahui detail cerita tersebut,” Sharay mencoba menjelaskan.
Shin menganggguk-angguk tanda mengerti. “Satu lagi. Kalau memang monster tersebut telah disegel, bagaimana aku bisa menjumpainya di gurun ? Itu bukan halusinasi, kan ? Aku benar-benar menghadapinya saat itu.”
Sharay mendesah. “Itulah yang jadi masalah. Sepertinya segel tersebut mulai melemah. Mereka bisa saja terlepas lagi ke dunia.”
“Sial ! Kau serius ?! Apa jadinya kalau mereka benar-benar bebas ? Untung aku sudah mengalahkan salah satu di antaranya,” ujar Shin.
“He…aku rasa tidak juga.”
“Maksudmu ?” Shin bingung.
“Shin, apakah kau menemui kejanggalan sewaktu melawan Fururu ?”
“Apa ya ? Selain dua buah kepalanya yang memang terlihat aneh bagiku… mmm…Oh, ya ! Aku ingat ! Fururu seolah tak bisa pergi terlalu jauh dari lokasi altar,” Shin mencoba mengingat-ingat bagaimana Fururu tidak bisa mendekati oase waktu itu.
“Berarti benar. Mungkin saja segel Fururu baru terlepas sebagian. Itu sebabnya ia tidak bisa bergerak terlalu jauh dari altar yang menyegel kekuatannya. Dan, selama segel tersebut belum seutuhnya terlepas, monster-monster itu hanya akan muncul dalam bentuk ilusinya.”
“Ilusi ? Apa lagi itu ?” tanya Shin.
“Dengan kata lain, kalau kau pergi ke tempat itu lagi, bisa saja kau menemui Fururu seperti sedia kala sebelum kau mengalahkannya. Monster-monster itu takkan bisa mati kecuali kau membunuh wujud aslinya. Dan itu hanya terjadi bila segel mereka telah terlepas secara utuh.”
Shin terperangah tak percaya. Ia langsung terduduk lesu di beranda depan rumah kecilnya yang terlihat seperti kerucut dari luar. Seperti halnya rumah-rumah lain di Desa Shezai tersebut. Semuanya dibangun dengan bentuk kerucut.
“Berarti pertarunganku sia-sia ? Kasihan Tuan Muda Bibo dan Biff. Mereka telah mempertaruhkan semuanya hanya demi mengalahkan sesuatu yang mustahil…” ujar Shin pelan.
“Tidak juga. Justru pengalamanmu tersebut sangat berguna. Baru saja pemimpin desa dan Shere berangkat ke istana untuk melaporkan hal tersebut. Raja Shandabia harus mengetahuinya,” Sharay menepuk bahu Shin.
Shin tersenyum simpul.
Sebelum Sharay beranjak pergi dari rumahnya, Shin menanyakan satu hal lagi. “Sharay, siapa sebenarnya orang yang kau kawal itu ? Mengapa ia bisa tahu banyak ?”
“Namanya Thelgath, seorang cendekiawan tua dari negeri Asvarath. Waktu itu, ia memintaku untuk mengawal dalam perjalanannya menuju Altar Zeonith. Sampai di sana, ia menyuruhku untuk meninggalkannya karena ia ingin melakukan semacam penelitian yang mungkin memakan waktu lama.”
“Altar Zeonith ?”
“Ya. Katanya, itu adalah altar yang menyegel salah satu monster terkuat. Zeonith, Sang Halilintar,” jawab Sharay, meninggalkan rasa ingin tahu yang semakin besar dalam diri Shin.
———-
Sementara itu, jauh di timur Desa Shezai, di suatu tempat yang disebut Lembah Tanpa Batas.
Tampak sebuah kuil tua di antara rimbunnya pepohonan hutan. Keempat menara yang terdapat di keempat sudut kuil tersebut menjulang tinggi di antara pepohonan. Emas yang melapisi dindingnya memantulkan cahaya mentari yang menyilaukan mata dari kejauhan.
Di dalam ruangan utama kuil tersebut terdapat sebuah lubang yang begitu besar, dengan pagar tali mengelilinginya. Beberapa lembar kertas mantra menggantung di tali –tali itu.
Seorang kakek bertubuh kurus dengan rambut hampir botak dan kumis tipis duduk bersila di depan lubang itu. Sepertinya ia sedang bersemedi.
“Kau terlalu lama, Baron.” tanpa mengubah posisinya, kakek itu berbicara pada sosok lain yang baru saja datang di tempat itu.
“Hmm…sambutan yang kurang ramah bagi seseorang yang telah mengundangku,” jawab orang yang disebut dengan nama Baron itu. Seorang pria tinggi besar dengan lengan dan tungkai palsu yang terbuat dari logam.
“Tapi, tak kusangka kau benar-benar datang ke tempat ini,” lanjut Baron sembari melongok ke dalam lubang yang seolah tanpa dasar itu.
Kakek yang tengah bersemedi itu membuka matanya. Ia berdiri dan melangkah mendekati lubang tersebut. “Baron, kau membawanya ?”
Baron tersenyum. Dengan jemarinya, ia menuliskan sesuatu di udara. Sesaat kemudian tampak vorteks kecil berwarna ungu muncul di hadapannya. Ia memasukkan tangannya ke dalam vorteks magis tersebut, bermaksud mengambil sesuatu.
Kemudian, Baron menarik keluar tangannya. Ia menggenggam sebuah benda yang diambilnya melalui celah antar dimensi itu. Sebuah gulungan rantai emas.
“Aku takkan memberikan benda ini dengan cuma-cuma, Telgath. Atau lebih tepatnya…Tuan Perdana Menteri Asvarath,” ujar Baron sinis.
“Masih berbicara seperti itu meskipun tujuan kita sama ? Jiwa pedagang benar-benar telah merasukimu,” kata kakek bernama Telgath itu.
“Hei, bagaimanapun, aku selalu memberikan jaminan. Bahkan pemberontakan para ekstrimis itu takkan ada artinya tanpa senjata yang kupasok. Dengan harga yang sesuai tentunya…ha ha ha !!” Baron tertawa keras.
Telgath menggeleng-gelengkan kepala. “ Baron Zarga…seorang kolektor barang antik yang bergerak di balik layar sebagai pemasok senjata perang. Heh…benar-benar cara hidup yang aneh untuk seseorang yang memiliki hak atas tahta Shandabia.”
Raut muka Baron langsung berubah. Amarah tersirat dari kedua matanya. “Tahta Shandabia ? Persetan. Aku akan menciptakan tahtaku sendiri dan memperlihatkan neraka pada orang-orang yang telah mencampakkan diriku itu.”
Baron menyerahkan rantai emas itu pada Telgath. “Kalian, orang-orang Asvarath, lakukan apa saja yang kalian inginkan pada negeri ini. Cukup satu permintaanku. Nyawa Raja Shandabia… adalah milikku.”
“Permintaanmu telah dikabulkan, teman,” Telgath mengambil gulungan rantai tersebut. “Sekarang, kita kembali ke urusan sebenarnya. Saatnya membebaskan Sang Halilintar…”
Di luar sana, tiba-tiba cuaca berubah mendung. Gemuruh halilintar mulai terdengar, mengawali turunnya rintik hujan. Sesuatu yang terbilang aneh, karena saat ini Shandabia sedang dilanda kemarau panjang.
Pepohonan di Lembah Tanpa Batas mulai terbasahi oleh air hujan. Hanya kuil emas itu yang masih kering. Suatu hawa seperti membentengi kuil tersebut dari derasnya hujan.
Dan, perlahan tapi pasti, sesuatu mulai terjadi di dalam kuil yang dijuluki Altar Zeonith itu…