Lengan Isenra
Namaku Shin. Umur 17 tahun. Aku bekerja sebagai seorang pengawal bayaran. Aku cukup terkenal. Orang-orang memanggilku sebagai :
— Ia yang tersesat hanya dalam satu langkah —
Ya. Julukan yang membuatku menjadi pengawal dengan bayaran terendah.
Kali ini aku bertemu dengan Bibo dan Biff. Orang-orang aneh yang umurnya tak jauh berbeda denganku. Mereka sepertinya anak-anak saudagar atau semacamnya. Tapi tetap saja mereka…aneh…dan pelit.
Kalau saja mereka menyewa pengawal yang lebih baik daripada diriku, pasti mereka takkan tersesat hampir 3 hari di gurun seperti ini.
Tapi aku menemukan sesuatu yang mengejutkan dalam perjalanan bersama para tuan muda itu.
Ternyata, Bibo adalah seorang Sacra. Ia berubah menjadi seekor tikus tanah raksasa untuk melawan Fururu, si ular berkepala dua atau amphista.
Dua binatang besar itu sedang bertarung sengit sekarang. Namun, entah bagaimana, tubuh tikus raksasa itu melayang di atas kepalaku dan…
“Awaaas !!!” Shin melompat menyingkir. Tangannya menggapai Biff yang berespon lambat.
Buumm ! Druassh !
Tubuh bongsor tikus tanah raksasa itu terjatuh di tanah berpasir dengan kerasnya. Hampir menimpa Shin dan Biff, kalau saja mereka tidak segera menghindar tadi.
Tampaknya Bibo kewalahan menghadapi Fururu. Untung saja amphista yang baru saja melemparnya itu tak bisa bergerak mendekat. Lagi-lagi ia terhalang oleh sesuatu yang tak tampak. Menghalanginya untuk bergerak lebih maju ke oase.
Plop ! Tubuh tikus Bibo yang penuh luka gigit dan jeratan kembali ke wujudnya semula. Menjadi Bibo yang kerdil. Sepertinya kekuatan Sacra-nya sudah habis.
Namun Bibo seperti tak peduli dengan kondisinya. Gigitan Fururu yang berbisa itu tampaknya tak berpengaruh berkat kekuatan Sacra-nya. Ia langsung berdiri dan bersiap menyerang Fururu lagi.
Biff langsung mencegahnya. Ia melompat dari belakang, menggapai kaki Bibo.
Keduanya sama-sama jatuh terjerembat, tertelungkup di atas tanah.
“Biff ! Lepaskan kakiku !” Bibo terus merambat di atas pasir mendekati Fururu meskipun kedua kakinya dipegangi Biff dengan erat.
Biff yang juga masih tertelungkup terus menahan kaki Bibo. Ia tak mau melepas pegangannya.
Dengan sangat perlahan, kedua orang itu menggeliat di atas pasir.
“Bibo, jangan memaksakan diri !!” teriak Biff.
“Huh ! Kau terdengar sok pintar sekarang ! Lepaskan kakiku !” Bibo terus saja merambat. Menyeret tubuh Biff di belakangnya.
“Kenapa kau selalu keras kepala !!” teriak Biff lagi.
“Sudah kubilang, kan ! Meskipun tubuhku tak sempurna, tapi aku harus melakukan ini ! Sebagai pria sejati !” Bibo bersikeras.
“Aku tak mau kehilangan sahabatku satu-satunya !!” Biff berteriak untuk ketiga kalinya.
“Zsssssshh…” sesaat terdengar desis Fururu.
Kenapa mereka selalu bertengkar ? Shin memandangi Bibo dan Biff yang hanya merambat beberapa inci dari tempatnya semula tadi.
Setelah mendengar ucapan Biff yang paling terakhir tadi, Bibo langsung berhenti merambat. Ia terdiam sesaat.
Biff pun melepaskan pegangannya.
Kedua orang itu bangkit berdiri.
Bibo menatap Fururu yang sepertinya menunggunya untuk maju itu.
“Biff, aku harus melakukan ini…” kata Bibo pelan.
Biff, yang berdiri di belakangnya menundukkan kepala. Tidak mengucapkan sesuatu apa pun.
“Tuan muda Bibo !” celetuk Shin tiba-tiba.
Bibo tak menolehkan wajahnya. Ia masih memikirkan cara menangkap Fururu.
Shin tetap meneruskan perkataannya, “Tadi kau sudah menyuruhku untuk pulang. Itu berarti kontrak di antara kita sudah habis. Tapi…aku masih bisa membantumu.”
“Hah ? Apa kau bilang ?” Bibo tampak tertarik. Ia memandangi Shin.
“Hmm ?” Biff memiringkan wajahnya.
Shin berjalan menghampiri Bibo. Ia berdiri di sebelah orang yang hanya setinggi pinggangnya itu.
“Sebelumnya… tolong katakan. Kenapa amphista di depan kita ini seperti tak bisa bergerak mendekat ?” tanya Shin.
“Ckk…aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang cepat katakan maksudmu tadi. Kau bilang kau dapat membantu,” Bibo makin ingin tahu.
Shin menatap Bibo. Lalu Biff. Wajah keduanya sama. Penasaran.
Seperti tak mempedulikan mereka, Shin malah meregangkan kedua lengannya ke atas kemudian menekuk tubuhnya ke kanan dan kiri. Setelah itu membungkuk dan…
“Hei ! Pengawal bodoh ! Kenapa kau malah berolah raga !” teriak Bibo kesal.
Shin hanya tersenyum, “ Sedikit pemanasan.”
Hembusan angin dan pasir di daerah sekitar mereka terasa terhenti. Segalanya mendadak berubah tenang.
Fururu, yang masih berjaga-jaga apabila ketiga mangsanya keluar dari oase, berhenti menggeliat. Desisnya tak terdengar. Manik matanya yang hampir segaris atas bawah itu menatap salah satu targetnya dengan tajam.
“S-Shin !!! Kau…kau…” Bibo terperangah.
“Woaaa !!!” Biff juga terperangah.
Semua perhatian terpusat pada Shin sekarang. Sesuatu terjadi pada pengawal bayaran itu.
Seluruh lengan dan tangan Shin berubah seperti terbuat dari kristal yang berwarna bening, hampir transparan. Tampak kokoh dengan beberapa tonjolan lancip ke arah bahu. Relief kristalnya yang bersudut, menjadikan lengan Shin bagaikan pahatan berlian.
“Masih ada seorang Sacra lagi di sini,” ucap Shin.
“Jadi kau…!!!” Bibo dan Biff berteriak hampir bersamaan.
Tanpa banyak cakap, Shin langsung berlari maju. Pandangannya terkunci pada Fururu.
20…15…10…5 meter di depan Fururu, Shin melompat tinggi.
Di ketinggian, ia berhadapan dengan kepala no.1 Fururu yang menjulur ke atas. Makhluk tersebut seperti terkejut dengan gerakan Shin yang begitu cepat.
“ Emerald Twin Blade !!” Shin menekuk kedua lengannya di atas bahu, lalu mengayunkannya ke depan, seolah membentuk huruf X.
Kepala no.1 Fururu terlambat bereaksi. Di saat yang sama, kepala no.2-nya, yang berada di bawah, langsung menjulur naik dengan mulut yang terbuka lebar, mengarah pada Shin.
“Awass !” teriak Bibo berusaha memperingatkan.
“Zssssshh !” terdengar desis Fururu yang kesakitan.
Hawa energi dari tebasan tangan Shin berhasil melukai kepala no.1. Kepala tersebut terhempas ke tanah.
Ternyata, saat itu juga, seluruh tubuh Shin sudah dilahap oleh kepala no.2 Fururu, yang kini ganti menjulur ke atas. Berayun ke sana ke mari, seperti ada yang menggoyangkannya dari dalam.
“Gawat ! Monster itu menelan Shin !” Bibo naik ke bahu Biff dan menyaksikan dengan tegang.
“Bibo, aku kan kurus. Kenapa naik ke bahuku ?” kata Biff.
“Diam kau ! Pertarungan ini lebih penting !” tukas Bibo.
Kepala Fururu yang mencaplok Shin itu terlihat menghadap ke atas. Amphista tersebut tampaknya tak tahan dengan kekuatan dari dalam yang berusaha membuka mulutnya. Ia ingin menelan tubuh Shin secepat mungkin.
“Eaargh…” dengan susah payah, Shin berusaha membuka mulut itu dari dalam. Kedua lengan kristalnya menahan gigi-gigi taring Fururu yang penuh bisa. Sedangkan kakinya dijejakkan pada dinding mulut sebelah atas dan lidah.
Sedikit demi sedikit, celah mulut Fururu tersebut mulai terbuka. Namun, begitu Shin hampir berhasil membukanya, kepala no.2 Fururu tersebut langsung menutup kembali mulutnya dengan kuat.
“Uhhh ! Shin !” Bibo memanggil-manggil Shin. Ia mulai cemas.
Terlihat kesal, kepala no.2 tersebut membentur-benturkan dirinya sendiri ke pasir. Kesal karena mangsanya yang sulit ditelan.
Sementara itu, kepala no.1, yang tadi terkena jurus Shin, mulai terbangun dan menggeliat lagi. “Zsssshhh !”
Tiba-tiba, kepala no.2 tidak lagi memukul-mukulkan dirinya ke tanah. Kepala tersebut terdiam.
“Emerald Blossom !” samar-samar terdengar teriakan Shin dari dalam. Sesaat kemudian, mulut kepala no.2 tersebut koyak dan tubuh Shin menyeruak, melayang ke atas sambil mengangkat tangan kanannya lurus ke atas. Hawa energi berbentuk pedang raksasa terbentuk di sekitar tubuh Shin.
“Zsssshh !” kepala Fururu tersebut menggelinjang di atas tanah. Lukanya lebih parah dari kepala no.1.
Kaki Shin mendarat di atas leher kepala yang hampir menelannya itu. Tak mempedulikan dirinya yang penuh dengan lumuran darah Fururu, Shin berlari di atas tubuh makhluk tersebut. Menjadikannya sebagai titian. Ia menuju kepala no.1.
Kepala yang sedang dituju Shin itu untuk sesaat seperti terlihat simpati dengan kepala no.2, yang menggeliat tak berdaya di atas pasir.
Tapi perhatiannya segera mengarah pada Shin. Sebelum manusia itu mencapai tujuannya, Fururu tersebut menggerakkan tubuhnya ke salah satu lubang besar yang ada di dekatnya. Lubang yang tadi terbentuk saat ia bertarung dengan Bibo.
Zruut…zruut… Seluruh tubuh Fururu membusur ke atas dan dengan cepat memasuki lubang itu.
“ Ahh !” Shin tergelincir dari atas kulit amphista yang licin itu. Ia sempat berpegangan, namun akhirnya jatuh juga.
Bibo dan Biff tampak akan berlari menghampiri Shin yang telah mendarat di pasir.
Namun pemilik lengan kristal ini segera mengetahuinya. Ia memberi tanda dengan tangan. Kedua orang itu harus tetap di tempatnya.
Sunyi.
Belum terjadi apa-apa semenjak Fururu tadi masuk ke dalam lubang. Shin berjalan perlahan. Makin menjauhi lokasi oase. Sesekali ia menengok ke belakang, siapa tahu Fururu muncul dari salah satu lubang dan membokongnya.
Shin tepat berdiri di antar oase dan reruntuhan kini. Ia tetap waspada. Kemana kau, ular…
Mendadak pasir tempatnya berpijak tergetar. Ia langsung melihat lubang di sebelah kanannya.
Sraashh !!
Kepala no.1 Fururu muncul dari lubang itu. Tubuhnya terus menjulur ke atas, begitu tinggi. Tetesan darah berjatuhan membasahi tanah berpasir di sekitar lubang keluarnya. Pasti itu berasal dari luka-lukanya.
Tubuh Fururu yang melesat ke atas itu sampai menutupi pandangan Shin akan matahari.
Sesaat, seluruh tubuh Fururu seperti terhenti di udara.
Kemudian, saat Shin masih terpana, makhluk besar itu sudah melengkungkan tubuhnya ke bawah dan meluncur ke arah Shin.
Respon Shin langsung tergerak. Ia melakukan lima kali salto ke belakang.
Shin mengira bahwa Fururu pasti akan meluncur lurus dan menghantam tempatnya berdiri tadi.
Ternyata tidak. Kepala no.1 Fururu yang baru sedikit terluka itu menggigit kepala no.2, yang tampaknya sudah sekarat.
Badan Fururu pun menjadi seperti roda. Ia berputar kencang begitu jatuh ke pasir. Setelah putarannya maksimal roda gila tersebut menggelinding menuju Shin.
“ Kurang ajar !!” Shin tak sempat menghindar. Ia menahan roda Fururu dengan kedua tangannya.
“ Aaarghh !!” Shin mengerahkan segenap tenaganya. Roda raksasa itu terus berputar. Semakin kencang. Keduanya terbenam dalam pasir, sedikit demi sedikit.
Tangan kristal Shin mulai terkikis oleh putaran tubuh Fururu. Tampak serpihan kecil kristal berhamburan ke wajahnya sendiri.
Melihat itu, Bibo langsung turun dari bahu Biff. Ia berlari menuju Shin yang tengah terdesak.
“Bibo ! Jangan mendekat !” cegah Biff.
“Shin bisa mati !” Bibo terus berlari, menghindari lubang-lubang yang tadi dibuatnya sendiri. Brengsek…andai aku masih memiliki kekuatan untuk berubah…
Tubuh Shin sudah separuh tenggelam dalam pasir. Area pasir di sekitarnya membentuk cekungan besar karena gelombang kekuatan yang terlepas dari tubuh Fururu yang terus berputar.
Saat itu, Shin seperti melihat sesuatu di lapang pandang kanannya. Sambil tetap menahan Fururu, ia melirik ke kanan. Ia melihat Bibo berlari ke arahnya. Biff tampak mengikutinya.
He ! Apa-apaan ini ! Mereka bisa terluka ! Shin tak mampu berteriak mencegah kedua orang itu. Konsentrasinya terpusat pada Fururu.
“Ular keparat !!!” Bibo terus berlari mendekat, sambil bersiap memukul tubuh Fururu yang tengah berputar kencang. Ia tak peduli meskipun kepalan tinjunya terlalu kecil dibanding tubuh ular raksasa itu.
“ Jangan ! ” akhirnya Shin berteriak memperingatkan Bibo. Tapi dengung putaran Fururu menutupi suaranya.
Shin tahu, bahwa selain dengan tangan kristalnya, bergesekan dengan putaran sekencang ini sama saja dengan bunuh diri.
“Rasakan ini !!” Bibo melompat, menerjang maju ke arah Fururu.
Dalam hitungan detik yang teramat cepat, Biff yang berlari di belakang Bibo melakukan sesuatu.
Tanpa terduga oleh Bibo yang tengah melayangkan tinjunya ke arah Fururu, tiba-tiba Biff muncul di udara, tepat di hadapannya. Orang jangkung itu tampak tersenyum kepadanya.
Bibo tak dapat mengerem gerakannya. Ia sudah terlanjur melompat.
Semua terjadi begitu cepat. Bibo menubruk tubuh Biff yang menghalanginya. Daya dorong menyebabkan tubuh kedua orang itu terhempas ke arah Fururu, yang tinggal beberapa inci lagi dekatnya.
“ Aaaaaarrghhh !!!” terdengar teriakan Biff.
Shin, masih berkutat dengan roda Fururu yang terus menggencetnya, serasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bibo memang langsung terpental ke tanah. Tapi tidak dengan Biff yang telah menjadikan tubuhnya sebagai bantalan agar Bibo tak terkena gesekan roda.
Putaran tubuh Fururu itu sempat mengkoyak-koyak punggung Biff dan memuncratkan darah ke mana-mana, sebelum akhirnya mementalkannya.
Bibo, yang tersungkur di atas pasir, seperti terpaku. Tubuh Biff yang bersimbah darah melayang di atasnya, dan terjatuh di pasir, beberapa meter di belakangnya. Orang jangkung itu tampak tak bergerak.
Bibo seperti tersihir oleh keadaan. Ia tak tahu harus berbuat apa.
“Eaaargh !!” melihat itu, Shin begitu marah. Ia memperkuat pertahanannya dari desakan roda Fururu. Perlahan tapi pasti, dibantu dengan tumpuan kakinya yang terbenam di dalam pasir, ia mulai mendorong balik.
Semua belum berakhir…Lengan dan tangan kristal Shin yang semula berwarna bening mulai berubah warna. Menjadi merah.
Roda Fururu terlihat terdorong mundur meskipun hanya sedikit. Namun, seperti tak mau mengalah, Fururu menambah kencang putarannya.
Tangan kristal Shin yang sekarang berwarna merah cerah itu terlihat lebih kuat dari sebelumnya.
“Kau melawan orang yang salah, ular jelek !” dengan penuh percaya diri, Shin melepas kedua tangannya dari tubuh Fururu. Untuk sesaat, roda raksasa yang tak tertahan itu seperti akan menggilasnya.
Dalam hitungan sepersekian detik, Shin menebaskan kedua lengannya secara horisontal ke arah samping, “Emerald Execution !!!”
Hawa energi berbentuk pedang raksasa keluar dari tebasan Shin.
Daaasshh !! Seberkas cahaya menyeruak saat hawa energi tersebut menghantam tubuh Fururu yang sudah begitu dekat dengan Shin.
Roda raksasa tersebut mulai melambat dan akhirnya berhenti. Diam untuk sesaat. Kemudian…
Buuumm !!! Tubuh amphista tersebut ambruk di depan Shin. Terpotong menjadi dua bagian. Darahnya menggenang dan hilang meresap di pasir sekitarnya.
Tak ada gerakan lagi dari Fururu. Sepertinya ular raksasa berkepala dua itu telah sampai di akhir hidupnya.
Shin tak menghiraukan ular raksasa itu. Ia segera menghampiri Bibo yang sedang berusaha memberikan nafas buatan dan pijat jantung pada Biff.
Tiba-tiba, Shin merasakan pening di kepalanya. Penglihatannya menjadi kabur dan langkahnya terasa begitu ringan.
Bruuk…
Shin pun terjatuh di atas bantalan pasir kuning. Ia tak sadarkan diri.
Tinggal Bibo seorang yang masih terjaga. Ia semakin bingung dengan keadaan ini. Nyawa Biff sudah di ujung tanduk dan pengawal bayaran itu pingsan entah kenapa.
Sementara itu, tak jauh di sebelah barat dari medan pertarungan itu, terlihat seseorang yang tengah berdiri di atas sebuah tempat tinggi. Ia menyambut kedatangan seekor burung elang yang baru saja terbang dari arah timur.
“Hmm…jadi kau melihatnya ?” orang dengan mata terpejam itu berbicara dengan elangnya yang bertengger di atas bahu.
“Ya…ia ada di sini,” ternyata burung elang itu dapat berbicara. Suaranya terdengar bijak.
“Heh, ternyata kau di sini… Lengan Isenra…” lelaki tersebut menyibakkan jubah hitamnya dan berbalik.
“Haka…kembalilah ke Pagoda 100 Tahun. Katakan pada Lima Sesepuh, bahwa aku akan membunuh Lengan Isenra,” ia berbicara lagi pada burung elang itu.
“Baiklah…” elang itu pun melayang, meninggalkan bahunya. Sebelum terbang pergi, ia mengucapkan sesuatu pada lelaki pemiliknya. “Jangan sampai gagal, Oroa…”
Elang itu akhirnya terbang menjauh ke arah selatan.
Oroa, nama lelaki dengan mata terpejam itu, melanjutkan langkahnya.
Di hadapannya, tergeletak enam ekor Rexaurus, reptil raksasa penghuni gurun. Semuanya mati. Dengan sebilah pedang besar yang tertancap di atas masing-masing kepala mereka.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Keenam pedang yang tertancap pada kepala-kepala Rexaurus itu terangkat melayang.
Pedang-pedang tersebut berubah menjadi seberkas sinar dan seperti tertarik oleh magnet, semuanya bergerak ke arah lelaki bernama Oroa itu, kemudian terserap satu demi satu ke dalam telapak tangan kanannya.
“Lengan Isenra ? Heh…tak ada artinya dibanding Lengan Eredra milikku,” lelaki yang terus memejamkan matanya itu meneruskan perjalanannya.
Ternyata, tidak hanya enam ekor Rexaurus yang mati olehnya. Di sepanjang jalannya, tergeletak puluhan Rexaurus lainnya. Tubuh mereka hancur terkoyak-koyak.