Gurun Pasir dan Fururu
Matahari bersinar dengan sangat terik. Angin yang harusnya menyejukkan justru terasa gerah dan menyiksa. Butir-butir pasir beterbangan di mana-mana, seperti berlomba-lomba untuk menghinggapi mata yang makin terasa risih.
Sejauh yang terlihat hanyalah pasir dan pasir. Oh, masih ada yang lainnya. Pasir….mmm…ya betul. Bahkan tulang belulang binatang yang telah beristirahat dalam damai, bebatuan yang berlagak tegar, dan juga pohon kaktus yang selalu bangga dengan duri-durinya itu seperti terbuat dari pasir. Terlalu banyak pasir di tempat ini.
Bagaimana pun, tak ada yang bisa diharapkan. Karena tempat ini memang gurun pasir. Tapi, wajan alamiah yang menyebalkan ini tidak membuat ketiga orang itu menyerah. Mereka terus saja berjalan. Meninggalkan cetakan-cetakan kaki di atas pasir kuning. Mereka melangkah dengan penuh semangat… sepertinya…
Entah ke mana tujuan ketiga lelaki tersebut. Salah satu dari mereka berjalan di depan yang lainnya. Ia menggunakan mantel hitam panjang yang kerahnya menutupi sebagian wajah bagian bawahnya. Sebuah tas kantung tergendong di punggungnya.
Dua orang yang lain berjalan sekitar 3 meter di belakangnya. Yang satu seorang lelaki bertubuh kerdil. Tubuhnya seperti anak kecil, tapi wajahnya seperti orang dewasa muda. Orang yang berjalan di sebelahnya memiliki tubuh jangkung. Wajahnya agak kotak dengan rambut jabrik yang tak karuan. Keduanya sama-sama mengenakan jubah warna biru tua. Masing –masing memanggul sebuah kantung besar.
“Hei, Bibo ! Benarkah ini jalannya ? “ tanya pria bertubuh jangkung pada rekan perjalanannya yang bertubuh kerdil itu.
Pria kerdil yang bernama Bibo itu tampak cemberut. “Mana ku tahu !”
“Ha ? Katanya kau tahu segalanya ?” pria bertubuh jangkung kembali bertanya.
“Yang kutahu kau itu bodoh, Biff ! Kau telah menyewa pengawal bodoh yang membuat kita berputar-putar saja di gurun pasir bodoh ini !” Bibo marah-marah. Ia menghentikan langkahnya dan membanting kantung besar yang dipanggulnya ke pasir.
Biff, pria yang bertubuh jangkung itu, ikut berhenti. Wajahnya penuh tanya. “Ha ? Jadi aku bodoh ?”
Ahhh ! Aku tak tahan lagi berjalan dengan orang bodoh ini ! Bibo tampak kesal. Ia menginjak-injak pasir di bawahnya. Kemudian tatapannya tertuju pada pemuda yang berjalan di depannya. Pemuda itu terus saja berjalan, padahal ia dan Biff tengah berhenti.
“Hei, kau ! Pengawal bodoh ! Berhenti !!!” Bibo memanggil dengan lantang.
Pemuda yang mengenakan mantel hitam itu menghentikan langkahnya. Ia menengok ke belakang, lalu berjalan balik. Menghampiri Bibo dan Biff.
“Lho…kenapa kalian berhenti ?” ia bertanya pada kedua orang itu.
“Hei ! Sebenarnya kau tahu jalan menuju Altar Fururu atau tidak ?! Kami sudah membuang uang untuk menyewamu !” Bibo mengomel pada pemuda tersebut.
“Ha ? Pernahkah kita membuang uang ? ” celetuk Biff dengan nada datar.
“Diam kau, tolol !” Bibo mengacungkan kepalan tangannya ke arah Biff.
Si pemuda menonton tingkah kedua orang yang sepertinya tak akur itu. Ia tidak berkomentar apa-apa.
“Hei ! Jangan diam saja ! Jawab pertanyaanku !” Bibo kembali menanyai pemuda pengawalnya.
Si pemuda menggaruk-garuk rambut merahnya yang kotor karena pasir. “Ehmmm…sepertinya kita memang tersesat.”
Tak ada respon dari Bibo. Wajahnya tanpa ekspresi.
Semuanya terdiam. Angin gurun berhembus pelan menerbangkan pasir-pasir di bawah mereka. Kemudian suasana sekitar terasa sunyi.
“Siapa yang tersesat ?” ucapan Biff memecah kesunyian.
Tak ada yang berkomentar.
Wajah Bibo yang tanpa ekspresi mulai berubah. Makin lama terlihat memerah. Merah padam.
“Tidaaaaaaaaaaaak !!!!!” teriakan Bibo yang penuh kefrustasian seperti terdengar di seluruh gurun tersebut.
Menit demi menit telah berlalu…
Matahari masih saja bersinar terik. Tanpa dijelaskan panjang lebar lagi, suasana gurun masih tetap sama. Dan ketiga orang itu tetap meneruskan perjalanannya.
Gurun yang membosankan ini seperti tak ada habisnya. Jalannya naik turun. Berjalan lurus, berbelok ke kiri, atau berbelok ke kanan sepertinya sama saja.
Langkah Bibo terlihat gontai. Kedua lengannya terkulai hampir menyentuh pasir. Ia tertawa-tawa sendiri saking frustasinya. Hi hi hi… tersesat… kita tersesat…
Biff melihat rekannya itu. Ia terheran-heran sendiri.
Pemuda yang disewa sebagai pengawal itu terus berjalan di depan. Hanya ia yang masih bersemangat meskipun mereka tersesat di tengah gurun ini.
Brengsek, kenapa aku sering tersesat ya ? Bisa-bisa Sheilla memarahiku… pemuda itu meringis sendiri.
Menit demi menit semakin berlalu…
Akhirnya tak hanya Bibo yang berjalan dengan lemas. Pemuda pengawal dan Biff mengalami hal yang serupa.
Ketiga orang itu berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Sekarang mereka semua tertawa-tawa sendiri seperti orang gila.
Hi hi hi… gurun yang menyenangkan… hi hi hi…
Mungkin itu terjadi karena pengaruh panas dan juga dehidrasi. Bekal minum telah ludes sejak tadi. Mereka benar-benar kurang persiapan dengan perjalanan gurun seperti ini.
Dengan keadaannya yang sudah begitu kelelahan, si pemuda pengawal merasa melihat sesuatu di depannya. Hmmm ?
Awalnya ia mengira kalau itu hanya pengaruh khayalannya. Fatamorgana…
Namun pemandangan di depannya semakin jelas. Mulai menyembul di balik layar tak kasat mata yang terbentuk karena hawa panas di gurun ini.
Si pemuda memicingkan matanya. Sepertinya ada pohon di sana…pohon dan…
Mendadak semangatnya terpompa lagi. Ia lupa dengan rasa haus dan lelahnya. Kesadarannya kembali penuh. Ia berdiri tegak sekarang.
“Akhirnya !!!” ia berteriak sendiri. Kemudian menengok ke belakang, bermaksud memberitahu kedua orang yang dikawalnya itu.
“Weks…di mana mereka ?!” Ia terkejut saat melihat Bibo dan Biff tidak ada di belakangnya.
Pemuda ini menoleh ke mana-mana. Kurang ajar…menyusahkan saja. Ia lalu menaruh tas kantungnya di tempatnya berdiri sekarang. Mungkin sebagai tanda agar ia dapat kembali lagi ke sini karena ia harus balik ke arah semula. Mencari Bibo dan Biff.
Setelah mencari-cari, akhirnya kedua orang itu ketemu juga. Tak begitu jauh. Mereka jatuh pingsan. Mungkin pemuda tersebut tak menyadarinya karena ia berjalan paling depan.
“Aaargh…mereka berat juga !” si pemuda dengan susah payah menyeret kedua orang yang sulit dibangunkan itu.
Dengan penuh perjuangan akhirnya ia berhasil membawa mereka ke tempat yang dilihatnya tadi. Tempat itu bukanlah fatamorgana.
Tempat itu sungguh sebuah oase ! Dengan kolam alaminya, dengan pohon-pohon kurmanya, dengan… dengan… sudahlah. Semua pasti tahu tentang oase.
Byur ! Byur !
Setelah menceburkan kedua orang yang pingsan itu , si pemuda pengawal pun menanggalkan mantel hitamnya dan menceburkan diri ke dalam kolam alami di antara pepohonan kurma itu.
Byur !
“Wuhuu,” ia menikmati segarnya kolam yang lumayan dalam itu.
Ia menatap tubuh Bibo dan Biff yang tadi diceburkannya dengan sembarang. Mereka tenggelam di dasar kolam.
“Bluurp…bwuaah !” kepala Bibo menyembul di permukaan sambil memuntahkan air yang hampir tertelan.
“Pengawal bodoh ! Kau mau membunuh kami, ya ?!” baru saja siuman, Bibo langsung marah-marah.
Tak lama kemudian Biff juga menyembul ke permukaan. Wajahnya yang basah terlihat seperti orang mau muntah.
“Biff…kenapa kau ?” Bibo heran.
“Ahu eyayu ahak ehiyuh ahi (Aku terlalu banyak meminum air)…” Biff berbicara sambil menahan mulutnya yang benar-benar mau muntah. Dan…
“Hoeek !!!” orang yang kurus jangkung tersebut memuntahkan seluruh sisa makanan di lambungnya ke dalam air kolam.
Menjijikkan ! pemuda pengawal dan Bibo langsung meloncat keluar dari kolam.
Beberapa saat berlalu…
Teriknya matahari dan gerahnya gurun tak terlalu terasa di oase yang cukup luas ini.
Bibo yang bertubuh kerdil itu berdiri membelakangi kolam oase. Dengan senyum tersungging di wajahnya, ia menatap suatu reruntuhan bangunan yang samar-samar terlihat di utara oase. Sekitar 200 atau 300 meter mungkin.
“Altar Fururu. Akhirnya. Ternyata kerjamu bagus juga, pengawal. Eh, siapa namamu ? Aku lupa…” Bibo terlihat lebih ramah sekarang.
Si pemuda pengawal itu menjawab. “Shin…namaku Shin.”
“Oh ya, aku ingat sekarang. Shin…kau boleh pergi sekarang,” ujar Bibo.
“Eh ?” pengawal bernama Shin tersebut terlihat kaget. “Per…gi ?”
“Ya. Pergilah,” Biff yang duduk bersila di atas sebuah batu di tepi kolam oase ikut menimpali.
Shin semakin heran. “Bukannya aku harus mengawal perjalanan kalian ? Baik berangkat maupun pulang…”
“Hei, kami bisa pulang sendiri nanti. Lagipula, bisa-bisa kau membuat kita tersesat lagi entah ke mana,” Bibo membuka kantung besar yang dipanggulnya dari tadi.
Biff melakukan hal yang sama. Ia mengeluarkan isi kantung bawaannya.
Barang di dalam kantung kedua orang itu ternyata gulungan rantai logam. Rantai logam yang berukuran besar. Pantas saja kedua kantung tersebut terlihat berat.
“Untuk apa rantai-rantai ini ?” Shin jongkok memegangi rantai-rantai besar itu.
Bibo mengambil rantainya. “Hei ! Jangan sembarangan menyentuhnya…ini Rantai Arwah. Kau masih tak sadar juga, apa tujuan kami mencari reruntuhan itu ?”
Shin menggeleng. Ia melihat sebentar ke arah reruntuhan yang tadi ditunjukkan Bibo.
“Singkatnya, aku dan Biff akan menangkap Fururu,” Bibo memanggul rantai besar itu di bahunya.
Fururu ? Apa itu sebenarnya ? Shin masih tak mengerti.
Sambil memanggul rantainya masing-masing, Bibo dan Biff beranjak menuju ke reruntuhan kuno yang sepertinya bekas kuil itu.
Orang-orang kurang kerjaan. Shin tidak mengikuti mereka. Ia mengamati Bibo dan Biff berjalan ke arah reruntuhan.
Bibo dan biff terlihat sepertiga perjalanan menuju reruntuhan.
Bibo dan Biff terlihat separuh perjalanan menuju…Lho…kenapa mereka melenceng ke barat ?
“Woooii !!!” Shin berteriak memanggil kedua orang itu dari kejauhan.
Sepertinya, Bibo dan Biff mendengar. Mereka menengok ke belakang, melihat Shin yang menunjukkan tangannya ke arah yang benar untuk menuju reruntuhan.
Di kejauhan, terlihat Bibo dan Biff yang terdiam sejenak penuh tanda tanya. Untung mereka segara sadar. Bahkan untuk jarak sedekat itu pun, siapa saja bisa tersesat di gurun ini.
Akhirnya Bibo dan Biff membenarkan arah jalannya menuju reruntuhan.
Ahh, ternyata tidak hanya aku yang buta arah…pikir Shin.
Sebelum pulang ke asalnya, seperti pesan Bibo tadi, Shin bermaksud beristirahat dulu di oase ini.
Ia mengambil tas kantungnya dan mengeluarkan sebuah kain. Digelarnya kain tersebut di tepi kolam oase, di bawah sebuah pohon kurma.
Shin berbaring di atas kain yang dijadikannya alas tidur itu. Tas kantung dan mantel hitamnya dijadikan bantalan. Pohon kurma di dekatnya cukup melindungi dari sengatan matahari.
Sambil tiduran, Shin memandangi reruntuhan kuil yang dituju kedua orang yang dikawalnya itu. Bibo dan Biff tampaknya sudah masuk ke dalamnya. Reruntuhan itu disebut Altar Fururu, ya. Fururu…Fururu…aku tidak tahu apa Fururu itu.
Beberapa saat kemudian, ketika ia hampir tertidur, terdengarlah suatu suara bergemuruh.
Druaassh !!
Shin yang kaget langsung melompat bangun. Ia melihat kepulan debu pasir menutupi area di sekitar Altar Fururu.
Samar-samar, ia melihat dua sosok keluar dari kepulan debu tersebut. Lari dengan cepat ke arahnya.
Shin memicingkan matanya. Hah ? Mereka kan… dua orang tadi. Sudahkah mereka menangkap sesuatu bernama Fururu itu ?
“Waaaa !!!” dari kejauhan, Bibo dan Biff berlari terbirit-birit menuju tempat Shin berada. Seperti dikejar sesuatu.
Keduanya hampir tiba di dekat oase ketika sesuatu muncul di belakang mereka.
Sraaashh !!!
Sebuah ular raksasa menyeruak ke atas, menyembul dari balik pasir. Membayangi kedua orang itu dari belakang.
Whoaa apa itu ! Shin terperangah tak percaya.
Ular raksasa itu seperti hendak menyambar dua manusia calon mangsanya.
Bibo dan Biff langsung meloncat sekuat tenaga, terguling-guling, dan tersungkur tak jauh di hadapan Shin.
“Awaass ! Dia dat… hah ?” Bibo mengira ular raksasa itu masih mengincarnya.
Ternyata tidak. Ular dengan panjang kira-kira 20 meter dan lebar 1 meter lebih itu berhenti mengejar sebelum mencapai deretan pohon kurma yang menjadi pagar terluar oase. Ia hanya menggeliat di tempatnya, sambil memandangi ketiga orang itu.
Setelah diperhatikan, ternyata ular raksasa yang tadi hampir memakan Bibo dan Biff terebut memiliki dua kepala, masing-masing berada di setiap ujung tubuhnya. Salah satu kepalanya (selanjutnya disebut kepala no.1), dijulurkan ke atas, melebihi tinggi pohon kurma. Yang satu lagi (kepala no.2) tampak bergerak-gerak di atas pasir.
“Hei ! Tuan Bibo ! Jangan-jangan ular aneh itu yang disebut Fururu ?” Shin membantu Bibo berdiri. Di sampingnya, Biff tengah membersihkan pasir di jubahnya yang sobek-sobek.
“ Ya. Itu adalah Fururu, sang Amphista. Brengsek…” Bibo terlihat marah. Ia menoleh ke arah Biff.
“Biff ! Kenapa Rantai Arwah kita bisa hancur ?!” ia membentak Biff yang terlihat tenang-tenang saja.
“Mmm…aku membelinya dari Baron Zarga seperti pesananmu. Dan aku sudah memilih yang paling murah agar kita bisa menghemat uang perjalanan…” jawab Biff polos.
“APA ?! YANG PALING MURAH ?!” Bibo terperanjat. “Biff ! Kau benar-benar bodoh ! Aku berpesan untuk membeli Rantai Arwah ! Bukan rantai yang paling murah ! Dasar bodoh !”
“Hah ? Jadi rantai kalian hancur ?” Shin tidak mengalihkan pandangannya dari Fururu. Amphista (ular berkepala 2) tersebut sepertinya tak bisa mendekat. Hanya menggeliat di atas pasir sambil terus mendesis. Sesekali berusaha bergerak maju mendekati oase, namun gagal. Seperti menabrak dinding tak kasat mata yang membatasi.
“Ya. Fururu itu menghancurkannya dengan mudah, saat kami mencoba menangkapnya, ” Bibo melepas jubahnya. Ia juga melepas pakaiannya. “Baiklah kalau begitu. Terpaksa dengan cara terakhir…”
“Eh…apa yang akan kau lakukan ?” tanya Shin.
“Bibo, jangan lakukan cara itu. Kau akan menjadi… tahu kan… terlihat lebih jelek,” celetuk Biff.
“Diam Biff !! Jangan banyak komentar !!” Bibo yang bertubuh kerdil itu bertelanjang dada kini. “Kita sudah menempuh perjalanan jauh. Kita sudah melalui gurun yang tak bersahabat ini. Aku takkan melepaskan Fururu !”
Shin makin tak tahu apa yang akan dilakukan Bibo sebenarnya.
Bibo berjalan maju.
“He ! Hati-hati ! Ular aneh itu bisa saja menyerangmu !” Shin berusaha memperingatkan.
Bibo diam saja. Kemudian…
Plop ! Sesuatu terjadi pada Bibo. Ia berubah menjadi…
Mata Shin melotot melihatnya.
Bahkan Fururu itu pun seperti terkejut dengan sesuatu yang terjadi pada tubuh Bibo.
Hanya Biff yang tak terkejut. “Ckk…kau nekad melakukannya, Bibo.”
Benar. Bibo telah berubah. Ia menjadi tikus tanah. Tikus tanah yang gemuk. Tikus tanah gemuk yang besar. Setinggi pohon kurma.
Weeks ! Tikus tanah raksasa ?! Jangan-jangan Bibo seorang… Shin seperti mengetahui sesuatu tentang perubahan tubuh Bibo.
“Bibo… kau terlihat semakin jelek dengan bentuk sepert..” Biff belum selesai berbicara ketika ekor Bibo yang besar berkelebat menghantam tubuhnya.
“Waaaa !” Biff terlempar, jatuh tercebur ke dalam kolam oase.
“Cerewet kau ! Seorang pria harus melakukan apa yang harus dilakukannya !” suara Bibo yang telah berubah menjadi tikus raksasa itu terdengar lebih berat daripada biasanya.
“Fururu ! Awas kau ! Cit cit ciiit !!!” dengan cepat dan kuat Bibo langsung menggali pasir di hadapannya.
“Brrurp… apa yang kau lakukan ?!” Shin berusaha menghindar dari pasir yang berhamburan dan tertimbun di sekitar lubang yang digali Bibo.
“Cit cit cit !!” begitu lubangnya cukup lebar, Bibo langsung masuk ke dalamnya.
Tanah berpasir di sekitar oase terasa bergetar.
“Hah ? Ke mana dia ?” Shin heran. Ia jongkok dan melongok ke dalam lubang yang barusan digali Bibo itu.
“Zzsssssshh…” terdengar desis Fururu.
Shin langsung menengadahkan kepala, menatap Fururu yang baru saja mendesis itu. Ia tak menyangka. Entah bagaimana, Fururu yang berada tak jauh di luar oase itu dengan tiba-tiba tenggelam ke dalam pasir, seperti ditarik sesuatu.
Fururu tersebut hilang. Terlihat sebuah lubang baru di bekas tempatnya menggeliat tadi.
Lagi-lagi terasa getaran dari dalam tanah.
“Bibo seorang Sacra…” Biff yang baru saja keluar dari air, berbicara menghampiri Shin.
“Eh ? Bibo seorang Sacra ?” Shin menatap Biff dengan wajah penasaran. Berarti dugaanku benar…
“Ya, ia mampu berubah menjadi tikus tanah raksasa,” jawab Biff. Ia tak terdengar seperti orang bodoh lagi.
“Kalau benar ia seorang Sacra, lalu apa yang menjadi pengorbanannya ?” Shin makin penasaran.
Biff terdiam sejenak. “Kau tak tahu, ya ? Itu sebabnya Bibo bertubuh kerdil.”
Shin manggut-manggut. Ia memang tahu banyak perihal Sacra. Namun ia tak menduga bahwa Bibo yang bepergian selama hampir 3 hari besertanya, adalah seorang Sacra. Jadi, Bibo telah mengorbankan pertumbuhan fisiknya demi kekuatan…
“Tapi…” Shin hendak mengucapkan sesuatu.
“Ada apa ?” tanya Biff.
“…mengapa tikus tanah raksasa ?” Shin sepertinya masih merasa geli dengan perubahan yang terjadi pada Bibo.
Dan, sementara mereka berbicara… Bibo terus bertarung dengan Fururu. Getaran yang terasa dari dalam tanah itu timbul karena pergerakannya yang membuat lubang-lubang terowongan.
Sesekali tikus tanah raksasa dan amphista tersebut muncul ke permukaan, bergulat dengan ketat, saling menggigit dan melilit, lalu kembali masuk ke dalam tanah lagi. Begitu seterusnya. Lokasi di sekitar Altar Fururu kini dipenuhi dengan lubang-lubang besar.