“ Lihatlah dirimu, Garashea. Kau sebut dirimu pemimpin para ksatria ? Kau sebut dirimu raja terkuat ? Persetan ! Kau hanyalah sampah seperti halnya seluruh bangsamu. Bangsa manusia yang rendah. Ha ha ha !” tawa Northradez menggema di benteng yang sudah kehilangan kemegahannya itu.
Iblis putih tersebut meraih kaki seorang lelaki yang terbaring tak berdaya, lalu mengangkatnya. Tubuh penuh luka tersebut terjuntai dalam keadaan terbalik. “ Hei, kau tahu apa yang akan kulakukan pada anak tunggalmu ini ?”
Raja Garashea tak dapat berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya lumpuh. Bahkan untuk berbicara pun ia tak sanggup. Hanya mata dan telinganya yang masih mampu mengikuti seluruh peristiwa menakutkan ini.
Jangan ! Kumohon jangan ! Raja berkata dalam hatinya. Memohon agar iblis itu tak membunuh sang putra mahkota.
“Ayah…” ucap sang pangeran lirih. Darah dari luka-luka di tubuhnya menetes ke tanah, membentuk genangan.
“Wohoo, kau masih mampu berbicara, manusia muda ?” Northradez menghujamkan lututnya ke tubuh pangeran.
Darah pun menyembur dari mulut pemuda yang berusia belasan tahun tersebut.
Ferashea ! Tidak ! Air mata berlinang di wajah raja yang biasanya penuh ketegaran itu. Ia tak tahan melihat siksaan yang dialami putra satu-satunya.
“Ayah…kitalah pemenang pertempuran ini,” dengan susah payah, pangeran mencoba untuk tersenyum. Kepalanya yang terbalik terasa sangat berat. Ia tak bisa melihat ayahnya dengan jelas. Nafasnya pun sudah sangat pelan.
Ya, Anakku. Kitalah pemenangnya. Kitalah pemenangnya… Raja berusaha membalas senyumannya. Ia ingin berdiri dan meraih anaknya dari cengkeraman Northradez. Namun ia tak mampu.
“Manusia tengik, omong kosong apa yang kau ucapkan ?!” Northradez terlihat marah. Ia urung membunuh pangeran dan bermaksud melemparnya pada iblis lain yang berada di situ. “Eastradez ! Kau saja yang membunuh pangeran tak berguna ini. Aku sudah muak !”
Tubuh Pangeran Ferashea melayang dan ditangkap oleh iblis bernama Eastradez. Iblis merah itu tengah duduk di atas tumpukan mayat para ksatria tertinggi kerajaan.
“Ho ho…dengan senang hati,” lidah Eastradez yang lebih panas dari bara api mulai menjilati leher pemuda yang dicekiknya itu. Api pun menyala, merambat dari leher hingga ke seluruh tubuh sang pangeran. “Hmm. Aku menyukai aroma ini. Aroma daging panggang.”
Hanya dalam sekejap, sang pangeran telah tiada. Lebur begitu saja menjadi abu.
Eastradez termangu. Ia menjilati cakarnya yang penuh sisa abu. “Hmm…mengapa hidangan lezat ini habis sebelum aku menyantapnya ?”
Hati Raja Garashea terasa remuk redam. Jauh di dalam benaknya, raja tersebut berteriak. Ia meratapi kematian anaknya yang begitu kejam.
“Garashea… Aku tidak suka dengan mata sedih yang kau tunjukkan. Di mana mata yang berisi kehormatan itu ? Di mana mata penuh keberanian yang pernah menantang kekuatanku itu ?!” Northradez berdiri di samping tubuh raja.
Raja Garashea memejamkan matanya. Kenangan membawanya ke masa lalu. Saat penuh bahagia itu terbayang kembali. Ketika ia dan istrinya menimang Ferashea yang baru saja dilahirkan. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan bayi mungil itu tumbuh sebagai ksatria muda.
Istriku…hari ini anak kita telah mati sesuai cita-citanya. Ia meninggalkan dunia fana ini, sebagai seorang ksatria yang membela negerinya. Sebuah senyum kecil terbentuk di wajah raja. Ia membuka matanya dan menatap Northradez dengan pandangan menantang.
“Nah ! Itulah mata seseorang yang pantas menjadi musuhku. Aku menyukai tatapan itu ! Tapi sayang. Riwayatmu berakhir hari ini, Garashea !” Northradez menghempaskan kakinya ke arah kepala Raja Garashea dan…
…tanggal 13 bulan 13 tahun 130 penanggalan Elrad, bangsa iblis mengibarkan bendera kekuasaannya di seluruh penjuru dunia.
Keempat raja iblis memimpin pasukan besarnya dan menyudahi perlawanan bangsa manusia dan peri.
Di Teshea, Northradez beserta Eastradez menenggelamkan pasukan manusia, yang dipimpin oleh Raja Garashea, ke dalam lautan kematian. Di tempat yang lain, pada saat yang sama, Southradez dan Westradez menunjukkan kedigdayaan iblis pada bangsa peri.
Dunia jatuh dalam kekejaman bangsa iblis. Manusia dan peri yang masih bertahan harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Kebebasan seperti terenggut begitu saja. Kemerdekaan hanyalah setitik harapan yang begitu sulit diraih.
Namun, harapan yang begitu kecil tersebut adalah awal dari segalanya. Tak ada yang tak mungkin dari sebuah harapan. Harapan bukanlah sesuatu yang mustahil. Harapan adalah kenyataan. Dan waktu yang akan membuktikannya…
Seorang perempuan mengenakan kerudung putih berjalan di atas sebuah tebing yang sangat tinggi. Sesekali angin menyibak kerudungnya, memperlihatkan wajah cantiknya yang seolah bercahaya.
Tepat di puncak tebing itu, ia berhenti. Hamparan alam nan luas terbentang di bawahnya. Rasanya seperti melihat seluruh dunia. Perempuan itu mendongakkan kepalanya pada awan putih yang begitu dekat di atasnya.
“Kenapa kau membawa wajah kesedihan itu, Virgo ?” terdengar suara menggelegar dari kumpulan awan putih itu. Sepertinya berbicara dengan sang perempuan.
“Kumohon, Sagittarius…jangan lakukan hal itu,” ucap perempuan yang bernama Virgo tersebut.
Dengan perlahan, pemilik suara tadi menunjukkan dirinya. Ia berjalan dengan perlahan, menembus gumpalan awan putih yang menutupinya.
Sosok yang dipanggil Sagittarius tersebut memiliki wujud centaur. Wajahnya rata, tanpa mata, hidung, maupun mulut. Rambutnya yang panjang terbentuk dari kobaran api. Tubuhnya terlilit rantai yang menarik suatu benda besar di belakangnya.
Benda tersebut ternyata sebuah kapal perang, dengan sepasang sayap burung berukuran raksasa yang mencuat dari sisi kanan dan kiri lambungnya. Berkibas dengan anggun untuk menjaganya agar tetap melayang di langit.
“Semuanya sudah diputuskan, Virgo. Kapal perangku, Archellium, akan membersihkan segala kebusukan yang mengotori Elrad.”
Virgo berlutut dan menundukkan kepalanya. “Kumohon, Sagittarius. Engkau adalah pemimpin para Zodian. Engkau mampu melakukan segalanya. Kumohon…berilah kesempatan pada kehidupan itu.”
“Virgo, kau masih percaya dengan pemikiran itu ? Tak tahukah kau bagaimana iblis telah merusak wajah Elrad ? Tak takutkah kau bila mereka akhirnya menodai Tanah Zodian ini pula?” kata Sagittarius dengan nada tinggi.
“Tapi, bukankah kita tidak berhak mencampuri kehidupan ? Bukankah kita, sebagai Zodian, tercipta untuk membimbing kelahiran dan kematian ?” tukas Virgo.
“Kau salah, Virgo. Aku tak pernah bermaksud mencampuri kehidupan. Apa yang akan kulakukan pada saat Final Eclipse terjadi, saat di mana Archellium turun ke dunia, adalah bagian dari tugas kita sebagai Zodian. Kematian adalah hukuman yang pantas bagi jiwa-jiwa kegelapan yang disebut iblis itu.”
“Tidak semua iblis !” teriak Virgo. “Tidak semua iblis hidup dengan kejahatan dalam hatinya !”
“Mustahil !” jawab Sagittarius.
Air mata Virgo terus membanjir. “Kumohon, Sagittarius. Aku rela mempertaruhkan apa pun. Lagipula…Final Eclipse tidak hanya akan memusnahkan para iblis. Tapi juga seluruh bentuk kehidupan di Elrad. Apakah itu yang kau inginkan ? Apakah kau akan membiarkan makhluk tak bersalah lainnya menjadi korban ? Kita tidak diciptakan untuk itu, Sagittarius…,” ucapan Virgo terdengar makin lirih.
Sagittarius terdiam. Ia merenungi setiap perkataan Virgo. “Baiklah. Jika itu yang kau inginkan, mari kita bertaruh.”
Virgo tertegun. Harapan terlihat di matanya.
“Kau tadi mengatakan bahwa tidak semua iblis itu jahat. Aku menginginkan buktinya. Dan waktu yang tersedia adalah…seratus musim,” kata Sagittarius.
“Seratus musim ? Kau bersungguh-sungguh, Sagittarius ?” tanya Virgo.
“Tentu. Bila ternyata pendapatmu benar, Final Eclipse takkan pernah terjadi. Tapi jika kau salah, maka…”
Puncak tebing itu menjadi saksi bisu. Pertaruhan telah dimulai antara kedua Zodian tertinggi tersebut. Pertaruhan yang akan menentukan nasib dunia ini…Elrad.